[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM

Avatar photo

- Redaksi

Sabtu, 25 April 2026 - 11:39 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Roland Otto Rotasouw, (Foto: Ist).

Potret Roland Otto Rotasouw, (Foto: Ist).

PROFESI-UNM.COM – Siapa yang tidak terkesima ketika pertama kali menatap gedung Pinisi UNM? Arsitektur bangunannya secara konotatif memberikan kesiapan mahasiswa untuk mengarungi lautan ilmu tanpa menegasikan identitas budaya. Begitulah, ketika saya pertama kali menatapnya. Namun, setelah saya naik ke geladak dan menjalaninya selama enam semester, yang terjadi justru sebaliknya. Banyak keropos pada lambung dan kekacauan di ruang kemudi; berbagai persoalan pelik tidak semegah bentangan layarnya jika melihat dari daratan.

Pendangkalan Intelektual
Berbagai persoalan pelik itu tergambarkan dalam istilah yang saya pinjam dari judul pidato pengukuhan guru besar Almarhum Andi Agustang, tahun 2013, yaitu “pendangkalan intelektual”. Pendangkalan intelektual merupakan kondisi mempersempit saat ruang berpikir kritis, diskursus akademik, dan pengembangan kapasitas kognitif sehingga insan akademik tidak lagi tumbuh sebagai pemikir, melainkan sekadar subjek yang patuh.

Keropos pertama terasa ketika aktivitas kemahasiswaan pada malam hari dibatasi. Malam bagi mahasiswa bukan waktu istirahat semata, melainkan ruang konsolidasi tempat gagasan dirancang dan nalar kolektif dilatih. Ketika kebijakan menutup pintu kampus, yang tertutup bukan hanya akses fisik, tetapi juga proses pembentukan pikiran.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kekacauan di ruang kemudi terasa ketika birokrasi menolak melantik pengurus BEM dan Maperwa FIS-H UNM tanpa dasar aturan yang tegas. Ini bukan sekadar urusan administrasi, melainkan pengerdilan legitimasi suara mahasiswa secara struktural. Energi yang semestinya untuk kajian dan advokasi habis tersedot dalam labirin ketidakpastian yang mengambang begitu saja.

Baca Juga Berita :  Ini Kata Arismunandar Soal Kontroversi Full Day School

Yang paling mengkhawatirkan adalah menormalisasi kehadiran institusi militer di ruang akademik. Kampus bukan barak, dan mahasiswa bukan prajurit yang perlu pengawasan. Yang tercipta bukan keamanan, melainkan chilling effect, sebuah pembekuan intelektual yakni mahasiswa menyensor dirinya karena rasa takut sudah cukup bekerja tanpa larangan tertulis sekalipun.

Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM

Ketidakadilan Struktural
Persoalan lain yakni menyentuh hal paling mendasar: tuntutan dari mahasiswa tidak sebanding dengan  yang institusi berikan.

Kegiatan ramah tamah, yang seharusnya menjadi ruang perkenalan yang hangat, berubah menjadi kewajiban finansial. Ketika ia menjadi syarat kelulusan dengan skema pembayaran, yang terjadi bukan lagi penyambutan, melainkan penyaringan berbasis kemampuan ekonomi. Mahasiswa yang datang dengan keterbatasan tidak mendapatkan sambutan dengan kesempatan yang sama, tetapi langsung pada beban yang belum semestinya mereka tanggung.
Di saat yang sama, institusi yang menuntut itu justru belum mampu memenuhi kebutuhan paling dasar sekalipun. Ruang kelas yang kurang layak, pendingin ruangan yang tidak berfungsi, hingga gedung seperti BU yang terbengkalai adalah cermin dari ketidakseriusan dalam menopang proses akademik. Mahasiswa berlayar dengan sungguh-sungguh, sementara geladak tempat mereka berpijak lapuk tanpa pembenahan.

Baca Juga Berita :  Ungguli UGM, UNM Jadi Kampus dengan Praktisi Mengajar Terbanyak se-Indonesia

Citra Mendahului Realitas
Dua persoalan di atas, pendangkalan intelektual dan ketidakadilan struktural, tidak hadir secara terpisah. Keduanya tumbuh di bawah naungan satu kondisi yang lebih dalam: institusi yang lebih sibuk merawat citra daripada memperbaiki isinya.

Inilah simulacrum, ketika citra tampil lebih nyata dari kenyataan itu sendiri. Gedung Pinisi berdiri bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai tanda, sebuah pesan jauh sebelum mahasiswa menginjakkan kaki di dalamnya. Setiap tahun, calon mahasiswa terpanggil melalui kemegahan citra itu, dan hampir semua tergoda untuk percaya.

Sayangnya, inilah yang dalam psikoanalisis Lacan misrekognisi, kesalahan dalam mengenali realitas alias tertipu. Mahasiswa datang dengan gambaran oleh citra yang terbentuk, bukan oleh kenyataan di baliknya. Dan ketika keduanya akhirnya berbenturan, yang tersisa adalah kekecewaan yang tidak tahu harus  dikemanakan.

Selama institusi lebih sibuk merawat tampilan daripada memperbaiki isi, kapal ini akan terus memanggil penumpang baru dengan janji-janji pelayaran yang agung, sementara di dalam lambungnya, keropos itu terus melebar dalam diam. (*)

*Penulis: Roland Otto Rotasouw

Berita Terkait

[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa
[OPINI] Ancaman Tambang terhadap Ruang Hidup dan Kedaulatan Lahan Masyarakat Enrekang
Patriarki dalam Lembaga Kemahasiswaan UNM: Menggugat Ilusi Kesetaraan
[OPINI] Menara Pinisi di Bawah Bayang-Bayang Sepatu Laras
[OPINI] Perempuan dalam Cengkeraman Patriarki: Telaah Teologis Kritis atas Teks Alkitab
[OPINI] Pendidikan Layak: Hak Dasar yang Berubah Menjadi Barang yang Mewah
Quo Vadis Lembaga Kemahasiswaan : Masih Relevankah?
[OPINI] Ekoteologi Berkemajuan: Membumikan Ajaran Islam dan Kearifan Lokal Makassar untuk Kelestarian Alam

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 11:39 WITA

[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM

Jumat, 24 April 2026 - 01:30 WITA

[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa

Jumat, 17 April 2026 - 01:33 WITA

[OPINI] Ancaman Tambang terhadap Ruang Hidup dan Kedaulatan Lahan Masyarakat Enrekang

Selasa, 14 April 2026 - 16:08 WITA

Patriarki dalam Lembaga Kemahasiswaan UNM: Menggugat Ilusi Kesetaraan

Rabu, 1 April 2026 - 20:04 WITA

[OPINI] Menara Pinisi di Bawah Bayang-Bayang Sepatu Laras

Berita Terbaru

Potret Nurul Mitha Wisudawan  Terbaik FIP 2026, (Foto: Ist).

wisudawan terbaik

Wisudawan Terbaik FIP Ungkap Perjalanan dan Strategi Akademik

Sabtu, 25 Apr 2026 - 22:10 WITA

Foto Ilustrasi Seseorang Siap Beraktivitas di Pagi Hari, (Foto : AI)

Berita Wiki

Olah Hormon Stress di Pagi Hari Tingkatkan Produktifitas Diri

Sabtu, 25 Apr 2026 - 22:00 WITA