PROFESI-UNM.COM – Penderita asam lambung atau GERD di kalangan siswa mulai terpengaruh kekambuhan gejala menjelang bulan puasa. Puasa dengan durasi panjang memicu nyeri dada, mual, dan rasa asam di tenggorokan akibat pola makan yang berubah.
Kondisi ini terjadi karena lambung tetap memproduksi asam meskipun tidak ada asupan makanan dalam waktu lama. Oleh karena itu, pengaturan pola makan saat sahur dan berbuka menjadi kunci utama.
Saat sahur, penderita sebaiknya mengonsumsi makanan tinggi serat seperti oatmeal hangat, roti gandum, pisang, serta protein rendah lemak seperti telur rebus atau dada ayam kukus. Makanan tersebut membantu menjaga kestabilan asam lambung dan mencegah iritasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebaliknya, gorengan, makanan pedas, serta minuman berkafein seperti kopi dan teh pekat sebaiknya dibatasi karena dapat merangsang produksi asam lambung.
Saat berbuka, awali dengan air putih hangat dan kurma, lalu konsumsi sup atau makanan berkuah secara bertahap. Makan dalam porsi kecil dan tidak terburu-buru membantu mengurangi risiko refluks.
Perpaduan pola makan yang bijak serta disiplin menjadikan puasa bukan lagi momok bagi penderita GERD. Pengalaman berpuasa pun berubah menjadi momen ibadah yang nyaman dan penuh berkah. (*)
*Reporter: Musdalifah







