PROFESI-UNM.COM — Literasi menjadi fondasi bagi mahasiswa yang kritis, adaptif, dan berdaya saing. Di Universitas Negeri Makassar, upaya peningkatan literasi melibatkan institusi dan seluruh mahasiswa. Literasi mencakup kemampuan membaca, menulis, literasi digital, informasi, serta berpikir kritis terhadap berbagai isu.
Langkah pertama, mahasiswa perlu membangun kebiasaan membaca secara rutin. Kampus dapat memaksimalkan perpustakaan sebagai ruang nyaman dan ramah diskusi. Selain itu, pojok baca di fakultas atau sekretariat organisasi membantu mendekatkan buku dengan mahasiswa. Akses terhadap jurnal ilmiah dan e-book juga harus dimanfaatkan untuk membiasakan mahasiswa mencari referensi kredibel.
Selain itu, organisasi kemahasiswaan memegang peran strategis dalam menggerakkan budaya membaca. Kegiatan seperti bedah buku, diskusi publik, pelatihan kepenulisan, dan lomba karya tulis ilmiah menjadi wadah pembinaan. Lembaga pers mahasiswa, seperti LPM Profesi UNM, mendorong minat baca dan tulis melalui produksi berita, opini, serta feature isu-isu kampus.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Keterlibatan mahasiswa dalam produksi tulisan membuat mereka aktif membaca, meneliti, dan memverifikasi informasi. Penggunaan teknologi juga membantu. Mahasiswa dapat memanfaatkan platform digital untuk mengakses sumber belajar, mengikuti webinar, dan bergabung komunitas baca daring. Literasi digital harus diimbangi kemampuan menyaring informasi agar tidak mudah terpengaruh hoaks.
Selain itu, dosen mendorong mahasiswa membaca referensi tambahan di luar materi kuliah. Penugasan berbasis riset dan analisis melatih mahasiswa mencari, memahami, dan mengolah informasi secara mendalam.
Dengan kolaborasi antara kampus, organisasi, dan mahasiswa, budaya membaca dapat tumbuh berkelanjutan. Literasi bukan sekadar jumlah buku yang dibaca, tetapi kemampuan memahami, menganalisis, dan mengimplementasikan pengetahuan dalam kehidupan akademik maupun sosial.(*)
Reporter: Rahmadani






