[OPINI] Menyiasati Pembagian Waktu antara Kuliah dan Organisasi: Bisakah IPK Tetap Aman?

Avatar photo

- Redaksi

Jumat, 19 Desember 2025 - 19:43 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Nurpaiza, (Foto : Ist.)

Potret Nurpaiza, (Foto : Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Di lingkungan kampus, IPK kerap diposisikan sebagai penanda utama keberhasilan mahasiswa. Angka di transkrip seolah menjadi bukti sah kecerdasan, kedisiplinan, dan masa depan akademik seseorang. Namun, realitas kehidupan mahasiswa tidak sesederhana itu. Banyak dari kami yang memilih atau dipilih oleh keadaan untuk aktif berorganisasi. Di titik inilah dilema muncul ketika waktu terbagi, apakah prestasi akademik harus menjadi korban?

Saya meyakini bahwa persoalannya bukan pada banyaknya aktivitas, melainkan pada kesadaran mengelola diri. Organisasi sering dituduh sebagai biang keladi turunnya IPK, padahal yang kerap luput disorot adalah lemahnya manajemen waktu dan ketidakmampuan menentukan prioritas. Organisasi hanya “memperjelas” kebiasaan kita yang teratur akan semakin tertantang untuk rapi, yang lalai akan semakin terlihat kewalahan.

Aktif berorganisasi justru memaksa saya belajar disiplin dalam arti yang sesungguhnya. Waktu yang terbatas menuntut setiap keputusan dibuat secara sadar.kapan belajar, kapan rapat, dan kapan harus berhenti. Di sinilah letak paradoksnya mahasiswa yang aktif sering kali justru lebih terlatih mengatur waktu dibanding mereka yang hanya berfokus pada kuliah, tetapi tanpa target dan ritme yang jelas.

IPK yang aman tidak lahir dari menghindari kesibukan, melainkan dari kemampuan membaca skala prioritas. Tidak semua agenda organisasi harus diambil, tidak semua peran harus dipegang. Ada kebijaksanaan dalam memilih, dan ada kedewasaan dalam menolak. Ketika akademik berada pada fase krusial ujian, tugas akhir, atau presentasi penting maka organisasi seharusnya menjadi ruang yang memahami, bukan menekan.

Baca Juga Berita :  Militerisasi Kebijakan di Era Sipil dan Krisis Transparansi dalam Manuver Politik Sjafrie Sjamsoeddin

Lebih dari itu, organisasi sejatinya bukan penghalang prestasi akademik, melainkan pelengkap proses pendidikan. Di sana saya belajar kepemimpinan, komunikasi, dan tanggung jawab nilai-nilai yang tidak diukur dengan IPK, tetapi sangat menentukan kualitas lulusan. Kampus idealnya tidak hanya mencetak mahasiswa ber-IPK tinggi, tetapi juga individu yang matang secara karakter dan sosial.

Maka, pertanyaannya bukan lagi “bisakah IPK tetap aman?”, melainkan “sejauh mana kita siap bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri?”. Kuliah dan organisasi adalah dua ruang belajar yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Ketika dijalani dengan kesadaran, keduanya tidak saling meniadakan justru saling menguatkan. Dan di situlah mahasiswa benar-benar tumbuh bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh dalam mengelola kehidupan.

*Penulis : Nurpaiza

Berita Terkait

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 
[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi
[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis
[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.
[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan
[OPINI] Saat Pendidikan Kehilangan Mata Air Kemanusiaan: Sekolah yang Sibuk Mengukur, Tapi Lupa untuk Memeluk.
[ OPINI ] Ketika Pengabdian Guru Dijadikan Alasan untuk Membiarkan Ketidakadilan
[OPINI] Metafora Analitis Hukum Newton III dan Psikologi Kebijakan: Setiap Aksi Negara Melahirkan Reaksi Manusia
Berita ini 88 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:05 WITA

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:25 WITA

[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi

Senin, 8 Juni 2026 - 20:27 WITA

[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis

Jumat, 5 Juni 2026 - 00:32 WITA

[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.

Kamis, 4 Juni 2026 - 09:12 WITA

[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan

Berita Terbaru

Momen Kebersamaan Tenaga Kependidikan FT UNM, (Foto: Ist.)

Fakultas Teknik

Outbound FT Perkuat Kapasitas dan Kolaborasi Tenaga Kependidikan

Selasa, 30 Jun 2026 - 10:56 WITA

Flyer Pemilihan Duta Kampus 2026 Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar, (Foto: Int.)

Fakultas Psikologi

Pemilihan Duta Kampus Fakultas Psikologi 2026 Dibuka untuk Mahasiswa

Minggu, 28 Jun 2026 - 23:07 WITA

Potret Penyerahan Hadiah Juara Kepada Tim Lokalabs, (Foto: Ist.)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Raih Juara 1, Tim Lokalabs Sebut Penentuan Konsep Jadi Tantangan Awal APBISDI 2026

Minggu, 28 Jun 2026 - 23:00 WITA

Pamflet Pendaftaran Olympic Of Statistics 2026, (Foto: Ist.)

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Pendaftaran Gelombang II Olympic of Statistics 2026 Resmi Dibuka

Minggu, 28 Jun 2026 - 22:48 WITA

Pengumuman Pemenang Juara 1 Kategori UI/UX Design Ajang APBISDI 2026, (Foto: Ist)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Tim Lokalabs Prodi Bisnis Digital Raih Juara 1 UI/UX Design APBISDI 2026

Sabtu, 27 Jun 2026 - 23:13 WITA