PROFESI-UNM.COM – Seni pertunjukan sering kali menjadi media penyampaian pendapat bagi sebagian kecil kelompok yang suaranya terpinggirkan. Polemik sosial dan politik yang akhir-akhir ini terjadi menjadi santapan paling nikmat bagi seorang seniman, khususnya seniman pertunjukan, untuk dijadikan sebagai bahan mentah yang kemudian ditransfer ke atas panggung.
Menyampaikan aspirasi, amarah, dan kekecewaan dengan cara yang lebih indah lalu memvisualisasikannya di atas panggung adalah salah satu kekuatan seni pertunjukan. Pertunjukan teater berjudul “Wawancara dengan Mulyono” sempat ingin dipentaskan oleh teman-teman Teater Payung Hitam di ISBI Bandung, namun dilarang oleh birokrasi kampus karena dianggap melanggar prinsip netralitas kampus.
Terkadang memang suara seniman dibungkam dan kebebasan berkesenian dipersempit karena menyinggung banyak isu besar. Hal ini menjadi ancaman bagi para penguasa. Sebenarnya, apa yang membuat mereka takut terhadap gerakan, ekspresi, dan bunyi-bunyian yang disajikan seniman di atas panggung? Apakah mereka justru menganggap estetika itu sebagai ancaman?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saya, sebagai pegiat seni pertunjukan, turut berduka atas apa yang terjadi di negeri tercinta hari ini. Banyak seniman yang bersuara dan peka terhadap peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi. Kepekaan politik memang harus dimiliki oleh seniman pertunjukan karena itu menyangkut keberlangsungan ekosistem seni pertunjukan di Indonesia.
Menjawab ekspektasi penonton adalah tugas seorang pegiat seni pertunjukan. Namun, di situlah seniman dapat menyelipkan pesan, kritik, dan amarahnya terhadap penguasa yang dikemas dengan indah. (*)
*Penulis: Alifaturrahman. A







