PROFESI-UNM.COM – Personal branding menjadi salah satu aspek penting bagi mahasiswa di era digital. Di tengah persaingan akademik dan dunia kerja yang semakin kompetitif, mahasiswa tidak hanya dapat memiliki prestasi akademik, tetapi juga citra probadi yang positif dan profesional.
Secara umum, personal branding adalah proses membangun identitas, nilai, dan keunggulan diri yang konsisten agar publik lebih mengenal kita. Konsep ini berasal oleh Tom Peters melalui gagasan “The Brand Called You”, yang menekankan bahwa setiap individu pada dasarnya adalah sebuah merek yang harus terkelola dengan baik.
Bagi mahasiswa, personal branding dapat terentuk melalui berbagai cara, seperti aktif dalam organisasi. Selain itu, mengikuti kompetisi, menghasilkan karya tulis, serta membangun portofolio digital. Media sosial dan platform profesional seperti LinkedIn dan Instagram bermanfaat mulai dari menampilkan pencapaian, proyek, maupun gagasan yang relevan dengan bidang studi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dosen komunikasi di Universitas Negeri Makassar menjelaskan bahwa personal branding bukan sekadar pencitraan, melainkan representasi dari kompetensi dan konsistensi perilaku.
Namun, pakar literasi digital mengingatkan bahwa personal branding harus dibangun secara etis. Jejak digital yang tidak terkontrol dapat berdampak negatif pada reputasi jangka panjang, terutama saat memasuki dunia kerja. Oleh karena itu, besar harapan agar mahasiswa lebih selektif dalam membagikan konten serta menjaga profesionalisme di ruang publik digital.
Dengan strategi yang tepat, personal branding dapat menjadi modal sosial yang kuat. Mahasiswa yang mampu membangun citra diri secara positif dan konsisten dinilai memiliki peluang lebih besar untuk memiliki citra yang luas. Selain itu, terpercaya, dan tingkat keterima di dunia profesional. (*)
*Reporter: Nurul Adhani Ilham







