PROFESI-UNM.COM — Kebiasaan mempersiapkan materi sebelum perkuliahan menjadi faktor penting yang menunjang prestasi akademik Sri Wahyuni, wisudawan Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM). Ia berhasil menyelesaikan studinya dengan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99.
Sri mengungkapkan bahwa ia terbiasa mempelajari materi terlebih dahulu sebelum mengikuti perkuliahan. Persiapan tersebut ia lakukan dengan menonton video pembelajaran di YouTube maupun membaca referensi dari berbagai sumber.
“Kebiasaan yang paling berpengaruh buat prestasi akademik saya adalah belajar sebelum kelas dimulai. Walaupun tidak terlalu banyak, setidaknya saya sudah punya pengetahuan awal tentang materi yang akan dibahas,” ujarnya, Rabu (14/1).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sri Wahyuni Soroti Pentingnya Pola Belajar Mandiri
Selain itu, Sri Wahyuni juga mengakui adanya tantangan selama menjalani masa studi, khususnya terkait manajemen waktu belajar. Ia menyebut dirinya lebih mudah berkonsentrasi pada jam-jam tertentu yang tidak umum bagi kebanyakan mahasiswa.
“Tantangan saya justru soal jam belajar. Saya lebih fokus di jam-jam rawan, dan dari situ saya belajar mengenali pola belajar saya sendiri supaya tetap produktif,” jelasnya.
Latar belakang pendidikan juga menjadi tantangan tersendiri. Berasal dari jurusan MIPA saat SMA, Sri Wahyuni harus menyesuaikan diri dengan bidang linguistik yang memiliki pendekatan berbeda. Namun, rasa ingin tahu yang besar justru menjadi modal utamanya untuk terus mendalami bidang tersebut.
“Bidang linguistik cukup berbeda dengan latar belakang saya sebelumnya, tapi rasa ingin tahu mendorong saya untuk mencari tahu lebih dalam,” tambahnya.
Ketika ditanya mengenai sosok yang paling berjasa dalam perjalanan akademiknya, Sri Wahyuni menilai bahwa banyak pihak yang memiliki peran penting. Dukungan keluarga, bimbingan dosen, serta lingkungan pertemanan menjadi faktor yang saling melengkapi.
“Keluarga jadi sumber dukungan terbesar, baik secara moral maupun doa. Dosen pembimbing dan dosen lainnya juga berperan memperluas cara berpikir saya. Teman-teman mahasiswa dengan pemikiran yang beragam juga memberi banyak pelajaran,” tuturnya.
Lebih lanjut, Sri Wahyuni menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kecerdasan emosi dan kesehatan mental, terutama bagi mahasiswa tingkat akhir. Ia menilai fase tersebut cukup rawan karena tekanan akademik dan tuntutan masa depan kerap datang bersamaan.
“Menjaga kesehatan mental itu sangat penting, karena tekanan akademik dan ekspektasi masa depan sering hadir bersamaan,” ungkapnya.
Ia berharap mahasiswa mampu lebih waspada terhadap pengaruh negatif, termasuk fenomena copycat suicide, serta dapat membangun lingkungan belajar yang aman dan suportif.
“Penting untuk mencari dan membangun lingkungan belajar yang membuat kita merasa aman,” jelasnya. (*)
*Reporter: Muhammad Rusman/Editor: Nur Mardatillah







