[OPINI]Harmoni Multikultural: Pengalaman Belajar Mahasiswa Pertukaran di Lingkungan UNAIR

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 28 November 2023 - 00:10 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Penulis, (Foto:Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Hai semua, aku Andi Mawaddah Sumardi, atau biasa disapa Wanda. Saat ini, aku adalah mahasiswa semester 5 di Universitas Negeri Makassar (UNM), tepatnya dari prodi Teknik Komputer. Sebuah pengalaman luar biasa membawa aku melangkah ke lingkungan baru, di kota yang mungkin hanya pernah kita dengar dari lagu, yaitu Kota Pahlawan, Surabaya.

Bergabung dengan program pertukaran di Universitas Airlangga (UNAIR), rasanya seperti mendapatkan tiket masuk ke dunia yang lebih luas. Bagaimana tidak? Universitas Airlangga (UNAIR) merupakan salah satu universitas terbaik di Indonesia, UNAIR telah mencatatkan namanya sebagai yang ke-4 terbaik di Tanah Air dan menempati peringkat 345 universitas terbaik di dunia versi QS World. Aku memilih untuk belajar di tiga program sekaligus di Fakultas Sains dan Teknologi yaitu Sistem Informasi, Fisika, dan Kimia.

Foto Bersama dengan Mahasiswa PMM lainnya, (Foto: Ist.)

Senang rasanya bisa jadi bagian dari UNAIR, tempatnya selalu penuh semangat dan prestasi, bukan cuma di Indonesia tapi juga di dunia internasional. Itulah mengapa, langkahku ke Surabaya diisi dengan antusiasme yang besar.

Tapi walaupun lagi seneng banget, aku tetep inget sama tantangan-tantangan di sekitar. Panasnya Surabaya memang berbeda dengan Makassar. Beneran, cuacanya tidak main-main, deh! Setiap langkah di bawah sinar matahari, kulit kayak lagi nyoba jadi steak, terasa bener-bener terpanggang. Kalau ini namanya masalah cuaca, kayanya cuaca punya ambisi jadi chef grilling!

Tantangan berikutnya nih, bahasa Jawa. Kadang-kadang bikin otak aku ngernyit-ngernyit. Logat medoknya yang kental tuh bisa bikin aku senyum dan bingung sendiri. Aku, yang biasanya denger logat khas Makassar, rasanya kayak lagi terdampar di dunia baru yang penuh budaya dan keunikan.

Tapi, lama-lama aku sadar, ini bagian dari daya tarik UNAIR. Keberagaman budaya dan bahasa jadi semacam magnet yang unik. Aku belajar gak cuma di ruang kelas, tapi juga di lorong-lorong kampus yang penuh dengan cerita-cerita asik dari teman-teman dengan latar belakang yang beda-beda. Jadi, sebenernya tantangan-tantangan ini malah jadi bumbu seru buat perjalanan kuliahku di UNAIR!

Baca Juga Berita :  [OPINI] Transformasi Digital dalam Administrasi Publik: Meningkatkan Pelayanan Melalui Pemasangan Alat Turnstile Di Pelindo Regional 4 Makassar Melalui Lensa Filosofi Plato
Foto Penulis bersama dengan teman-temanya saat menggunakan pakaian adat dari daerah masing-masing, (Foto: Ist.)

Meski awalnya agak kaget sama segala tantangan dan culture shock, seiring waktu, aku makin ngerasa UNAIR itu kayak rumah kedua yang hangat. Tidak cuma karena prestasinya yang oke banget, tapi juga karena sambutan dari teman-teman yang ramah-ramah dan atmosfir akademis yang bikin betah. Jadinya, meskipun awalnya ada keterkejutan, sekarang justru jadi bagian dari kehangatan yang ada di UNAIR!

Jadi, walau awalnya kayak masuk ke dunia yang benar-benar beda, sekarang aku dengan bangga banget bilang bahwa pengalaman di UNAIR itu jadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan kuliahku. Aku malah tidak sabar buat terus menjelajah, terus belajar, dan nulis bab-bab terindah dari kisah perkuliahan di Kota Surabaya yang warnanya tidak ada matinya!

Potret Penulis dan Teman-temannya di depan tugu Unair, (Foto: Ist.)

Salam dari Wanda, mahasiswa pertukaran yang menemukan harmoni multikultural di UNAIR! baru yang menarik. (*)

 

*Penulis Andi Mawaddah Sumardi Mahasiswa prodi Teknik Informatika dan Komputer, FT UNM, Angkatan 2021

Berita Terkait

[OPINI] Ketika Penjaga Konstitusi Dipertanyakan: Mufak LK FIP di Ambang Kehilangan Legitimasi
[OPINI] Kampus Adalah Arena, Masa Depan Sedang Dipertaruhkan
[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 
[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi
[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis
[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.
[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan
[OPINI] Saat Pendidikan Kehilangan Mata Air Kemanusiaan: Sekolah yang Sibuk Mengukur, Tapi Lupa untuk Memeluk.
Berita ini 101 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 17:36 WITA

[OPINI] Ketika Penjaga Konstitusi Dipertanyakan: Mufak LK FIP di Ambang Kehilangan Legitimasi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:35 WITA

[OPINI] Kampus Adalah Arena, Masa Depan Sedang Dipertaruhkan

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:05 WITA

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:25 WITA

[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi

Senin, 8 Juni 2026 - 20:27 WITA

[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis

Berita Terbaru

Foto Suasana Pembukaan OPEN dan Pekan Pujangga 2026, (Foto: Nur Hafizhah).

Himaprodi PBSI

Himaprodi PBSI Gelar OPEN dan Pekan Pujangga ke-13

Sabtu, 1 Agu 2026 - 22:45 WITA

Potret Farida pada Kegiatan Upacara Perayaan Dies Natalis UNM ke-65, (Foto : Alyani Fajrina Nursyabri)

Universitas Negeri Makassar

Relaksasi UKT Capai Rp13,41 Miliar, UNM Fokus Ringankan Beban Mahasiswa

Sabtu, 1 Agu 2026 - 22:37 WITA