PROFESI-UNM.COM — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar aksi unjuk rasa di depan Menara Pinisi UNM pada Rabu, (19/26). Aksi turun ke jalan ini menjadi pemantik awal untuk menyuarakan gerakan Reformasi Jilid Dua sekaligus memperluas jaringan konsolidasi mahasiswa.
Pelaksana Tugas (Plt) Presiden BEM UNM, Nur Intan Maharani Ilyas, menjelaskan bahwa aksi yang internal kampus oranye bangun ini merupakan bentuk kampanye awal. Hal itu guna untuk merawat resistensi gerakan mahasiswa.
“Jadi aksi yang kawan-kawan dari BEM UNM bangun hari ini itu adalah aksi kampanye untuk menyuarakan terkait dengan, harapannya kita adalah reformasi jilid 2. Juga, untuk memperluas kembali jaringan konsolidasi. Jadi hari ini kita turun dulu dari internal UNM,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Nur Intan membeberkan ada beberapa poin tuntutan utama yang menjadi sorotan penting dalam evaluasi kritis mahasiswa terhadap kondisi negara saat ini. Isu-isu nasional tersebut kemudian dirangkum ke dalam satu jargon besar gerakan.
“Kalau dilihat daripada green review nya, tuntutan utama ya terutama persoalan pemborosan APBN yang terkait dengan MBG (Makan Bergizi Gratis), kemudian Kabinet Merah Putih, terus RUU Polri yang kemarin disahkan. Makanya kita bungkus semua dia jadi satu reformasi jilid 2, Publik Indonesia Sekarang,” tambahnya.
BEM Gelar Aksi Unjuk Rasa di Depan Menara Pinisi
Tidak hanya menyoroti isu nasional, massa aksi juga membentangkan spanduk penolakan terkait komersialisasi dan kebijakan anggaran di sektor pendidikan. BEM UNM secara tegas menolak wacana masuknya program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke dalam wilayah kampus. Hal tersebut karena berpotensi mengaburkan fokus pembenahan subsidi biaya kuliah mahasiswa.
“Sebelumnya ada kabar atau teriakan bahwasanya MBG itu akan masuk kampus, termasuk dengan kampus yang di sebelah itu sudah disuarakan oleh kawan-kawan mahasiswa. Jadi sebelum itu betul-betul terjadi di UNM, kita menjemput isu ini karena kita betul-betul menolak adanya MBG atau SPP/UKT masuk di dalam kampus,” tegasnya
Menanggapi situasi nasional yang kerap dianalogikan sebagai “Indonesia Gelap” di bawah rezim pemerintahan Prabowo-Gibran. Nurintan menyayangkan gerakan mahasiswa yang belakangan ini sering kali hanya bersifat momentum belaka tanpa adanya keberlanjutan yang kuat. Oleh karena itu, sebagai pemelihara nyala api perjuangan di Makassar.
“Sejak rezim Prabowo-Gibran dengan Kabinet Merah Putih ya sudah banyak sekali kemudian isu-isu yang kawan-kawan mahasiswa suarakan. Tapi sampai hari ini, saya rasa gerakan dari kawan-kawan itu kadang hanya momentum aja gitu. Jadi kawan-kawan hari ini dari Universitas Negeri Makassar berusaha untuk menjaga resistensi gerakan kita,” ujarnya.
Di akhir wawancara, ia menegaskan bahwa aksi unjuk rasa sore ini barulah sebuah permulaan. Ke depan, mahasiswa UNM berkomitmen untuk terus mengawal isu ini hingga terjadi perubahan yang masif di Indonesia.
“Harapannya adalah kita bisa betul-betul sampai ke reformasi jilid 2 atau bahkan revolusi. Akan ada gelombang aksi yang lebih besar lagi,” kuncinya. (*)
*Reporter: Muh Apdal Adriansyah







