[OPINI] Ketika Sekolah Lebih Sibuk Mengejar Prestasi daripada Kemanusiaan

Avatar photo

- Redaksi

Jumat, 26 Desember 2025 - 21:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Indi Rahmawati, (Foto: Ist.)

Potret Indi Rahmawati, (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Sekolah pada hakikatnya merupakan ruang pembentukan manusia, bukan sekadar pabrik pencetak prestasi akademik. Namun dalam praktiknya, orientasi pendidikan sering terjebak pada angka, peringkat, dan pencapaian lomba. Keberhasilan sekolah kerap diukur dari seberapa banyak piala yang diraih, bukan dari kualitas karakter peserta didik yang dibentuk. Kondisi ini menimbulkan paradoks “sekolah terlihat unggul secara statistik, tetapi abai terhadap nilai kemanusiaan”.

Baca Juga Berita :  [OPINI] Ancaman Tambang terhadap Ruang Hidup dan Kedaulatan Lahan Masyarakat Enrekang

Penekanan berlebihan pada prestasi mendorong siswa untuk terus berkompetisi tanpa jeda refleksi. Tidak sedikit peserta didik yang mengalami tekanan psikologis karena tuntutan nilai tinggi, sementara kebutuhan emosional mereka terabaikan. Pendidikan yang seharusnya memanusiakan justru berpotensi mengikis empati, solidaritas, dan rasa saling menghargai di antara siswa.

Baca Juga Berita :  IKBIM KIP UNM Adakan Kelas Evaluasi Mahasiswa KIP Kuliah FIS-H UNM

Sekolah perlu menyeimbangkan antara pencapaian akademik dan pembentukan karakter. Prestasi tetap penting, tetapi tidak boleh mengorbankan nilai kemanusiaan. Pendidikan yang bermakna adalah pendidikan yang mampu melahirkan individu cerdas, beretika, dan peduli terhadap sesama, bukan sekadar unggul dalam angka dan peringkat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

*Penulis : Indi Rahmawati

Berita Terkait

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 
[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi
[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis
[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.
[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan
[OPINI] Saat Pendidikan Kehilangan Mata Air Kemanusiaan: Sekolah yang Sibuk Mengukur, Tapi Lupa untuk Memeluk.
[ OPINI ] Ketika Pengabdian Guru Dijadikan Alasan untuk Membiarkan Ketidakadilan
[OPINI] Metafora Analitis Hukum Newton III dan Psikologi Kebijakan: Setiap Aksi Negara Melahirkan Reaksi Manusia
Berita ini 41 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:05 WITA

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:25 WITA

[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi

Senin, 8 Juni 2026 - 20:27 WITA

[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis

Jumat, 5 Juni 2026 - 00:32 WITA

[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.

Kamis, 4 Juni 2026 - 09:12 WITA

[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan

Berita Terbaru

Foto kegiatan LPM Penalaran UNM Pada Kegiatan Pelatihan Metodologi Penelitian (PMP) XXIX, (Foto: Ist.)

KILAS LK

Asah Kemampuan Riset, LPM Penalaran Gelar PMP XXIX

Senin, 22 Jun 2026 - 18:18 WITA

Potret Nurfadillah Pemenang Juara 2 Lomba Video Opini LPM Profesi, (Foto: Ist.)

Kilas Kampus

Raih Juara 2 Lomba Opini, Angkat Tema Pemanfaatan AI secara Bijak

Senin, 22 Jun 2026 - 17:54 WITA