PROFESI-UNM.COM — Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu (IPMIL) Universitas Negeri Makassar (UNM), Agip, angkat bicara terkait insiden penyerangan oleh orang tak dikenal yang terjadi pada Kamis sore (24/7) sekitar pukul 15.00 WITA di Kampus UNM Gunung Sari.
Dalam keterangan yang diberikan, Agip menegaskan bahwa insiden tersebut berawal dari kasus penikaman beberapa pekan lalu di salah satu titik di Kota Makassar. Meski pelaku penikaman belum jelas identitasnya, isu yang berkembang menyebut bahwa pelaku berasal dari Palopo. Dugaan inilah yang kemudian menyeret nama IPMIL ke dalam sorotan, meski organisasi tersebut sama sekali tidak mengetahui persoalan yang sebenarnya terjadi.
“Pihak korban saat itu tidak menerima kejadian penikaman tersebut. Tanpa berpikir panjang dan menganalisis secara sehat, mereka langsung mengaitkan dengan orang Palopo. Akhirnya IPMIL pun ikut terseret dalam masalah ini, padahal sebelumnya kami sama sekali tidak tahu-menahu,” jelas Agip.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menegaskan bahwa IPMIL mengecam keras segala bentuk tindakan premanisme, dan mendesak pihak berwajib untuk mengusut tuntas insiden ini. Menurutnya, organisasi IPMIL selama ini dibangun dengan nilai perjuangan dan marwah yang harus dijaga.
Lebih lanjut, Agip menyampaikan bahwa seluruh pengurus IPMIL se-Kota Makassar telah sepakat untuk melakukan pertemuan dan diskusi guna merespons kejadian tersebut secara serius. Ia menyebutkan bahwa insiden ini merupakan bentuk perusakan terhadap semangat perjuangan yang selama ini dibangun oleh IPMIL.
“Untuk sementara ini kami sepakat akan berembuk dan berdiskusi. Karena ini sudah kelewatan. Organisasi yang kita bangun dengan perjuangan hari ini telah dirusak,” ungkapnya.
Terkait insiden penyerangan di Kampus UNM Gunung Sari, Agip bersyukur karena tidak ada korban dari mahasiswa IPMIL UNM. “Alhamdulillah insiden tadi tidak memakan korban dari teman-teman IPMIL UNM,” tutupnya. (*)
*Reporter: Ibnu Qayyum Abdullah.







