PROFESI-UNM.COM – Buka puasa menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang, slogan “berbuka dengan yang manis” sudah lazim terdengar di telinga kita. Namun, tahukah kalian bahwa seharusnya kita tidak berbuka dengan yang manis secara berlebihan karena dapat memicu glucose spike?
Glucose spike adalah lonjakan gula darah secara drastis yang terjadi ketika perut kosong langsung terisi oleh gula atau karbohidrat sederhana dalam jumlah besar. Kondisi ini membuat tubuh “kaget” dan terpaksa memproduksi hormon insulin secara besar-besaran untuk menyeimbangkan kadar gula tersebut.
Pola makan “balas dendam” dengan sirup manis dan gorengan sering kali menjadi jebakan metabolik yang merugikan kesehatan. Akibatnya, alih-alih merasa segar, tubuh justru sering merasa lemas dan sangat mengantuk sesaat setelah berbuka puasa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika kebiasaan ini terus berulang, risiko kesehatan seperti resistensi insulin, penumpukan lemak perut, hingga gejala diabetes akan meningkat tajam. Energi tubuh pun menjadi tidak stabil karena grafik gula darah yang naik dan turun secara ekstrem setiap harinya.
Penting untuk dipahami bahwa puasa yang sehat bukan sekadar menahan lapar, melainkan mengatur respons tubuh saat kembali makan. Kunci utamanya adalah menjaga agar grafik gula darah naik secara perlahan, bukan melonjak tajam secara tiba-tiba.
Langkah terbaik untuk menghindarinya adalah dengan mengawali berbuka menggunakan air putih dan maksimal dua butir kurma saja. Setelah itu, konsumsilah serat dari sayur atau protein terlebih dahulu sebelum menyentuh makanan berat agar penyerapan gula lebih melambat.
Mengunyah makanan secara perlahan juga sangat membantu tubuh dalam mengatur respons kenyang dan menjaga kestabilan metabolisme. Dengan cara yang bijak, puasa akan benar-benar memberikan manfaat kesehatan, kebugaran, dan keberkahan bagi tubuh kita.(*)
*Reporter: Alyani Fajrina Nursyabri







