PROFESI-UNM.COM – Kerusakan Air Conditioner (AC) di ruangan BE 201 menimbulkan keresahan oleh Mahasiswa Pendidikan Sejarah karena menganggu pembelajaran belajar mengajar di kelas.
Sebelumnya, keluhan mahasiswa pendidikan sejarah terkait AC yang tidak berfungsi dan bocor terjadi diruangan BE 201. Hal tersebut telah berlangsung sejak setelah renovasi kelas.
Risma selaku Wakil Dekan II (WD 2) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H) Universitas Negeri Makassar (UNM) memberikan tanggapan terkait dengan kerusakan Air Conditioner (AC) dan bocor di ruangan kelas BE 201. Hal ini ia sampaikan pada saat ditemui kru Profesi di ruangannya pada hari Kamis, (4/12).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Risma menjelaskan bahwa kapasitas listrik yang tersedia tidak memadai untuk mengoperasikan seluruh unit pendingin udara AC di ruang kelas. Situasi ini, disebabkan oleh sistem kelistrikan yang ada, di mana listrik untuk semua kebutuhan menyambung di satu sambungan utama bersama dengan unit AC.
“Listrik di kami itukan tidak cukup untuk menyalakan semua karena permasalahan awal kita itu adalah listrik itu nyambung, nyantel di satu sambungan dengan AC,” jelasnya.
Dia menambahkan sudah pernah mengambil inisiatif meminta pengadaan dari kontraktor untuk memisahkan sambungan kabel AC namun tidak mudah untuk di tangani secara langsung karena fakultas hanya menjadi tempat koordinasi.
“Kita sudah pernah minta pengadaannya ke kontraktornya supaya dipisah ki itu biar nd jeblek yang jadi masalah itu ndak mudah gitu loh ditangani langsung, karena kami di fakultas itu hanya seperti tempat koordinasi aja,” tambahnya.
Selain itu, pengadaan perbaikan kelas yang dilakukan sebelumnya menggunakan dana langsung dari kantor pusat pihak fakultas hanya berkoordinasi mengenai penentuan target perbaikan.
“Kemarin yang pengadaan perbaikan gedung itu dari kantor pusat, kami hanya berkoordinasi ruang mana nih yang akan jadi target perbaikan,” terangnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan dalam memperbaiki sarana dan prasarana itu membutuhkan tahapan yang terstruktur sehingga membutuhkan waktu untuk dapat menjangkau seluruh fasilitas yang memerlukan pembenahan.
“Mereka itu memperbaiki juga bertahap” jelasnya.
Risma juga memaparkan pengadaan barang dan perbaikan fasilitas tidak langsung ada sekaligus dalam satu waktu.
“Persoalannya kita tidak dengan serta merta juga bisa langsung punya semuanya”, paparnya.
Risma menyebutkan tegas bahwa sepuluh kelas standar yang diperbaiki adalah sebuah capaian yang patut diapresiasi karena pimpinan telah menunjukkan kepedulian terhadap fasilitas sarana dan prasarana.
“Kemarin saja itu sepuluh kelas standar itu sudah sangat luar biasa lompatannya menurut saya, karena akhirnya pimpinan peduli dengan itu,” tegasnya.
Risma mengungkapkan di semua kelas standar sudah mempunyai smart TV yang telah diadakan, dia menerangkan bahwa saat ini sudah tersedia dan siap di pasang pada setiap kelas, terhitung ada dua puluh unit Smart TV, namun meskipun perangkat sudah ada dia masih menagguhkann karena mempertimbangkan bersama Lembaga Kemahasiswaan perihal keamanan ruangan.
“Terus di kelas standar itu seharusnya sudah terpasang smart TV sudah diadakan ada smart TV setiap kelas sudah ready karena terhitung kemarin sudah ada dua puluh tapi kenapa tidak dipasang di kelas, saya diskusi dengan Bem, dengan Maperwa dengan teman teman HMPS ini gimana kita pasang atau tidak karena persoalan keamanan dibelakang teman teman mahasiswa nggak berani” terangnya.
Risma mengharapkan kelas ideal dapat segera terwujud meskipun begitu dia kembali pada kesepakatan bersama soal
“Kita mau kelas ideal persoalannya apakah kita bisa sama sama sepakat” harapnya
Dia menutup pembicaraan dengan memberikan kepastian akan memperbaiki sarana AC paling cepat satu sampai dua hari setelah menelpon kontraktor.
“Untuk Pak Reno sudah janji mau suruh tukang ke belakang biasanya satu dua hari,” pungkasnya. (*)
*Reporter: Muhammad Syarief







