PROFESI-UNM.COM — Ikatan Pelajar Pemuda Mahasiswa (IPPM) Pangkep Koordinator UNM periode 2025–2026 menggelar Bazar Dialog mengangkat tema “Realisasi Pendidikan di Indonesia: Antara Anggaran Besar & Realita di Lapangan” sebagai bentuk refleksi kritis.
Ketua IPPM Pangkep Koord. UNM, Muh. Rafli, mengungkapkan bahwa pemilihan tema tersebut dilatarbelakangi adanya jarak yang cukup besar antara anggaran pendidikan yang tinggi di tingkat nasional dengan realitas yang dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya di Kabupaten Pangkep.
“Kami melihat langsung ketimpangan fasilitas, keterbatasan guru, dan akses pendidikan di wilayah pesisir maupun pelosok. Karena itu, bazar dialog ini menjadi upaya menghadirkan perspektif daerah dalam evaluasi pendidikan nasional,” ujarnya, Jumat (13/2).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
IPPM Pangkep Soroti Ketimpangan Pendidikan Daerah
Menurutnya, isu pendidikan sengaja mereka jadikan fokus utama dalam periode kepengurusan 2025–2026 karena pendidikan merupakan fondasi pembangunan daerah sekaligus penentu masa depan generasi Pangkep. Ia menilai, persoalan pendidikan tidak hanya bersifat nasional, tetapi memiliki dampak
nyata di tingkat lokal.
“Mulai dari keterbatasan fasilitas sekolah, kesenjangan kualitas antarwilayah, hingga sulitnya akses pendidikan lanjutan bagi masyarakat kurang mampu, semuanya masih menjadi tantangan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Rafli menegaskan bahwa IPPM Pangkep Koord. UNM ingin bertransformasi menjadi ruang intelektual yang responsif terhadap persoalan daerah, bukan sekadar organisasi berbasis kekeluargaan.
“Di periode ini, kami ingin membangun kesadaran kritis kader agar mampu melihat hubungan antara kebijakan nasional dan realitas yang dialami masyarakat Pangkep secara langsung,” katanya.
Melalui kegiatan bazar dialog tersebut, IPPM Pangkep Koord. UNM berharap dapat menghimpun gagasan dan aspirasi mahasiswa maupun masyarakat sebagai bahan refleksi dan advokasi pendidikan, khususnya bagi daerah.
Ia juga menyampaikan pesan kepada pemerintah agar memastikan anggaran pendidikan tidak hanya besar secara nominal, tetapi benar-benar merata. Selain itu lebih transparan dan berdampak langsung pada peningkatan kualitas sekolah, terutama di daerah terpencil dan tertinggal.
Sebagai ketua, Rafli menyatakan komitmennya untuk menjadikan IPPM Pangkep Koord. UNM sebagai ruang penguatan intelektual dan advokasi pendidikan melalui diskusi, pendampingan akademik, serta gerakan kesadaran pendidikan di daerah.
Dengan terselenggaranya bazar dialog ini, IPPM Pangkep Koord. UNM berharap mampu menjadi jembatan antara kebijakan nasional dan kebutuhan riil masyarakat daerah dalam upaya mewujudkan pendidikan yang lebih adil dan merata. (*)
*Reporter: Muhammad Rusman







