PROFES-UNM.COM- Unit Pelaksana Teknik (UPT) Layanan Bimbingan dan Konseling (LBK) telah usai gelar kegiatan upgrading bagi para konselor sebaya serta buka kesempatan bagi mahasiswa untuk jadi relawan disabilitas, di Ballroom D, Lt. 1, Menara Phinisi Universitas Negeri Makassar (UNM), Kamis hingga Jumat, (28-29/8).
Konselor sebaya telah hadir di tiap fakultas di UNM untuk menjadi pendamping kesehatan mental mahasiswa.Konselor ini hadir sebagai bentuk dampingan peer to peer. Dalam psikologi, istilah ini merujuk pada cara seorang anak menyelesaikan masalah melalui bantuan teman sebaya.
Selain uprgrading konselor sebaya, UPT LBK juga beri bekal pelatihan bagi para relawan disabilitas. Farida Aryani, selaku Ketua UPT LBK, menjelaskan bahwa tujuan kegiatan ini adalah melatih mahasiswa agar lebih berempati kepada kaum disabilitas. Kegiatan ini juga menjadi salah satu langkah untuk mewujudkan kampus yang ramah inklusi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kegiatan ini lebih kepada bagaimana mahasiswa melatih empati, terutama menghadapi anak-anak disabilitas. “Kampus kita sedang dalam proses menuju inklusi. Diharapkan para relawan dapat membantu mereka. Sebagai tindak lanjut, akan diadakan kelas komunikasi inklusi pada bulan September,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa relawan disabilitas yang tergabung masih harus melewati tahap penyaringan. Panitia menilai seleksi tersebut berdasarkan keaktifan peserta dalam mengikuti beberapa pelatihan yang mereka gelar. Hal ini menjadi upaya UPT LBK untuk menjaga kualitas layanan bimbingan dan konseling di tingkat universitas.
” Kita juga akan lihat relawan yang aktif akan kita ikutkan kelas, jadi memang kita sangat melihat aspek tersebut, kita lalukan penyaringan supaya UPT LBK terus bisa menjaga standarnya,” sebutnya
Terakhir, ia juga menyebutkan bahwa pemateri memberikan beberapa materi kepada relawan disabilitas, antara lain asesmen kebutuhan mahasiswa, komunikasi inklusi, public speaking, art healing, serta praktik konseling.
“Beberapa materi diberikan seperti aseemsnet kebutuhan disabilitas, memahami ragam disabilitas sama public speaking juga agar mereka itu pede saat menjadi influencer (pemberi pengaruh), agar bisa saling memengaruhi teman sebayanya,” tutupnya. (*)
*Reporter : Florencya Alnisa Christin







