PROFESI-UNM.COM – Setiap orang pasti memiliki gambaran tentang masa depannya, begitu pun dengan aku. Sejak masa sekolah menengah, aku telah menyusun berbagai rencana tentang masa depanku untuk melanjutkan pendidikanku nantinya, mulai dari jurusan sampai dengan perguruan tinggi yang akan kupilih nantinya. Di saat itu aku sering membayangkan diriku masuk ke jurusan yang cocok dengan kemampuanku. Namun, dalam semua hal itu, di sisi lain ada pilihan orang tua yang sudah pasti. Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang di mana tidak pernah ada dalam wishlist hidupku. Dalam setiap doa dan rencana itu, aku selalu merasa mengetahui apa yang terbaik untuk diriku, dan untungnya juga kedua orang tuaku juga memberikan kesempatan untuk tetap bisa memperjuangkan jurusan yang aku inginkan.
Ketika pengumuman penerimaan mahasiswa jalur tes SNBT aku mencoba untuk memilih jurusan yang aku inginkan (Biologi dan Pendidikan Bahasa Indonesia) di kampus yang sama yaitu Universitas Negeri Makassar. Namun, takdir berkata lain aku tidak lulus di kedua pilihan yang telah kupilih. Tapi langkahku untuk mencoba tidak hanya sampai disitu saja, pada tes mandiri kedua orang tuaku mulai menyarankan untuk menjadikan PGSD sebagai pilihan pertama dan jurusan pendidikan bahasa indonesia sebagai pilihan kedua. Ketika pengumuman kelulusan keluar, ada rasa syukur yang kuucapkan kepada Allah karena diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di kampus impian. Akan tetapi, bersamaan dengan itu muncul perasaan kecewa yang sulit untuk kuhindari saat itu. Dalam diamku, aku mempertanyakan keputusan-Nya,meski aku tahu bahwa Allah tidak pernah salah dalam menetapkan takdir pada setiap hamba-Nya.
Saat Keinginan Kalah oleh Ketetapan
Hari-hari saat awal aku menjalani perkuliahan sebagai mahasiswa jurusan PGSD ini menjadikan hari-hari saat aku merasa asing dan penuh tekanan batin saat berada di lingkungan yang baru, pelajaran yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Materi yang harus memahami dunia anak, menjadi contoh teladan bagi anak-anak, sosok yang sabar dan penuh teladan dan pengertian ini sering kali membuatku merasa tidak pantas sebagai calon pendidik di masa depan. Sebagai seorang perempuan, aku merasa terbebani oleh tanggung jawab besar yang kelak harus kuhadapi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, seiring berjalannya waktu, Allah perlahan-lahan melembutkan hatiku, di saat itu pula aku belajar ikhlas dan belajar untuk mencintai jurusanku. Di lingkungan PGSD ini juga memberikan aku banyak pelajaran hidup salah satunya, aku mulai belajar bahwa tidak semua keinginan manusia sejalan dengan rencana-Nya. Ada hikmah yang sering kali baru tampak ketika kita belajar untuk menerimanya dengan ikhlas. Aku sadar bahwa bukan aku saja yang menjalani jurusan yang dipilih oleh orang tua, tetapi banyak teman-teman yang juga merasakan hal itu. Di setiap hari dan pada setiap perkuliahan, setiap tugas yang diberikan, setiap nasihat yang diberikan oleh dosen, aku menjadikannya sebagai motivasi dan bagian dari proses pembentukan diriku, bukan hanya sekedar sebagai mahasiswi yang menjalani perkuliahan untuk mendapatkan gelar, tetapi aku ingin menjadi mahasiswi yang bisa tumbuh sebagai seorang sosok guru yang bisa membangun generasi yang lebih cemerlang.
Pengalaman berinteraksi dengan anak-anak saat pertama kali observasi ke salah satu Sekolah Dasar (SD) di kota Makassar membuat mataku terbuka tentang arti sebuah amanah. Di saat itu pun aku menyadari bahwa menjadi guru sekolah dasar bukan sekedar profesi melainkan juga ladang ibadah. Di tangan seorang guru, terutama di tangan seorang perempuan yang di mana tertanam peran pendidik pertama yang ada di luar lingkungan keluarga. Dari situlah nilai kejujuran, kesabaran, kesadaran, dan keimanan mulai tertanam. Inilah yang membuatku mulai menyadari dan memahami bahwa PGSD bukan jurusan yang rendah atau sekedar pilihan cadangan dari kedua orang tuaku, melainkan jalan pengabdian yang mulia di mata sang pencipta.
Dari inilah motivasiku tumbuh bahwa setiap langkah yang kutumbuh berada dalam pengawasan Allah Swt. Ketika aku mulai mengikhlaskan pilihan ini, hatiku pun menjadi lebih lapang. Aku belajar bahwa menerima takdir bukan berarti menyerah, ini melainkan percaya bahwa Allah sedang menyiapkan peranku di tempat yang tepat menurut takdir. Jurusan yang dulunya ingin aku tolak kini justru mengajarkanku makna sabar, syukur, dan bertanggung jawab.
Kini aku menjalani perkuliahan dan sudah berada di fase semester 3 di PGSD UNM dengan penuh semangan dengan sudut pandang yang sudah berbeda. Aku tidak lagi fokus pada apa yang tidak dapat aku raih,melainkan fokus pada apa yang Allah titipkan kepadaku. Aku percaya bahwa setiap ilmu yang aku pelajari akan menjadi bekalku di masa depan,bukan hanya untuk di dunia tetapi juga sebagai amal jariyah untuk di akhirat kelak.
Menjalani jurusan yang tidak pernah ada di wishlist ku juga memberikan satu pelajaran penting bagi hidupku, rencana Allah lebih indah daripada rencana manusia. Sebagai seorang perempuan, aku menjadi bisa belajar untuk ikhlas, sabar, percaya pada proses serta percaya bahwa di setiap jalan yang Allah pilihkan, akan selalu ada kebaikan yang sedang dia siapkan untukmu.
*Penulis: Miftahurrahma







