PROFESI-UNM.COM – Himpunan Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan mengadakan Seminar Keberagaman dengan tema” Merajut Kebangsaan yang inklusif: Dialog lintas Iman, Budaya, dan Gender Masa Depan” yang bertempat di Gedung Hall A.P Pettarani ,pada Kamis (30/4).
Salah satu pemateri dalam kegiatan, Lusia Palulungan juga berprofesi sebagai advokat dan bantuan hukum gender struktural mengungkapkan perumpaan kesetaraan gender bisa dijelaskan dengan perbedaan penggunaan fasilitas seperti kamar kecil oleh laki laki dan perempuan.
“Laki laki tidak datang bulan. Jadi ketika dia menggunakan toilet, dia tidak perlu air yang banyak. Gitu ya. Belum lagi soal air bersih. Kalau tersedia air sedikit di toilet laki laki, itu memungkinkan kalau mereka buang air kecil. Tapi kalau sedikit air di toilet perempuan, bermasalah atau tidak buat perempuan? Pasti bermasalah” ungkapnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih lanjut ia menegaskan mengenai pentingnya kesetaraan gender dengan keterwakilan perempuan dengan menkampanyekannya sekaligus menjadi usaha dalam menghilangkan berbagai bentuk perlakuan tidak adil terhadap perempuan termasuk serangan dan penindasan.
“Kalau kita dengar ada keterwakilan perempuan 30%, maka itu bagian dari cara untuk mewujudkan kesetaraan gender itu. Berikutnya, nah ini adalah langkah promosi untuk kesetaraan gender. Yang pertama adalah berupaya menghapuskan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan dan anak perempuan, termasuk kekerasan dan eksploitasi.” tegasnya.
Terakhir, ia menyampaikan mengenai GESI yang berarti Gender Equality and Social Inclusion yaitu berupa pemahaman kesetaraan gender yang meliputi pengakuan keberagaman karakter individu.
“Dalam perspektif GESI, kita mengenal yang namanya interseksionalitas. Bahwa interseksionalitas ini adalah kompleksitas beragam identitas dan pengaruhnya terhadap pengalaman hidup seseorang” tutupnya. (*)
*Reporter: Muhammad Syarief







