Tips Menghindari Toxic Productivity

Avatar photo

- Redaksi

Sabtu, 12 April 2025 - 00:50 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi seseorang yang kelelahan, (Foto: Int.)

ilustrasi seseorang yang kelelahan, (Foto: Int.)

toxic
ilustrasi seseorang yang kelelahan, (Foto: Int.)

PROFESI-UNM.COM – Di tengah gempuran budaya kerja cepat dan tuntutan untuk selalu produktif, banyak orang tanpa sadar terjebak dalam siklus toxic productivity. Mereka merasa harus terus bekerja, seolah istirahat adalah bentuk kemalasan. Padahal, dorongan yang berlebihan untuk selalu sibuk justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental. Menghindari toxic productivity bukan berarti menjadi malas atau tidak bertanggung jawab, melainkan tentang bagaimana menyeimbangkan hidup dan memaknai produktivitas secara lebih sehat.

Salah satu langkah penting untuk menghindari jebakan ini adalah dengan menetapkan batasan yang jelas antara waktu bekerja dan waktu istirahat. Banyak orang merasa bersalah ketika tidak sedang melakukan sesuatu yang “bermanfaat”, padahal tubuh dan pikiran manusia membutuhkan jeda. Mulailah dengan menyadari bahwa bekerja tanpa henti tidak akan membuat kita lebih sukses, justru memperbesar kemungkinan burnout. Luangkan waktu khusus untuk benar-benar berhenti dari pekerjaan, jauh dari layar, email, atau notifikasi. Jadwal kerja yang teratur dan waktu istirahat yang konsisten adalah kunci untuk menjaga keseimbangan.

Baca Juga Berita :  Tips Persiapan Menjelang UAS

Selain itu, penting untuk menjaga kesehatan mental dan fisik dengan serius. Produktivitas seharusnya tidak datang dengan mengorbankan tidur, olahraga, atau hubungan sosial. Aktivitas seperti berjalan santai, berbicara dengan teman, membaca buku, atau sekadar bermalas-malasan sejenak di rumah bisa menjadi bentuk perawatan diri. Jangan abaikan sinyal tubuh yang lelah atau pikiran yang mulai tidak fokus—itu tanda bahwa kamu butuh istirahat, bukan dorongan untuk bekerja lebih keras.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mindfulness 5 Menit, Latihan Sederhana Hidup Lebih Tenang

Untuk benar-benar keluar dari pola toxic productivity, kita juga perlu mengubah cara pandang terhadap kesibukan. Budaya hustle sering kali menanamkan ide bahwa semakin sibuk seseorang, semakin bernilai dirinya. Padahal, nilai seseorang tidak hanya diukur dari hasil kerja atau pencapaian profesional. Kurangi paparan terhadap konten yang menormalisasi kerja berlebihan dan mulai bangun definisi produktivitas versi diri sendiri—yang tidak menyakiti dan tetap menghargai kebutuhan akan ketenangan.

Mengatur ekspektasi juga menjadi bagian penting dalam proses ini. Jangan memaksa diri untuk menyelesaikan segalanya dalam satu waktu. Sadari bahwa tidak semua hari akan produktif, dan itu tidak apa-apa. Terkadang, memilih untuk tidak melakukan apa-apa justru bisa membawa efek positif yang besar. Daripada mengukur keberhasilan dari banyaknya pekerjaan yang diselesaikan, cobalah menilai dari kualitas perhatian yang kamu berikan pada setiap hal yang kamu lakukan.

Baca Juga Berita :  Begadang dan Deadline Jadi ‘Teman’ Mahasiswa di Akhir Semester

Terakhir, penting untuk jujur pada diri sendiri. Tanyakan: Apakah saya bekerja terus-menerus karena memang ada kebutuhan mendesak, atau karena saya takut dianggap tidak produktif? Apakah saya masih bisa menikmati hal-hal kecil di luar pekerjaan, atau semuanya terasa seperti beban? Pertanyaan-pertanyaan ini bisa menjadi cermin untuk melihat apakah kamu masih bekerja secara sehat, atau sudah terjebak dalam pola yang tidak berkelanjutan.

Menghindari toxic productivity bukanlah proses instan, tetapi mulailah dari keberanian untuk berkata cukup, dan mengizinkan diri untuk beristirahat tanpa rasa bersalah. Produktivitas yang sehat bukan tentang seberapa sibuk kamu setiap saat, tapi seberapa seimbang kamu menjalani hidup.

Berita Terkait

Cara Mahasiswa Mengatasi Frustrasi Saat Dikejar Laporan
Mahasiswa Baru Wajib Tahu, Begini Etika Ngechat Dosen
Bahaya Microsleep bagi Keselamatan dan Kesehatan Pengguna Jalan
Begadang dan Deadline Jadi ‘Teman’ Mahasiswa di Akhir Semester
Pengaruh Beauty Content TikTok terhadap Kepercayaan Diri Remaja
Kebiasaan Menunda Tugas Masih Jadi Masalah Mahasiswa
Kenali Pengaruh Gaya Hidup terhadap Kesehatan yang Perlu Diketahui
Psikologi Warna dan Makna Mendalam di Balik Spektrum Visual
Berita ini 56 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 17:03 WITA

Cara Mahasiswa Mengatasi Frustrasi Saat Dikejar Laporan

Jumat, 8 Mei 2026 - 16:54 WITA

Mahasiswa Baru Wajib Tahu, Begini Etika Ngechat Dosen

Jumat, 8 Mei 2026 - 16:51 WITA

Bahaya Microsleep bagi Keselamatan dan Kesehatan Pengguna Jalan

Jumat, 8 Mei 2026 - 16:42 WITA

Begadang dan Deadline Jadi ‘Teman’ Mahasiswa di Akhir Semester

Jumat, 8 Mei 2026 - 16:15 WITA

Pengaruh Beauty Content TikTok terhadap Kepercayaan Diri Remaja

Berita Terbaru

Potret Tim MP Ekolibrium Feb UNM setelah Meraih Prestasi Pada Ajang LEC 2026,(Foto:Ist.)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

MP Ekolibrium FEB Raih Prestasi di Lombok Essay Competition 2026

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:02 WITA

Foto Bersama Mahasiswa dan Dosen Program Studi D4 Tata Boga FT UNM, (Foto: Ratna Wulandari)

Fakultas Teknik

Cipta Karya Boga Hadirkan Kolaborasi Mahasiswa, Industri, dan Sekolah

Selasa, 12 Mei 2026 - 18:40 WITA

Sesi foto bersama dalam agenda pelatihan penulisan berita dan persuratan, (Foto: St. Masyita Rahmi)

Fakultas Teknik

FT Gelar Pelatihan Persuratan, Dekan Singgung Target PPK Ormawa Nasional

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:50 WITA