PROFESI-UNM.COM-Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah perkuliahan secara signifikan. Materi kuliah kini bisa diakses hanya dengan beberapa sentuhan layar, diskusi berlangsung lewat ruang virtual, dan tugas dapat diselesaikan tanpa harus datang ke perpustakaan. Di satu sisi, teknologi jelas mempermudah kehidupan mahasiswa. Namun, di sisi lain, kemudahan itu perlahan menimbulkan pertanyaan yang jarang kita ajukan.
Sebagai mahasiswa, saya merasakan langsung bagaimana teknologi membuat kuliah terasa lebih praktis. Tidak perlu lagi mencatat panjang lebar karena dosen telah menyediakan file presentasi. Referensi tersedia melimpah di internet, bahkan ringkasan materi bisa ditemukan dalam hitungan detik. Sayangnya, kemudahan ini sering kali membuat proses belajar berubah dari usaha memahami menjadi sekadar aktivitas mengumpulkan tugas. Belajar tidak lagi dimaknai sebagai proses berpikir, melainkan sebagai kewajiban administratif yang harus selesai tepat waktu.
Banyak Akses, Minim Proses
Teknologi juga tanpa sadar membentuk kebiasaan instan di kalangan mahasiswa. Ketika menghadapi kesulitan memahami materi, pilihan pertama bukan lagi membaca ulang atau berdiskusi, tetapi mencari jawaban cepat di mesin pencari. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan daya tahan belajar perlahan menurun. Kita menjadi terbiasa dengan hasil, tetapi enggan menjalani proses. Padahal, makna belajar justru terletak pada pergulatan memahami sesuatu yang awalnya sulit.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam ruang kelas, kehadiran gawai sering kali menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia membantu mencatat, mencari referensi, dan mengakses bahan ajar. Namun di sisi lain, ia juga menjadi sumber distraksi yang tak terhindarkan. Notifikasi media sosial, pesan singkat, hingga konten hiburan dengan mudah mengalihkan fokus. Kuliah tetap berjalan, tetapi perhatian tidak sepenuhnya hadir. Kita ada secara fisik, namun pikiran berada di tempat lain.
Sebagai mahasiswa pendidikan, kondisi ini menjadi refleksi yang cukup serius. Jika sejak bangku kuliah kita terbiasa belajar secara instan dan dangkal, bagaimana kelak kita akan menanamkan makna belajar kepada peserta didik? Teknologi seharusnya menjadi alat bantu untuk memperdalam pemahaman, bukan jalan pintas yang menghilangkan esensi berpikir. Guru masa depan dituntut bukan hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu mengendalikan penggunaannya secara bijak.
Bukan berarti teknologi harus disalahkan sepenuhnya. Masalah utamanya bukan pada alat, melainkan pada cara kita menggunakannya. Ketika teknologi dipakai tanpa kesadaran pedagogis, ia justru menjauhkan mahasiswa dari proses belajar yang reflektif. Namun, jika dimanfaatkan dengan tepat melalui diskusi bermakna, eksplorasi mandiri, dan pembelajaran berbasis masalah teknologi justru dapat memperkaya pengalaman belajar.
Sudah saatnya mahasiswa berhenti memaknai kuliah hanya sebagai rangkaian tugas dan nilai. Belajar adalah proses membentuk cara berpikir, sikap, dan karakter. Teknologi memang mempermudah jalan, tetapi kita tetap perlu memilih arah. Jika tidak hati-hati, kemudahan yang kita nikmati hari ini justru akan mengikis makna belajar itu sendiri. (*)
*Penulis: Nurilmi







