PROFESI-UNM.COM — Bulan Ramadan membawa perubahan pada pola aktivitas harian mahasiswa, mulai dari jadwal tidur, waktu makan, hingga penyesuaian kegiatan akademik.
Perubahan tersebut dapat memengaruhi kondisi fisik maupun psikologis, terutama di tengah tuntutan perkuliahan dan organisasi. Oleh karena itu, perhatian terhadap kesehatan mental mahasiswa selama menjalankan ibadah puasa menjadi hal yang penting.
Menurut para ahli kesehatan, perubahan pola tidur selama Ramadan dapat memengaruhi konsentrasi, suasana hati, serta tingkat energi seseorang. Kurangnya waktu istirahat berpotensi menurunkan fokus dan produktivitas, khususnya bagi mahasiswa yang memiliki jadwal perkuliahan padat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Psikolog menyebutkan bahwa pengaturan waktu belajar dan istirahat yang seimbang dapat membantu menjaga kestabilan mental selama menjalankan ibadah puasa. Selain itu, menjaga rutinitas yang teratur juga dapat membantu tubuh dan pikiran beradaptasi dengan perubahan aktivitas.
Selain tantangan akademik, Ramadan juga dapat menjadi momentum refleksi diri bagi mahasiswa. Aktivitas ibadah, seperti salat dan membaca Al-Qur’an, menurut psikolog, dapat membantu meningkatkan ketenangan batin dan mengurangi tingkat stres.
Para ahli juga menjelaskan bahwa interaksi sosial, seperti berbuka puasa bersama teman, dapat memberikan dukungan emosional yang positif. Dukungan sosial diketahui berperan penting dalam menjaga kesehatan mental, terutama di tengah tekanan akademik.
Namun, sebagian mahasiswa dapat mengalami tekanan tambahan akibat tugas kuliah, tenggat waktu, maupun tanggung jawab organisasi. Dokter menyarankan mahasiswa untuk menjaga pola tidur, pola makan, serta kebutuhan cairan agar kondisi fisik dan mental tetap stabil selama Ramadan.
Psikolog juga menyarankan mahasiswa untuk menerapkan manajemen waktu yang baik, mengenali batas kemampuan diri, serta tidak ragu untuk beristirahat ketika merasa lelah.
Secara umum, Ramadan dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan mental mahasiswa apabila dijalani dengan pola hidup yang teratur dan dukungan lingkungan kampus yang kondusif. Keseimbangan antara ibadah, akademik, dan istirahat menjadi kunci dalam menjaga kesejahteraan mental selama bulan puasa. (*)
*Reporter : Ade Kurniawan.







