PROFESI-UNM.COM – Mengawali hari dengan produktivitas tinggi ternyata bukan sekadar masalah disiplin mental, melainkan tentang bagaimana seseorang mampu menyelaraskan aktivitasnya dengan mekanisme biologis hormon stres di dalam tubuh.
Kunci utama produktif seseorang pada pengelolaan kortisol, hormon yang secara alami mencapai titik puncaknya sesaat setelah seseorang terbangun dari tidurnya. Fenomena ini yakni Cortisol Awakening Response (CAR) sebagai alarm alami yang menyiapkan tubuh menghadapi tantangan hari itu.
Produktivitas terhambat ketika seseorang merespons lonjakan hormon ini dengan cara yang salah, seperti langsung terpaku pada gawai. Paparan digital di pagi hari memicu adrenalin dan norepinefrin secara berlebihan, berujung pada rasa cemas serta hilangnya fokus.
Untuk mengubah stres menjadi daya kerja yang efektif, praktisi kesehatan menyarankan pemanfaatan cahaya matahari pagi sebagai pengatur ritme sirkadian. Cahayanya membantu menstabilkan kadar kortisol sehingga transisi dari fase istirahat ke aktif lebih halus tanpa memicu rasa kelelahan.
Menunda konsumsi kafein satu hingga dua jam setelah bangun menjadi langkah strategis agar sistem saraf tidak mengalami stimulasi ganda. Hal tersebut dapat menyebabkan kelelahan mental di siang hari.
Dengan memahami ritme hormon stres ini, masyarakat diharapkan dapat merancang rutinitas pagi yang lebih tenang dan terukur.
Fokus pada tugas berat saat kortisol sedang tinggi, sembari menjaga ketenangan sistem saraf melalui aktivitas fisik ringan atau meditasi. Kegiatan tersebut terbukti meningkatkan kualitas kerja secara signifikan.
Pada akhirnya, pagi yang produktif bukan tentang seberapa cepat seseorang bergerak, melainkan seberapa cerdas ia mengelola energi kimiawi yang telah disediakan oleh tubuhnya sendiri. (*)
*Reporter : Florencya Alnisa Christin








