PROFESI – UNM.COM – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, mahasiswa saat ini dihadapkan pada arus informasi yang begitu deras. Kehadiran berbagai platform digital memudahkan akses pengetahuan, namun di sisi lain juga memunculkan tantangan baru, seperti informasi hoaks, distraksi berlebih, hingga kelelahan digital.
Fenomena banjir informasi ini menuntut mahasiswa untuk tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak dalam mengelola informasi. Tanpa kemampuan tersebut, mahasiswa berisiko terjebak pada informasi yang tidak valid serta kehilangan fokus dalam menjalani aktivitas perkuliahan.
Salah satu langkah adalah dengan meningkatkan kemampuan literasi digital. Mahasiswa perlu membiasakan diri untuk memverifikasi sumber informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Memilih sumber yang kredibel seperti jurnal ilmiah, buku akademik, dan media terpercaya menjadi kunci utama dalam menyaring informasi yang beredar.
Selain itu, pengelolaan waktu penggunaan perangkat digital juga menjadi hal penting. Terlalu lama terpapar layar tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat menurunkan produktivitas. Baiknya mahasiswa mengatur waktu penggunaan gawai secara bijak, misalnya dengan menerapkan teknik manajemen waktu seperti pembagian waktu belajar dan istirahat secara seimbang.
Tidak kalah penting, mahasiswa juga perlu membangun kesadaran diri dalam menggunakan media sosial. Media sosial dapat menjadi sarana pengembangan diri, seperti mengikuti akun edukatif, memperluas jejaring, hingga berbagi karya.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, kemampuan untuk tetap fokus dan selektif menjadi kunci utama. Mahasiswa yang mampu mengelola informasi dengan baik tidak hanya akan lebih produktif, tetapi juga memiliki daya saing yang lebih kuat di masa depan.
Menghadapi era digital bukan hanya soal mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana mahasiswa mampu bersikap kritis, adaptif, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan informasi. (*)
*Reporter: Yusri saputra








