PROFESI-UNM.COM – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Universitas Negeri Makassar (UNM) melalui Teater Titik Dua menampilkan pertunjukan bertajuk “Bissu”. Kegiatan ini merupakan rangkaian Festival Teater Mahasiswa Indonesia (FTMI) XIX yang bertempat di Gedung La Patau, Kabupaten Soppeng, Selasa (20/01).
Pertunjukan ini wujud kepedulian UKM Seni UNM terhadap warisan budaya Bugis yang kian terpinggirkan oleh arus modernisasi.
Penulis pertunjukan, Dilca, menjelaskan bahwa Bissu hadir bukan sekadar sebagai tokoh adat. Bersamaan dengan itu, juga sebagai simbol keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Bissu hadir bukan hanya sebagai tokoh adat. Bersamaan dengan itu, juga sebagai simbol keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritual,” jelasnya.
Dilca mengungkapkan bahwa Bissu mempunyai makna sebagai suara budaya yang perlahan memudar seiring dominasi pola pikir modern.
“Bissu mempunyai makna sebagai suara budaya yang pelajaran memudar seiring pola pikir modern,” ungkapnya.
Ia menambahkan Bissu memiliki peran yang sakral dalam budaya Bugis.
“Bissu adalah representasi identitas budaya Bugis yang sarat makna dan nilai spiritual,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan riset budaya menjadi fondasi utama. Namun, ia juga menerangkan beberapa tantangan dalam menggabungkan hasil riset tersebut.
“Riset budaya menjadi fondasi utama. Akan tetapi, tantangannya bagaimana menggabungkan hasil riset dengan kebutuhan artistik,” jelasnya.
Penulis menegaskan bahwa pertunjukan ini tidak bermaksud untuk mengabaikan budaya leluhur. Akan tetapi, menjadi ruang pengingat agar nilai-nilai lokal tetap hidup dan relevan.
“Kami ingin penonton kembali menyadari pentingnya budaya leluhur sebagai identitas, bukan sekadar peninggalan masa lalu,” katanya.
Ia berharap UKM Seni UNM terus melahirkan regenerasi dan karya-karya baru yang tetap berpijak pada budaya lokal.
“Kami berharap UKM Seni terus melahirkan berbagai karya yang mengangkat budaya sebagai identitas dan refleksi zaman,” tutupnya.(*)
*Reporter: Nathaya Haura Maulidya Rini/Editor: Muhammad Fauzan Akbar







