PROFESI-UNM.COM – Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema “Pendekatan Disiplin Positif dalam Pengasuhan Anak” bagi komunitas tuli berlangsung di Masjid Rahmatul Ilham, Minggu (8/3/2026). Sekitar 200 peserta teman tuli mengikuti kegiatan ini serta kurang lebih 30 orang tua.
Pembukaan acara secara resmi oleh perwakilan Wali Kota Makassar, A. Irwan Bangsawan. Kegiatan ini juga menghadirkan Tri Sugiarti sebagai narasumber utama yang menyampaikan materi mengenai pentingnya penerapan disiplin positif dalam proses pengasuhan anak.
Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa pola pengasuhan sebaiknya mengedepankan pendekatan yang humanis dan komunikatif. Selain itu, menghindari penggunaan kekerasan dalam mendidik anak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pola pengasuhan sebaiknya menggunakan pendekatan humanis dan komunikatif, serta menghindari penggunaan kekerasan dalam mendidik anak,” ujarnya.
Kegiatan tersebut terselenggara melalui kerja sama dengan Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia Sulawesi Selatan yang selama ini aktif memperjuangkan hak serta pemberdayaan masyarakat tuli. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperluas akses edukasi bagi komunitas tuli, khususnya dalam bidang pengasuhan keluarga.
200 Peserta Komunitas Tuli Ikuti Edukasi Disiplin Positif
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini juga melibatkan dua mahasiswa dari Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar. Kedua mahasiswa tersebut turut membantu jalannya kegiatan sekaligus mendukung proses edukasi kepada para peserta.
Agar seluruh peserta dapat mengakses materi, panitia menghadirkan juru bahasa isyarat selama kegiatan berlangsung. Selain itu, narasumber juga menggunakan bahan tayang visual yang agar lebih mudah dipahami oleh komunitas tuli.
Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Beberapa peserta berbagi pengalaman mengenai pola pengasuhan yang pernah mereka alami, termasuk perlakuan seperti bentakan, cubitan, maupun larangan tanpa penjelasan dari orang tua.
Salah seorang peserta mengungkapkan bahwa ia pernah mengalami pengalaman serupa pada masa kecilnya. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mampu menunjukkan kemandirian melalui prestasi sebagai model tuli yang menghasilkan berbagai karya. Perubahan tersebut membuat orang tuanya kini lebih menghargai kemampuannya, bahkan meminta maaf atas perlakuan yang pernah ia alami.
Sementara itu, salah satu perwakilan penyelenggara menyampaikan bahwa harapan akan kegiatan ini dapat memberikan pemahaman baru bagi komunitas tuli mengenai pola pengasuhan yang lebih positif.
“Kami berharap kegiatan ini dapat membuka ruang edukasi yang lebih inklusif bagi komunitas tuli, khususnya dalam memahami praktik pengasuhan yang sehat. Selain itu, membangun hubungan keluarga yang lebih harmonis,” ujarnya.(*)
*Reporter: Rahmadani







