PROFESI-UNM.COM – Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Makassar menggelar Ramah Tamah Wisudawan periode November 2025. Pada kesempatan ini, Nurlia wisudawan terbaik dari Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berbagi pengalaman dan perjalanan akademiknya hingga berhasil lulus dengan masa studi 3 tahun 11 bulan.
Dalam sesi wawancara, Nurlia mengungkap bahwa perjalanan kuliahnya penuh dinamika, khususnya pada masa transisi dari perkuliahan offline ke online di awal masa studi.
“Awal masuk kuliah itu masih offline, kemudian tiba-tiba online. Jujur saja, saya sempat merasa berat karena sudah nyaman di kampung. Tapi setelah aktif berorganisasi, saya jadi punya banyak teman dan akhirnya bisa menyesuaikan,” tuturnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mulai mengikuti organisasi sejak semester tiga hingga semester lima. Pengalaman tersebut membuatnya berkembang, terutama dalam membangun kepercayaan diri.
“Awalnya saya pemalu, tapi setelah ikut organisasi saya jadi lebih berani. Tantangannya itu terbawa arus yang tadinya introver bisa jadi lebih extrover,” ujarnya sambil tersenyum.
Nurlia juga menekankan bahwa organisasi memberinya ruang untuk bertemu banyak orang dan belajar hal baru setiap hari.
“Dulu saya tidak banyak berani bicara. Tapi karena sering ikut kegiatan, terbiasa bertemu teman-teman, akhirnya saya bisa lebih percaya diri,” tambahnya.
Selain aktif berorganisasi, Nurlia menempuh pengalaman lapangan melalui program MBKM di TK Cendekia dan melanjutkan pada program asistensi mengajar di dua sekolah berbeda. Dua semester mengajar membuatnya semakin mantap memilih profesi guru PAUD.
“Karena sudah dua kali mengajar di TK lewat MBKM dan asistensi, saya merasa lebih nyaman di dunia PAUD. Pengalaman itu juga sangat membantu waktu mulai mengajar di sekolah sekarang,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pengalaman mengajar membuatnya merasa lebih siap memasuki dunia kerja.
“Di lapangan itu beda sekali. Tapi karena sudah punya pengalaman di dua sekolah, saya tidak kaget lagi waktu mulai mengajar,” katanya.
Meski demikian, perjalanan akademiknya tidak selalu mulus. Nurlia mengaku sempat merasa tertinggal ketika melihat beberapa temannya lebih dulu menyelesaikan studi.
“Pernah saya merasa kecil hati karena teman-teman sudah wisuda prodi lebih dulu. Tapi ternyata di akhir justru saya yang jadi terbaik. Ya, memang indah pada waktunya,” ungkapnya.
Ia juga mengatakan bahwa proses penyelesaian studi terutama skripsi membentuk ketangguhannya.
“Kalau skripsi itu pasti ada capeknya. Tapi saya pikir, kalau sudah mulai harus diselesaikan. Jadi saya paksa diri untuk tetap lanjut,” jelasnya.
Nurlia turut menceritakan bahwa orang tuanya sangat bangga atas pencapaiannya, meski ibunya yang sedang sakit tidak dapat hadir sepenuhnya.
“Orang tua saya senang sekali. Mereka bilang semua usaha saya akhirnya terbayarkan,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai kesan menjadi wisudawan dan mengenakan toga untuk pertama kalinya, ia mengaku sangat terharu.
“Ini momen yang saya tunggu-tunggu. Rasanya berbeda ketika akhirnya pakai toga. Baru benar-benar terasa kalau sudah sampai di titik ini,” katanya.
Saat ini, Nurlia telah mengajar di salah satu TK dan berencana mengikuti PPG Dalam Jabatan setelah memenuhi masa kerja dua tahun. Ia menyebut pengalaman akademiknya di FIP berperan besar dalam mempersiapkan dirinya sebagai pendidik.
“Di PAUD dosen-dosennya baik, fasilitasnya juga mendukung. Semua pengalaman kuliah sangat membantu saya mengajar sekarang,” tambahnya.
Menutup sesi wawancara, ia berpesan kepada mahasiswa agar tidak membandingkan prosesnya dengan orang lain.
“Mungkin teman-teman merasa tertinggal, tapi setiap orang punya waktunya masing-masing. Yang penting tetap semangat dan selesaikan apa yang sudah dimulai,” tutupnya. (*)
*Reporter: Firawanda Yusuf
*Editor: Rahmat Hidayat







