PROFESI-UNM.COM – Ketua Umum terpilih Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (BEM FT UNM), S. Muammar Qadhafi, menegaskan komitmennya membangun solidaritas internal pengurus serta menguatkan budaya diskusi dan literasi di lingkungan Fakultas Teknik (FT) UNM, Senin (16/2).
Muammar menyebut solidaritas sebagai fondasi utama dalam menjalankan roda organisasi selama satu periode kepengurusan. Ia menilai kerja kolektif harus menjadi prinsip bersama agar tujuan organisasi dapat tercapai secara.
“Solidaritas internal pengurus yang saya inginkan itu pertama perlunya kolektivitas dalam kerja organisasi. Kita tidak bisa kerja sendirian dan tidak bisa hanya satu orang yang bersinar,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Terkait fasilitas dan transparansi anggaran di lingkup Fakultas Teknik UNM, Muammar menegaskan BEM FT UNM akan mengawal sejumlah persoalan strategis. Ia menyoroti pembangunan Gedung Teknol yang hingga kini masih berada pada tahap taksasi.
Menurutnya, mahasiswa berhak mendapatkan fasilitas yang layak, terlebih dengan besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang harus dibayarkan.
“Insyaallah kita akan kawal persoalan gedung teknol. Fasilitas yang nyaman perlu untuk mahasiswa dengan UKT yang cukup besar hari ini,” jelasnya.
Muammar menilai advokasi anggaran harus menjadi perhatian serius lembaga kemahasiswaan.
Lebih lanjut, Muammar mengungkapkan pencalonannya berangkat dari keinginan agar Fakultas Teknik lebih mengedepankan nilai intelektual serta memperkuat fungsi advokasi mahasiswa. Ia menilai mahasiswa perlu berperan aktif sebagai social control terhadap kebijakan yang diambil pemangku kepentingan.
“Saya menginginkan FT hari ini lebih mengedepankan nilai intelektual dan menjaga langkah advokasi pengawalan mahasiswa. Kita sebagai mahasiswa perlu menjadi social control dari kebijakan yang ada,” tuturnya.
Menanggapi apatisme mahasiswa terhadap organisasi kemahasiswaan, Muammar menilai pendekatan persuasif lebih relevan dibandingkan paksaan.
“Kita tidak bisa memaksakan pikiran seseorang. Tapi bagaimana kita menjaga budaya diskusi dan kajian sehingga menjadi kebiasaan di dalam FT. Output-nya mahasiswa yang apatis akan melihat sisi lain dari diskusi dan literasi,” tutupnya. (*)
*Reporter: Muhammad Rusman







