PROFESI-UNM.COM – Perayaan Idul Adha tidak hanya menjadi momentum ibadah bagi umat Muslim. Akan tetapi, juga memperkuat nilai gotong royong dan kebersamaan di tengah masyarakat. Tradisi tersebut terlihat dalam proses penyembelihan hingga pembagian daging kurban yang warga lakukan bersama-sama.
Sejak pagi hari setelah pelaksanaan salat Id, masyarakat mulai berkumpul di masjid maupun lokasi penyembelihan hewan kurban. Warga saling membantu dalam proses penimbangan, pemotongan, hingga pendistribusian daging kurban kepada penerima.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk kebersamaan yang masih terjaga dalam perayaan Idul Adha. Tidak sedikit masyarakat yang secara sukarela terlibat sebagai panitia kurban tanpa menerima imbalan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, pembagian daging kurban juga mampu mempererat hubungan sosial antarwarga. Daging kurban dibagikan secara merata kepada masyarakat, terutama warga kurang mampu dan lingkungan sekitar.
Pada sejumlah daerah, tradisi Idul Adha juga ramai dengan kegiatan makan bersama dan silaturahmi keluarga. Momentum tersebut masyarakat manfaatkan untuk memperkuat hubungan kekeluargaan setelah rangkaian ibadah selesai umat muslim laksanakan.
Perayaan Idul Adha berawal dari kisah Nabi Ibrahim yang menunjukkan ketaatan kepada Allah dengan kesediaannya mengorbankan Nabi Ismail. Kisah tersebut kemudian menjadi simbol keikhlasan dan pengorbanan dalam ajaran Islam.
Melalui semangat gotong royong dan berbagi, Idul Adha menjadi salah satu perayaan keagamaan yang tidak hanya memiliki nilai spiritual. Akan tetapi, juga memperkuat solidaritas sosial dalam kehidupan masyarakat. (*)
*Reporter: Muhammad Fauzan Akbar







