PROFESI-UNM.COM – Universitas Negeri Makassar (UNM) secara resmi melakukan langkah besar dalam transformasi tata kelola akademiknya. Program Pascasarjana (PPs) UNM kini menyerahkan sepenuhnya pengelolaan Program Monodisiplin Magister (S2) dan Doktor (S3) kepada masing-masing fakultas di lingkungan universitas.
Sebelumnya, prosesi penyerahan dan penandatanganan ini berlangsung di Ruang Rapat Pimpinan Menara Pinisi, Senin (19/1). Penyerahan ini dengan penandatanganan berita acara serah terima oleh Direktur PPs Sapto Haryoko kepada para dekan fakultas penerima dan Pelaksana Harian (Plh) Rektor UNM, Farida Patittingi beserta jajarannya menyaksikan proses tersebut
Dalam wawancara lebih lanjut, Direktur Pascasarjana UNM, Sapto Haryoko, menjelaskan bahwa kebijakan ini berdasar pada aturan Organisasi dan Tata Kerja (OTK) terbaru untuk memudahkan pengembangan disiplin ilmu secara berurutan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dasar hukumnya itu kuat, terdorong oleh munculnya OTK Permendiktisaintek No. 34. Pasalnya jelas bahwa untuk prodi-prodi monodisiplin diintegrasikan di fakultas secara akademis untuk memudahkan yang namanya pengembangan ilmu,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia merinci bahwa pengalihan ini hanya berlaku bagi program studi yang memiliki basis ilmu tunggal atau memiliki jenjang S1 di fakultas terkait. Sementara itu, program yang bersifat lintas ilmu akan tetap di bawah naungan Pascasarjana.
“Monodisplin itu misalnya ada S1 nya di fakultas, seperti Bahasa Inggris atau Matematika, itu harusnya integrasikan di fakultas. Kecuali yang multidisiplin, yaitu prodi yang mahasiswanya berasal dari latar belakang berbeda-beda, itu tetap dikelola oleh Pascasarjana,” lanjutnya.
Sementara itu, meskipun terjadi transisi pengelolaan Sapto menjamin bahwa standar akademik dan kurikulum yang berlaku tidak akan mengalami perubahan. Pengalihan ini murni bersifat administratif dan manajerial.
“Mestinya tidak berubah, kurikulum tetap sama hanya pengelolanya atau tempatnya saja yang berubah. S2 Matematika ya tetap Matematika, tidak ada perubahan kalau itu hanya pengelolanya,” tegasnya.
Direktur PPs UNM Tekankan Transisi Harus Mudahkan Mahasiswa
Terkait teknis masa transisi, ia mengimbau agar fakultas melakukan langkah-langkah bertahap agar tidak menimbulkan kendala bagi mahasiswa. Ia menekankan pentingnya fleksibilitas dalam pelayanan selama proses adaptasi berlangsung.
“Saran saya lebih baik bertahap. Filosofinya, perubahan apa pun namanya jangan sampai merugikan mahasiswanya. Kalau di fakultas sulit, kenapa tidak dimudahkan di sini? Itu filsafat saya,” ungkapnya.
Selanjutnya, mantan Wakil Dekan (WD) 4 Fakultas Teknik (FT) UNM ini juga menambahkan komitmennya dalam menjaga integritas lembaga dengan menghapuskan praktik pungutan tidak resmi selama masa jabatannya.
“Saya sudah mencoba meletakkan dasar di Pascasarjana, sudah hampir 2 tahun ini sudah bersih yang namanya amplop-amplop. Tidak ada lagi yang seperti itu,” tegasnya.
Menutup keterangannya, guru besar kelahiran Yogyakarta ini berharap pengalihan ke fakultas dapat meningkatkan kualitas jurnal dan mempercepat masa studi mahasiswa. Ia mengingatkan mahasiswa untuk lebih serius dan mampu menentukan prioritas antara pekerjaan dan pendidikan.
“Harapan saya kualitas dapat meningkat dan kecepatan studi juga naik. Hidup itu adalah pilihan, tidak bisa semuanya diambil. Harus ada skala prioritas mana yang paling penting dan mendesak. Itulah bedanya orang sekolah dan tidak sekolah, pikirannya harus jernih dan terstruktur,” pungkasnya. (*)
*Reporter: Hafid Budiawan







