[OPINI] Darurat Kemanusiaan di Ruang Guru: Menggugat Eksploitasi Guru Honorer

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 10 Februari 2026 - 21:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Nurlaela Aliya, (Foto: Ist.)

Potret Nurlaela Aliya, (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Pendidikan Indonesia sedang mengidap penyakit kronis yang akut: amnesia nurani. Di saat para pejabat sibuk berpidato tentang “Indonesia Emas 2045” dan kemajuan teknologi AI di ruang kelas, ratusan ribu guru honorer dipaksa bertahan hidup dengan upah yang bahkan lebih rendah dari biaya pakan kuda pacu. Kita harus berhenti bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja. Ini bukan lagi soal pengabdian; ini adalah eksploitasi sistemik yang dilegalkan atas nama “tanda jasa”.

Sudahi Romantisasi Pengabdian
Sudah saatnya kita membuang narasi basi bahwa guru adalah “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Narasi ini telah menjadi senjata pemungkas bagi pemerintah untuk menormalisasi kemiskinan guru. Jangan lagi bungkus ketidakmampuan negara menyejahterakan pendidik dengan kata-kata manis tentang “pahala di akhirat”.

Faktanya, data Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) adalah tamparan keras: 74% guru honorer berpenghasilan di bawah Rp2 juta, dan seperlimanya hidup dengan Rp500 ribu per bulan. Angka ini adalah bentuk penghinaan. Di negeri di mana upah minimum buruh pabrik dijaga oleh undang-undang, mengapa upah “arsitek peradaban” dibiarkan terjun bebas di bawah standar kelayakan manusia?

Diskriminasi di Balik Meja Guru
Sistem pendidikan kita secara sadar telah menciptakan sistem kasta. Di sekolah-sekolah negeri, terjadi pemandangan yang memuakkan: seorang guru ASN dan guru honorer mengerjakan tugas yang identik, namun menerima apresiasi yang terpaut bumi dan langit. Guru ASN menikmati tunjangan dan kepastian masa tua, sementara rekan honorernya hanya bisa berharap pada belas kasihan dana BOS yang sering kali cair terlambat.

Ironisnya, guru honorer sering kali menjadi “buruh kasar” administratif di sekolah—mengerjakan tugas-tugas berat yang ditinggalkan rekan seniornya. Menuntut kualitas pendidikan kelas dunia dari guru yang perutnya keroncongan adalah bentuk kemunafikan nasional. Kita tidak bisa mengharapkan kreativitas lahir dari otak yang sedang menghitung cara melunasi utang pinjol untuk sekadar membeli beras.

Pendidikan yang Kehilangan Kompas Moral
Jika negara mampu membangun infrastruktur fisik bernilai triliunan rupiah, namun gagal memberi upah layak bagi pendidiknya, maka kompas moral bangsa ini telah rusak. Pendidikan bukan sekadar soal gedung megah atau kurikulum yang berganti nama setiap musim politik. Pendidikan adalah tentang interaksi manusiawi.

Baca Juga Berita :  [Opini] Potret SINA (Sabar dan Ikhlas Nabi Ayyub) : Kunci Istiqomah di Tengah Karantina

Kegagalan menyejahterakan guru honorer adalah bukti bahwa pemerintah hanya memandang pendidikan sebagai formalitas angka statistik, bukan investasi kemanusiaan. Kita sedang melakukan sabotase terhadap masa depan kita sendiri. Anak-anak didik kita sedang diajar oleh orang-orang yang hatinya terluka oleh ketidakadilan negaranya sendiri.

Jangan Bicara Masa Depan Jika Hari Ini Masih Menindas.Cukup sudah janji-janji manis di atas panggung kampanye. Jika pemerintah benar-benar serius dengan kualitas manusia Indonesia, langkah pertamanya bukan membeli tablet atau mengganti aplikasi pembelajaran, melainkan menyamakan derajat kesejahteraan guru.

Hapuskan kasta di ruang guru. Berikan upah minimum yang manusiawi bagi setiap orang yang berdiri di depan kelas, tanpa memandang status kepegawaiannya. Selama guru honorer masih dianggap sebagai “buruh murah” yang bisa dibayar dengan ucapan terima kasih, maka narasi Indonesia Maju hanyalah pesan kosong yang tidak punya harga diri. (*)

*Penulis: Nurlaela Aliya

Berita Terkait

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 
[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi
[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis
[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.
[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan
[OPINI] Saat Pendidikan Kehilangan Mata Air Kemanusiaan: Sekolah yang Sibuk Mengukur, Tapi Lupa untuk Memeluk.
[ OPINI ] Ketika Pengabdian Guru Dijadikan Alasan untuk Membiarkan Ketidakadilan
[OPINI] Metafora Analitis Hukum Newton III dan Psikologi Kebijakan: Setiap Aksi Negara Melahirkan Reaksi Manusia
Berita ini 112 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:05 WITA

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:25 WITA

[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi

Senin, 8 Juni 2026 - 20:27 WITA

[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis

Jumat, 5 Juni 2026 - 00:32 WITA

[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.

Kamis, 4 Juni 2026 - 09:12 WITA

[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan

Berita Terbaru

Salah satu mesin pameran Fakultas Teknik UNM, (Foto: Dok Profesi)

Fakultas Teknik

Usung Teknologi Tepat Guna, FT UNM Tampilkan Berbagai Karya Inovatif

Senin, 20 Jul 2026 - 22:48 WITA

Potret Stand Pameran Pendidikan FT di Dies Natalis ke-65 UNM, (Foto: Nur Hafizhah)

Fakultas Teknik

Inovasi Sepeda Listrik Energi Terbarukan di Stand Pameran Pendidikan FT

Senin, 20 Jul 2026 - 22:43 WITA

Foto Bersama Benny Subiantoro Bersama Pengelola Profesi, (Foto: Florencya Alnisa Christin).

Kilas Kampus

Menilik Biografi Sosok Legenda Pembuat Font Logo Profesi

Minggu, 19 Jul 2026 - 23:05 WITA