[OPINI] Seni Pertunjukan Sebagai Penerjemah Amarah dan Kekecewaan

Avatar photo

- Redaksi

Kamis, 4 September 2025 - 10:11 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Alifaturrahman. A, (Foto: Ist.)

Potret Alifaturrahman. A, (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Seni pertunjukan sering kali menjadi media penyampaian pendapat bagi sebagian kecil kelompok yang suaranya terpinggirkan. Polemik sosial dan politik yang akhir-akhir ini terjadi menjadi santapan paling nikmat bagi seorang seniman, khususnya seniman pertunjukan, untuk dijadikan sebagai bahan mentah yang kemudian ditransfer ke atas panggung.

Menyampaikan aspirasi, amarah, dan kekecewaan dengan cara yang lebih indah lalu memvisualisasikannya di atas panggung adalah salah satu kekuatan seni pertunjukan. Pertunjukan teater berjudul “Wawancara dengan Mulyono” sempat ingin dipentaskan oleh teman-teman Teater Payung Hitam di ISBI Bandung, namun dilarang oleh birokrasi kampus karena dianggap melanggar prinsip netralitas kampus.

Baca Juga Berita :  Cara Atasi Kebiasaan Begadang bagi Mahasiswa, Biar Nggak Jadi Zombie di Kelas

Terkadang memang suara seniman dibungkam dan kebebasan berkesenian dipersempit karena menyinggung banyak isu besar. Hal ini menjadi ancaman bagi para penguasa. Sebenarnya, apa yang membuat mereka takut terhadap gerakan, ekspresi, dan bunyi-bunyian yang disajikan seniman di atas panggung? Apakah mereka justru menganggap estetika itu sebagai ancaman?

Saya, sebagai pegiat seni pertunjukan, turut berduka atas apa yang terjadi di negeri tercinta hari ini. Banyak seniman yang bersuara dan peka terhadap peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi. Kepekaan politik memang harus dimiliki oleh seniman pertunjukan karena itu menyangkut keberlangsungan ekosistem seni pertunjukan di Indonesia.

Menjawab ekspektasi penonton adalah tugas seorang pegiat seni pertunjukan. Namun, di situlah seniman dapat menyelipkan pesan, kritik, dan amarahnya terhadap penguasa yang dikemas dengan indah. (*)

*Penulis: Alifaturrahman. A

Berita Terkait

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 
[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi
[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis
[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.
[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan
[OPINI] Saat Pendidikan Kehilangan Mata Air Kemanusiaan: Sekolah yang Sibuk Mengukur, Tapi Lupa untuk Memeluk.
[ OPINI ] Ketika Pengabdian Guru Dijadikan Alasan untuk Membiarkan Ketidakadilan
[OPINI] Metafora Analitis Hukum Newton III dan Psikologi Kebijakan: Setiap Aksi Negara Melahirkan Reaksi Manusia
Berita ini 121 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:05 WITA

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:25 WITA

[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi

Senin, 8 Juni 2026 - 20:27 WITA

[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis

Jumat, 5 Juni 2026 - 00:32 WITA

[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.

Kamis, 4 Juni 2026 - 09:12 WITA

[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan

Berita Terbaru

Potret Foto Bersama Tim PPK Ormawa Himanika dan Pimpinan Fakultas (Foto: Int).

Fakultas Teknik

Lepas Tim PPK Ormawa, FT Dorong Mahasiswa Hadirkan Inovasi Berkelanjutan

Selasa, 23 Jun 2026 - 20:23 WITA