[OPINI] Selamat datang mahasiswa baru: “Panggung sambutan, Realita kesunyian”

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 12 Agustus 2025 - 20:57 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Jean, (Foto: Ist.)

Potret Jean, (Foto: Ist.)

 

PROFESI-UNM.COM – Kampus adalah tempat reproduksi manusia polos, sama halnya bayi, yang membutuhkan nutrisi orang tuanya, dari kepolosan itu kampus, harus betul-betul serius membentuk pikiran yang nantinya menjadi mahasiswa berintegritas, berintelektual, adil sejak dalam pikiran dan tindakan, serta tidak memandang gender, sebagai tolak ukur kelas.
Kampus bukan hanya tempat reproduksi buru-buru pengajar yang siap bekerja di mana saja.

Tetapi kampus, sebagai instrumen, “mencerdaskan kehidupan bangsa”, Ini bukan kata atau makna yang tidak memiliki arti, bukan juga perintah senior yang bisa di bantah, melainkan perintah konstitusi yang harus termanifestasikan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Di kampus ada banyak pikiran yang sudah terideologis secara moril namun tidak secara status quo, salah satunya mahasiswa kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat), D3-P (datang, duduk, diam, lalu pulang), ada juga yang lebih mementingkan outfitnya daripada isi pikirannya, dan masih banyak lagi yang perlu kita kroscek peran mahasiswa, yang semakin hari identitasnya semakin pudar.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Panggung sambutan, Realita kesunyian

Tapi, apapun itu semoga statusmu sebagai mahasiswa tidak hanya menjadi kata pemanis, tapi menjadi mahasiswa yang seutuhnya. Mahasiswa yang berani mempertanyakan sesuatu, baik itu yang berkaitan dengan “teks,” realitas sosial ataupun struktur ekonomi-politik. Mahasiswa yang sadar, sadar tidak hanya sebatas dipahami dalam pikiran, tapi, dipraktikkan dalam bertindak salah satunya dengan berpihak kepada kaum marjinal.

Selamat datang di kampus, ruang yang kerap disebut sebagai tempat impian dibentuk, masa depan dipersiapkan, dan ilmu dijunjung tinggi. Namun dibalik slogan-slogan yang digembar-gemborkan pada hari-hari penyambutan terdapat realitas yang tak jarang membuat mahasiswa baru terhenyak. Kampus tidak hanya hadir sebagai taman belajar yang adil dan manusiawi. Disinilah kamu akan mulai merasakan bahwa impian tak hanya dibentuk, tetapi juga dipereteli secara perlahan oleh sistem yang menuntut banyak namun memberi sedikit. Uangmu diperas, waktumu dihabisi, dan dirimu diuji bukan semata oleh tantangan akademik, tetapi oleh struktur yang sering kali lebih kejam dari soal ujian.

Baca Juga Berita :  BEM UNM Aksi Bisu Tolak Status BLU

Relasi-relasi sosial yang dibangun di dalam kampus terutama antara mahasiswa baru dan senior, tak jarang menampakkan wajah hierarkis yang manipulatif. Senioritas dijadikan alat untuk menguji kesabaran dan membentuk ketundukan singkatnya wajah hierarkis ini membentuk tunduk bukan tumbuh. Sementara itu di dalam kelas kamu akan menjumpai dosen yang mengajar bukan dengan semangat mencerdaskan, melainkan demi menggugurkan kewajiban administratif. Mereka hadir dalam banyak kasus, lebih sibuk mengisi laporan dan mengejar angka kredit untuk kenaikan pangkat, ketimbang hadir secara utuh dalam kelas sebagai pendidik. Mahasiswa pun hanya menjadi titik dalam daftar presensi, objek dalam sistem administrasi, bukan subjek belajar yang perlu ditumbuhkan daya kritis dan keberaniannya. Segala yang seharusnya membebaskan justru menjerat. diluar tampak rapi dan terstruktur, tapi didalamnya penuh jebakan sunyi, keterasingan dan kepenatan.

