PROFESI-UNM.COM – Pada bulan Ramadhan, umat Islam mengenal praktik i’tikaf yang umumnya pada sepuluh malam terakhir sebagai bagian dari peningkatan ibadah. Praktik berdiam diri di masjid ini penuh dengan berbagai aktivitas spiritual dan memiliki karakteristik kesederhanaan dalam pelaksanaannya.
I’tikaf berisi rangkaian ibadah seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa. Selama pelaksanaannya, jamaah i’tikaf membatasi aktivitas di luar kebutuhan ibadah serta mengurangi interaksi yang tidak perlu.
Salah satu ciri i’tikaf adalah kesederhanaan, di mana jamaah i’tikaf hanya membawa perlengkapan seperlunya seperti alas tidur, pakaian ganti, dan mushaf serta meminimalkan aktivitas konsumtif maupun hiburan. Kondisi ini menunjukkan pembatasan kebutuhan pada hal-hal yang bersifat esensial, terutama kebutuhan spiritual.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah padatnya aktivitas mahasiswa dan distraksi digital, i’tikaf menghadirkan suasana yang lebih tenang melalui pembatasan penggunaan gawai dan aktivitas sosial. Situasi ini berbeda dari ritme keseharian kampus yang serba cepat.
Kesederhanaan selama i’tikaf berpotensi meningkatkan fokus dan kesadaran diri. Pengaturan aktivitas yang lebih terstruktur juga membantu membentuk pola hidup yang lebih terarah.
Dalam praktiknya, i’tikaf juga melatih disiplin waktu melalui ibadah malam seperti qiyamul lail dan tilawah yang membutuhkan pengaturan istirahat terencana. Pola ini membentuk kebiasaan yang lebih teratur dan dapat diterapkan setelah Ramadhan berakhir.
Bagi mahasiswa, i’tikaf sebagai latihan menahan konsumsi berlebihan dan mengurangi ketergantungan digital. Di tengah budaya kampus yang serba cepat dan instan, praktik ini menghadirkan ritme yang lebih lambat dan reflektif.
Nilai kesederhanaan yang tercermin dalam i’tikaf menunjukkan bahwa pembatasan aktivitas dan kebutuhan dapat menjadi bagian dari pembelajaran pengendalian diri. Praktik ini relevan dengan kehidupan modern yang sarat dengan tuntutan sosial.(*)
*Reporter: Nur Syakika







