PROFESI-UNM.COM — Bulan Ramadan membawa perubahan pada pola aktivitas dan pengeluaran mahasiswa. Kebutuhan sahur, berbuka puasa, serta kegiatan sosial keagamaan sering kali meningkatkan pengeluaran dibanding bulan lainnya. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa untuk lebih cermat dalam mengelola keuangan agar tetap stabil hingga akhir bulan.
Perencanaan anggaran menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan konsumsi dan kewajiban akademik. Mahasiswa perlu menyusun daftar prioritas pengeluaran agar tidak terjadi pemborosan. Dengan perencanaan yang terstruktur, pengeluaran selama Ramadan dapat lebih terkendali.
Selama Ramadan, mahasiswa umumnya membagi anggaran ke dalam beberapa kategori, seperti kebutuhan pokok, konsumsi harian, dan alokasi sedekah. Pencatatan pemasukan serta pengeluaran menjadi metode sederhana yang banyak diterapkan untuk memantau kondisi keuangan. Cara ini membantu mahasiswa mengetahui batas pengeluaran harian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagian mahasiswa juga memilih memasak sendiri di tempat tinggal guna menekan biaya berbuka dan sahur. Langkah tersebut dinilai lebih hemat dibanding membeli makanan setiap hari. Selain itu, kebiasaan ini melatih kemandirian dalam mengatur kebutuhan konsumsi.
Ramadan turut dimanfaatkan sebagai momentum meningkatkan kemandirian finansial. Beberapa mahasiswa mencoba peluang usaha kecil seperti penjualan takjil atau makanan ringan untuk menambah pemasukan. Aktivitas tersebut tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga melatih jiwa kewirausahaan.
Melalui pengaturan keuangan yang disiplin, Ramadan menjadi sarana pembelajaran tentang tanggung jawab dan pengendalian diri. Mahasiswa belajar menyeimbangkan kebutuhan spiritual dan finansial secara bersamaan. Kebiasaan mengelola anggaran selama bulan suci diharapkan dapat diterapkan secara konsisten pada bulan-bulan berikutnya. (*)
*Reporter: Ade Kurniawan







