PROFESI-UNM.COM – Universitas Negeri Makassar (UNM) kembali menggelar Wisuda Periode Februari 2026. Ribuan wisudawan dari berbagai fakultas resmi dikukuhkan di Pelataran Menara Pinisi, Rabu (4/2). Salah satu yang menjadi sorotan adalah Ismi Maulidya Agus, lulusan terbaik Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) dari Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran.
Ismi Maulidya Agus yang akrab disapa Lidya berhasil menyelesaikan pendidikannya selama 3 tahun 4 bulan. Perjalanan akademik Lidya tidak selalu mulus, berbagai tantangan harus ia hadapi untuk meraih prestasi gemilang tersebut.
Lidya mengaku pernah mengalami titik terendah selama masa perkuliahan. Lidya menceritakan pengalamannya saat menyusun skripsi sebagai orang pertama di angkatannya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Selama menempuh dunia perkuliahan selama 3 tahun 4 bulan kemarin ada banyak tantangan yang saya lalui, namun yang paling teringat ialah proses skripsiannya pada pengambilan data penelitian saya. Saya adalah orang pertama di angkatan saya yang menyusun skripsi duluan, dan yang menjadi titik terendah saya saat itu ialah saya turun mengambil data jalan sendiri tanpa arahan dan teman yang menemani,” ungkap Lidya.
Lidya menjelaskan bahwa kondisi tersebut bukan karena tidak memiliki teman. Lidya mengaku lebih memilih untuk tidak merepotkan orang lain.
“Bukan berarti saya tidak memiliki teman, namun lebih ke takut merepotkan. Perlu kita ketahui dalam penyusunan skripsi itu peran orang yang dapat mengarahkan sangat penting dan perlu. Dan saat itu saya kurang memilikinya. Namun, yang saya banggakan pada diri saya, saya tidak pernah menyerah dalam menghadapi tantangan itu,” tuturnya.
Dalam perjalanan akademiknya, Lidya memiliki prinsip hidup yang kuat. Lidya menyebut prinsip tersebut mungkin terdengar sombong bagi sebagian orang, tetapi prinsip itulah yang membentuk dirinya.
“Prinsip saya itu, saya adalah panutan bukan mempanutan orang,” ujar Lidya.
Wisudawan Ungkap Peran Penting Dosen Pembimbing
Lidya juga mengungkapkan peran penting kedua dosen pembimbingnya dalam kesuksesannya. Lidya menyebut pembimbing pertamanya selalu membuat ia berpikir kritis, sementara pembimbing kedua selalu menjadi pendorong semangat.
“Pembimbing 1 yang selalu membuat saya takjub akan tutur kata pada setiap penjelasannya yang membuat saya terus berpikir kritis, dan pembimbing 2 saya yang selalu menjadi pendorong saya selama menyusun, beliau selalu mengatakan ‘saya percayaka kalau kita’ dan tak pernah satu pun ada momen yang beliau persulit saya,” jelas Lidya.
Ketika menghadapi tekanan akademik yang memuncak, Lidya memiliki cara tersendiri untuk mencari ketenangan. Lidya mengaku hobi mendaki gunung menjadi pelarian terbaiknya.
“Kalau sudah riweh sekali sih dan punya budget lebih biasanya saya mendaki,” ungkapnya.
Mahasiswi kelahiran Makassar yang kampung halamannya di Bone ini memiliki harapan dan rencana untuk masa depannya. Lidya berharap dapat memiliki karir yang baik dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Harapan saya kedepannya semoga mempunyai karir yang baik dan rencana saya kedepannya sih mau kerja dulu, dan jika diridhai Allah SWT dan ortu insyaallah lanjut S2,” ujarnya.
Lidya juga meninggalkan pesan untuk mahasiswa lain yang sedang berjuang. Lidya mengajak teman-temannya untuk terus semangat menghadapi tantangan.
“Semangat terus, lawan tantangan-tantangan yang ada biar bisa petantang dan petentengg,” pesannya. (*)
Reporter: Nur Awalul Nisa






