[OPINI] Ketika Sekolah Lebih Sibuk Mengejar Prestasi daripada Kemanusiaan

Avatar photo

- Redaksi

Jumat, 26 Desember 2025 - 21:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Indi Rahmawati, (Foto: Ist.)

Potret Indi Rahmawati, (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Sekolah pada hakikatnya merupakan ruang pembentukan manusia, bukan sekadar pabrik pencetak prestasi akademik. Namun dalam praktiknya, orientasi pendidikan sering terjebak pada angka, peringkat, dan pencapaian lomba. Keberhasilan sekolah kerap diukur dari seberapa banyak piala yang diraih, bukan dari kualitas karakter peserta didik yang dibentuk. Kondisi ini menimbulkan paradoks “sekolah terlihat unggul secara statistik, tetapi abai terhadap nilai kemanusiaan”.

Baca Juga Berita :  Segera Daftar, MSIB Angkatan 5 Dibuka Hingga 7 Juni Mendatang

Penekanan berlebihan pada prestasi mendorong siswa untuk terus berkompetisi tanpa jeda refleksi. Tidak sedikit peserta didik yang mengalami tekanan psikologis karena tuntutan nilai tinggi, sementara kebutuhan emosional mereka terabaikan. Pendidikan yang seharusnya memanusiakan justru berpotensi mengikis empati, solidaritas, dan rasa saling menghargai di antara siswa.

Baca Juga Berita :  Aliansi BEM Se-kota Makassar Lakukan Aksi Hari Pendidikan Nasional

Sekolah perlu menyeimbangkan antara pencapaian akademik dan pembentukan karakter. Prestasi tetap penting, tetapi tidak boleh mengorbankan nilai kemanusiaan. Pendidikan yang bermakna adalah pendidikan yang mampu melahirkan individu cerdas, beretika, dan peduli terhadap sesama, bukan sekadar unggul dalam angka dan peringkat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

*Penulis : Indi Rahmawati

Berita Terkait

[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru
[OPINI] DAS Saddang kabupaten Enrekang: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Objek Investasi
[OPINI] Enrekang berada di persimpangan: Antara Kemajuan atau Kehilangan
[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM
[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa
[OPINI] Ancaman Tambang terhadap Ruang Hidup dan Kedaulatan Lahan Masyarakat Enrekang
Patriarki dalam Lembaga Kemahasiswaan UNM: Menggugat Ilusi Kesetaraan
[OPINI] Menara Pinisi di Bawah Bayang-Bayang Sepatu Laras
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 22:25 WITA

[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru

Selasa, 28 April 2026 - 21:00 WITA

[OPINI] DAS Saddang kabupaten Enrekang: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Objek Investasi

Selasa, 28 April 2026 - 20:08 WITA

[OPINI] Enrekang berada di persimpangan: Antara Kemajuan atau Kehilangan

Sabtu, 25 April 2026 - 11:39 WITA

[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM

Jumat, 24 April 2026 - 01:30 WITA

[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa

Berita Terbaru

Suasana Pelaksanaan Konferensi Ilmiah Internasional Secara Daring, (Foto: Ist)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Riset Mahasiswa Akuntansi Sabet Penghargaan Best Methodology Paper Artikel Ilmiah

Sabtu, 30 Mei 2026 - 23:37 WITA

Ilustrasi Mahasiswa Produktif di Tengah Libur Semester, (Foto: Ai.)

Berita Wiki

Libur Semester Jadi Kesempatan Mahasiswa Tingkatkan Diri

Sabtu, 30 Mei 2026 - 18:46 WITA

Ilustrasi Gejala Batuk yang Dapat Muncul Akibat Paparan Polusi Udara, (Foto: Int.)

Berita Wiki

Tips Mahasiswa Tangkal Maskne dan ISPA Akibat Polusi Udara

Jumat, 29 Mei 2026 - 23:56 WITA

Pamflet Pendaftaran Mahasiswa Baru Prodi Humas dan Komunikasi Digital, (Foto: Int.)

Fakutas Bahasa dan Sastra

Angkatan Pertama D-4 Humas dan Komunikasi Digital Resmi Dibuka

Jumat, 29 Mei 2026 - 23:48 WITA