Kampus yang seharusnya menjadi pusat keilmuan, tempat yang aman bagi semua kalangan. Tempat yang seharusnya kebebasan berpendapat dihargai. Perdebatan/petengkaran pikiran dan kritik yang membangun seharusnya terjadi. Tapi, Kebalikannya justru mahasiswa yang kritis menyampaikan aspirasi tak jarang di ancam akan mempersulit akademiknya, skorsing, bahkan Drop Out (DO) sekalipun.

Baca Juga Berita :  [Opini] KEKUASAAN YANG BERADA DI ATAS HUKUM

Kampus menjelma menjadi mesin formalitas. John D. Holts menyatakan bahwa Pendidikan mutakhir hanya menjadi penyuplai bagi pengguna ‘sumber daya manusia’ , dan para kapitalis yang memandang mereka sama dengan ‘sumber daya alam’, yaitu obyek yang siap di eksploitasi.: Dengan kata lain, kampus memandang mahasiswa bak komoditas yang hanya perlu ditambahkan bumbu-bumbu, kemudian diolah untuk memenuhi kualitas permintaan pasar.

Kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi ruang perlawanan. Ruang dimana kamu perlu meneguhkan nalar, mempertajam nurani, dan menyadari bahwa menjadi mahasiswa bukan sekadar status sosial, melainkan amanah intelektual dan etis. Di tengah sistem yang sering kali memeras, melelahkan bahkan mencuri masa mudamu, kamu harus menemukan alasan untuk berpikir, bertanya, dan bergerak. Sebab hanya dengan cara itu, impianmu tak hanya di bentuk oleh sistem, tetapi kamu sendiri yang membentuk sistem itu kembali.

Sekali lagi Selamat, semoga betah menjadi representasi ke-Mahaan tuhan dengan segudang amanah mulia yang membebanimu. Semoga betah diruang yang kerap kali memaksa kita patuh dan diam. Semoga hingga nanti, hingga tak ada lagi yang dinanti. Dari kost ke kost. Makassar, 11 Agustus 2025. (*)

*Penulis: Jean

 

Berita Terkait

[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru
[OPINI] DAS Saddang kabupaten Enrekang: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Objek Investasi
[OPINI] Enrekang berada di persimpangan: Antara Kemajuan atau Kehilangan
[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM
[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa
[OPINI] Ancaman Tambang terhadap Ruang Hidup dan Kedaulatan Lahan Masyarakat Enrekang
Patriarki dalam Lembaga Kemahasiswaan UNM: Menggugat Ilusi Kesetaraan
[OPINI] Menara Pinisi di Bawah Bayang-Bayang Sepatu Laras
Berita ini 356 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 22:25 WITA

[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru

Selasa, 28 April 2026 - 21:00 WITA

[OPINI] DAS Saddang kabupaten Enrekang: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Objek Investasi

Selasa, 28 April 2026 - 20:08 WITA

[OPINI] Enrekang berada di persimpangan: Antara Kemajuan atau Kehilangan

Sabtu, 25 April 2026 - 11:39 WITA

[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM

Jumat, 24 April 2026 - 01:30 WITA

[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa

Berita Terbaru

Sesi foto bersama dalam agenda pelatihan penulisan berita dan persuratan, (Foto: St. Masyita Rahmi)

Fakultas Teknik

FT Gelar Pelatihan Persuratan, Dekan Singgung Target PPK Ormawa Nasional

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:50 WITA

Potret Fachruddin Palapa saat memberikan materi, (Foto: St. Masyita Rahmi)

Fakultas Teknik

Perkuat Keterampilan Jurnalistik, FT Latih Mahasiswa Penulisan Berita

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:40 WITA

Foto Muh. Syekh Mikail Attahillah Ketua Formatur HMPS Pendidikan Sosiologi, (Foto: Ist.)

Formatur Ketua Umum

HMPS Pendidikan Sosiologi Tetapkan Ketua Formatur Baru di Mubes XV

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:36 WITA

Potret Pimpinan Jurusan, Prodi, dan Fakultas FISH (Foto: Int.)

Pendidikan Sejarah

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Gelar Pameran Budaya Lokal

Selasa, 12 Mei 2026 - 10:04 WITA

E-TABLOID 295

Tabloid

E-TABLOID 295

Senin, 11 Mei 2026 - 23:02 WITA