PROFESI-UNM.COM – Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) kerap disebut sebagai fondasi pendidikan. Istilah “Golden Age” hampir selalu berbunyi di dalam pidato soal pendidikan. Namun, di balik narasi ada ironi yang jarang dibicarakan, guru PAUD justru sering berada di posisi paling rentan dalam sistem pendidikan.
Guru PAUD selalu dipuji dalam pidato maupun hari besar, tapi masih kurang diperhitungkan dalam kebijakan nyata. Mereka dituntut profesional, sabar, kreatif dan mampu memahami perkembangan anak, sementara kesejahteraan dan status kerja masih jauh dari kata layak. Fondasi dianggap penting tetapi penopangnya dibiarkan rapuh.
Andai kalian tau, guru PAUD bukan sekadar mengajar sambil bermain. Mereka membentuk karakter awal anak, melatih emosi, serta menjadi penghubung antara keluarga dan dunia pendidikan. Namun, profesi ini sering diasumsikan sebagai pekerjaan pendamping, bukan pendidik profesional. Cara pandang ini menormalisasi ketimpangan yang terjadi.
Tuntutan terhadap guru PAUD meningkat, tapi dukungan berjalan di tempat. Mereka perlu menyelaraskan kurikulum dan teknologi di tengah arus globalisasi, serta berdedikasi tinggi di tengah tekanan ekonomi. Kritik harusnya diarahkan ke sistem yang gemar nuntut tanpa memperhatikan.
Dampak tidak pernah berhenti kepada guru. Ketika kesejahteraan dan kualitas pendidik PAUD diabaikan, ketimpangan pendidikan dimulai sejak dini. Anak-anak dari keluarga mampu tetap memperoleh layanan berkualitas, sementara yang lain harus puas dengan keadaan seadanya. Apakah ini yang namanya keadilan?.
Sayangnya, kebijakan pendidikan selalu berfokus pada angka partisipatif dan laporan administratif. Lembaga PAUD bertambah, tetapi perhatian terhadap guru tertinggal. Pendidikan seolah dipahami sebagai bangunan dan program, bukan manusia yang hidup di dalamnya.
Jika PAUD betul diyakini sebagai fondasi pendidikan, maka keberpihakan pada guru PAUD harus lebih dari sekadar slogan. Menguatkan PAUD berarti menguatkan gurunya, melalui kebijakan, kesejahteraan dan pengakuan profesional. Tanpa itu, fondasi yang terus dipuji justru hanya akan menjadi bagian paling rapuh dari sistem pendidikan. (*)
*Penulis: Muh. Syawal








