[OPINI] Pendidikan Layak: Hak Dasar yang Berubah Menjadi Barang yang Mewah

Avatar photo

- Redaksi

Senin, 23 Februari 2026 - 01:07 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Christo, (Foto: Ist.)

Potret Christo, (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Dengan pendidikan, diharapkan terjadi perubahan dalam diri manusia seperti cara berpikir, berkomunikasi, karakter, dan sikap. Berjalannya suatu sistem pendidikan harus didukung dengan tenaga pendidik yang berkualitas dan fasilitas yang memadai. Sungguh sebuah hal fundamental yang seharusnya didapatkan tiap manusia.

“Mencerdaskan kehidupan bangsa” adalah amanat konstitusi yang mewajibkan negara untuk mencetak dan membangun manusia Indonesia yang unggul, berakhlak mulia, berilmu, dan berkarakter melalui pendidikan berkualitas. Namun, jika melihat realitas yang hadir saat ini janji tersebut seakan memudar dan perlahan berubah menjadi sesuatu yang asing. Pendidikan layak yang seharusnya menjadi hak dasar yang dapat diakses oleh seluruh kalangan masyarakat kini bertransformasi menjadi sebuah komodotas mahal yang hanya dapat diakses oleh segelintir kelompok masyarakat yang memiliki lebih banyak uang.

Baca Juga Berita :  Berorganisasi, Lebih dari Sekadar Kegiatan Ekstrakurikuler

Privatisasi pendidikan yang terus ada menyebabkan kenaikan biaya pendidikan secara signifikan karena adanya peralihan tanggung jawab anggaran dari negara beralih ke pundak masyarakat. Ketika institusi pendidikan didorong untuk mandiri secara finansial dan negara perlahan mengurangi anggaran yang diberikan untuk institusi pendidikan akibatnya institusi pendidikan menaikkan biaya pendidikan untuk menutupi biaya operasional, pemeliharaan fasilitas dan lainnya. Dalam kondisi ini peran intitusi pendidikan tidak lagi menjadi layanan publik melainkan sebagai korporasi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Institusi pendidikan di desain sebagai korporasi dengan produk ilmu pengetahuan, peserta didik diposisikan sebagai konsumen dan kurikulum diatur sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan pasar. Karena beroperasi dengan logika pasar, institusi pendidikan sering kali menetapkan harga tinggi demi menjaga gengsi dan eksklusivitas. Hal ini menyebabkan inflasi biaya pendidikan terus melambung setiap tahunnya, melampaui kenaikan pendapatan rata-rata masyarakat dan mengubah pendidikan layak menjadi barang mewah yang hanya bisa diakses oleh kelas ekonomi tersebut.

Baca Juga Berita :  [OPINI]Harmoni Multikultural: Pengalaman Belajar Mahasiswa Pertukaran di Lingkungan UNAIR

Belum lagi dengan biaya-biaya terselubung yang harus ditanggung orang tua peserta didik mulai dari biaya hidup, transportasi, hingga tuntutan literasi digital yang memerlukan perangkat yang mahal. Bagi kelas menengah ke bawah, mengejar pendidikan yang berkualitas seringkali harus mengorbankan stabilitas ekonomi rumah tangga mereka. Akibatnya, pendidikan yang layak bukan lagi menjadi hak yang dijamin negara melainkan sebuah kemewahan yang harus diperjuangkan dengan pengorbanan yang tidak masuk akal. Jika kondisi ini terus dibiarkan, kita tidak sedang menyiapkan generasi yang unggul, melainkan sedang membangun tembok yang menghalangi perkembangan potensi anak bangsa.

*Penulis: Christo

Berita Terkait

[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru
[OPINI] DAS Saddang kabupaten Enrekang: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Objek Investasi
[OPINI] Enrekang berada di persimpangan: Antara Kemajuan atau Kehilangan
[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM
[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa
[OPINI] Ancaman Tambang terhadap Ruang Hidup dan Kedaulatan Lahan Masyarakat Enrekang
Patriarki dalam Lembaga Kemahasiswaan UNM: Menggugat Ilusi Kesetaraan
[OPINI] Menara Pinisi di Bawah Bayang-Bayang Sepatu Laras
Berita ini 88 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 22:25 WITA

[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru

Selasa, 28 April 2026 - 21:00 WITA

[OPINI] DAS Saddang kabupaten Enrekang: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Objek Investasi

Selasa, 28 April 2026 - 20:08 WITA

[OPINI] Enrekang berada di persimpangan: Antara Kemajuan atau Kehilangan

Sabtu, 25 April 2026 - 11:39 WITA

[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM

Jumat, 24 April 2026 - 01:30 WITA

[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa

Berita Terbaru

Potret Ketua Panitia Menyampaikan Sambutan Pada kegiatan Career Reflection Day, (Foto: Desitha Cahya)

Bimbingan dan Konseling

Gelar Career Reflection Day, Ketua Panitia Ajak Mahasiswa Kenali Potensi diri

Minggu, 24 Mei 2026 - 23:30 WITA

Foto Bersama Mahasiswa Angkatan 2024 Setelah Usai Gelar Kegiatan Career Reflection Day, (Foto:Ist.)

Bimbingan dan Konseling

Soroti Pengembangan Karier Siswa, Mahasiswa BK FIP UNM Gelar Career Reflection Day

Minggu, 24 Mei 2026 - 23:26 WITA

Foto Gabriella Lambert Saat Bawa Materi Dalam Acara Career Reflection Day, (Foto: Dok. Profesi)

Fakultas Ilmu Pendidikan

Mahasiswa BK FIP UNM Hadirkan Salebgram Ela Lambert Sebagai Pemateri Kegiatan Care Day

Minggu, 24 Mei 2026 - 22:40 WITA

Potret Ketua Panitia Pengukuhan Mahasiswa Psikologi Angkatan 2025, (Foto: Nur Hafizhah)

Fakultas Psikologi

Solidaritas 336 Panitia Dalam Pengukuhan Mahasiswa Psikologi Angkatan 2025

Sabtu, 23 Mei 2026 - 23:10 WITA