PROFESI-UNM.COM – Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. kembali hadir sebagai ruang refleksi dan pengingat bagi umat Islam di berbagai penjuru dunia. Di Indonesia, tradisi perayaan Maulid tidak hanya berlangsung di masjid-masjid, tetapi juga di ruang-ruang publik, kampus, hingga perkampungan. Momen ini sering dirayakan dengan zikir, pembacaan syair Barzanji, tausiah, hingga kegiatan sosial yang mengikat kebersamaan umat.
Lebih dari sekadar ritual, Maulid Nabi memiliki makna mendalam. Ia menjadi penanda sejarah lahirnya sosok yang membawa perubahan besar dalam peradaban manusia. Nabi Muhammad Saw. bukan hanya seorang pemimpin agama, melainkan juga reformis sosial yang menegakkan prinsip keadilan, kesetaraan, dan kasih sayang. Dalam konteks hari ini, meneladani akhlak Nabi menjadi tantangan tersendiri di tengah kondisi masyarakat yang semakin kompleks.
Universitas Negeri Makassar (UNM), misalnya, menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai wahana memperkuat nilai spiritual mahasiswa. Melalui kegiatan keagamaan yang digelar oleh lembaga intra maupun ekstra kampus, Maulid Nabi disajikan tidak sebatas seremonial, melainkan juga wadah diskusi tentang bagaimana ajaran Rasulullah relevan dengan kehidupan modern. Mahasiswa didorong untuk menafsirkan ulang keteladanan Nabi dalam menghadapi problematika kontemporer, mulai dari krisis moral, degradasi sosial, hingga tantangan digitalisasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tradisi Maulid di Indonesia sendiri memiliki kekhasan. Di beberapa daerah, seperti Sulawesi Selatan, perayaan dilakukan dengan “maudu lompoa” yang menghadirkan aneka makanan tradisional dalam bentuk perahu besar. Sementara di Jawa, masyarakat mengenalnya dengan sekaten atau perayaan sederhana di langgar dan masjid. Variasi budaya ini menunjukkan bahwa Maulid Nabi bukan hanya fenomena religius, tetapi juga budaya yang melekat pada identitas bangsa.
Namun, penting untuk menegaskan kembali bahwa esensi Maulid bukan pada kemeriahan perayaannya, melainkan pada penghayatan pesan yang dibawa. Rasulullah adalah figur yang mencontohkan kesabaran, kejujuran, dan kepedulian sosial. Beliau tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga etika dalam bermasyarakat. Hal inilah yang seharusnya menjadi fokus utama dalam setiap momentum peringatan Maulid.
Dalam perspektif jurnalisme kampus, Maulid Nabi juga dapat dibaca sebagai ruang kritik terhadap kondisi sosial hari ini. Umat dituntut tidak hanya larut dalam nostalgia sejarah, tetapi juga mampu menerjemahkan nilai profetik dalam realitas kekinian. Misalnya, ketika Nabi menekankan pentingnya amanah, maka relevansinya di era modern adalah bagaimana mahasiswa, dosen, maupun pejabat publik menjalankan tanggung jawab dengan penuh integritas. Begitu pula dengan prinsip ukhuwah yang diajarkan Nabi, ia dapat menjadi solusi di tengah fragmentasi sosial dan politik yang kerap memecah belah masyarakat.
Dengan demikian, Maulid Nabi tidak berhenti pada lantunan shalawat atau prosesi adat, tetapi harus bertransformasi menjadi gerakan moral. Momentum ini mengingatkan bahwa teladan Rasulullah adalah panduan abadi, bukan hanya untuk umat Islam, tetapi juga bagi seluruh umat manusia yang mendambakan peradaban berbasis keadilan dan kemanusiaan.
Maka, tugas generasi muda hari ini bukan sekadar memperingati, tetapi menghidupkan nilai-nilai profetik dalam keseharian. Meneladani Nabi berarti menegakkan kejujuran di tengah praktik curang, menebarkan kasih di tengah kebencian, dan menghadirkan keberanian moral dalam menghadapi ketidakadilan. Dengan begitu, Maulid Nabi Muhammad Saw. benar-benar menjadi momentum refleksi, bukan sekadar tradisi tahunan yang berlalu tanpa makna.(*)
*Reporter: Firmansyah







