PROFESI-UNM COM – Momentum pergantian kepemimpinan dalam sebuah organisasi sering kali memicu persaingan ketat antar-kader potensial. Namun, menjadi seorang ketua umum bukan sekadar tentang memenangkan kontestasi suara, melainkan bagaimana seorang kader memantaskan kapasitas dirinya sebelum resmi memimpin.
Langkah pertama dan paling mendasar dalam memantaskan diri adalah memperkuat kredibilitas serta rekam jejak (track record) kerja. Calon ketua wajib membuktikan konsistensi dan tanggung jawabnya pada tugas kecil sebelum melangkah ke tanggung jawab yang lebih besar.
Aspek kedua adalah penguasaan komunikasi interpersonal dan kemampuan manajemen konflik. Sebagai calon nakhoda, harus mampu menjadi jembatan penengah di antara berbagaisudut pandang yang berbeda dalam internal organisasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah ketiga adalah merumuskan visi-misi yang realistis, taktis, dan aplikatif, bukan sekadar janji manis yang utopis. Calon pemimpin yang matang akan melakukan riset mendalam mengenai kebutuhan organisasi saat ini agar program kerja nantinya tepat sasaran.
Selain visi yang jelas, langkah selanjutnya membangun jejaring (networking) yang luas baik di dalam maupun di luar organisasi. Relasi yang kuat akan memudahkan kolaborasi taktis dan mempercepat pencapaian target-target besar organisasi selama satu periode kepengurusan ke depan.
Terakhir, calon ketua umum harus menanamkan mentalitas melayani (servant leadership) ketimbang mentalitas ingin mendapatkan layanan atau sekadar memburu prestise jabatan. Pemimpin yang memantaskan diri akan fokus pada proses kaderisasi dan mempersiapkan regenerasi yang sehat demi keberlangsungan jangka panjang organisasi.
Melalui persiapan yang matang dan pemenuhan kelima aspek tersebut, seorang kader tidak hanya akan siap memenangkan pemilihan. Lebih dari itu, ia akan tumbuh menjadi sosok ketua umum yang memiliki legitimasi kuat serta disegani oleh seluruh anggota yang dipimpinnya. (*)
*Reporter: Florencya Alnisa Chriatin







