PROFESI-UNM.COM – Siapa yang tidak terkesima ketika pertama kali menatap gedung Pinisi UNM? Arsitektur bangunannya secara konotatif memberikan kesiapan mahasiswa untuk mengarungi lautan ilmu tanpa menegasikan identitas budaya. Begitulah, ketika saya pertama kali menatapnya. Namun, setelah saya naik ke geladak dan menjalaninya selama enam semester, yang terjadi justru sebaliknya. Banyak keropos pada lambung dan kekacauan di ruang kemudi; berbagai persoalan pelik tidak semegah bentangan layarnya jika melihat dari daratan.
Pendangkalan Intelektual
Berbagai persoalan pelik itu tergambarkan dalam istilah yang saya pinjam dari judul pidato pengukuhan guru besar Almarhum Andi Agustang, tahun 2013, yaitu “pendangkalan intelektual”. Pendangkalan intelektual merupakan kondisi mempersempit saat ruang berpikir kritis, diskursus akademik, dan pengembangan kapasitas kognitif sehingga insan akademik tidak lagi tumbuh sebagai pemikir, melainkan sekadar subjek yang patuh.
Keropos pertama terasa ketika aktivitas kemahasiswaan pada malam hari dibatasi. Malam bagi mahasiswa bukan waktu istirahat semata, melainkan ruang konsolidasi tempat gagasan dirancang dan nalar kolektif dilatih. Ketika kebijakan menutup pintu kampus, yang tertutup bukan hanya akses fisik, tetapi juga proses pembentukan pikiran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kekacauan di ruang kemudi terasa ketika birokrasi menolak melantik pengurus BEM dan Maperwa FIS-H UNM tanpa dasar aturan yang tegas. Ini bukan sekadar urusan administrasi, melainkan pengerdilan legitimasi suara mahasiswa secara struktural. Energi yang semestinya untuk kajian dan advokasi habis tersedot dalam labirin ketidakpastian yang mengambang begitu saja.
Yang paling mengkhawatirkan adalah menormalisasi kehadiran institusi militer di ruang akademik. Kampus bukan barak, dan mahasiswa bukan prajurit yang perlu pengawasan. Yang tercipta bukan keamanan, melainkan chilling effect, sebuah pembekuan intelektual yakni mahasiswa menyensor dirinya karena rasa takut sudah cukup bekerja tanpa larangan tertulis sekalipun.
Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM
Ketidakadilan Struktural
Persoalan lain yakni menyentuh hal paling mendasar: tuntutan dari mahasiswa tidak sebanding dengan yang institusi berikan.
Kegiatan ramah tamah, yang seharusnya menjadi ruang perkenalan yang hangat, berubah menjadi kewajiban finansial. Ketika ia menjadi syarat kelulusan dengan skema pembayaran, yang terjadi bukan lagi penyambutan, melainkan penyaringan berbasis kemampuan ekonomi. Mahasiswa yang datang dengan keterbatasan tidak mendapatkan sambutan dengan kesempatan yang sama, tetapi langsung pada beban yang belum semestinya mereka tanggung.
Di saat yang sama, institusi yang menuntut itu justru belum mampu memenuhi kebutuhan paling dasar sekalipun. Ruang kelas yang kurang layak, pendingin ruangan yang tidak berfungsi, hingga gedung seperti BU yang terbengkalai adalah cermin dari ketidakseriusan dalam menopang proses akademik. Mahasiswa berlayar dengan sungguh-sungguh, sementara geladak tempat mereka berpijak lapuk tanpa pembenahan.
Citra Mendahului Realitas
Dua persoalan di atas, pendangkalan intelektual dan ketidakadilan struktural, tidak hadir secara terpisah. Keduanya tumbuh di bawah naungan satu kondisi yang lebih dalam: institusi yang lebih sibuk merawat citra daripada memperbaiki isinya.
Inilah simulacrum, ketika citra tampil lebih nyata dari kenyataan itu sendiri. Gedung Pinisi berdiri bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai tanda, sebuah pesan jauh sebelum mahasiswa menginjakkan kaki di dalamnya. Setiap tahun, calon mahasiswa terpanggil melalui kemegahan citra itu, dan hampir semua tergoda untuk percaya.
Sayangnya, inilah yang dalam psikoanalisis Lacan misrekognisi, kesalahan dalam mengenali realitas alias tertipu. Mahasiswa datang dengan gambaran oleh citra yang terbentuk, bukan oleh kenyataan di baliknya. Dan ketika keduanya akhirnya berbenturan, yang tersisa adalah kekecewaan yang tidak tahu harus dikemanakan.
Selama institusi lebih sibuk merawat tampilan daripada memperbaiki isi, kapal ini akan terus memanggil penumpang baru dengan janji-janji pelayaran yang agung, sementara di dalam lambungnya, keropos itu terus melebar dalam diam. (*)
*Penulis: Roland Otto Rotasouw







