PROFESI-UNM.COM – Seminar Nasional Gizi 2025 menghadirkan Veni Hajdu, Guru Besar Universitas Hasanuddin (UNHAS), sebagai pembicara utama. Kegiatan ini berlangsung di Ballroom Teater Lantai 3 Menara Pinisi Universitas Negeri Makassar (UNM) pada Selasa (21/10).
Dalam pemaparannya di seminar nasional, Veni hadju yang merupakan pakar gizi masyarakat dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang pendidikan, riset, advokasi, dan kesehatan, membawakan materi bertema “Peran Gizi dalam Meningkatkan Konsentrasi, Produktivitas, dan Kesehatan Mental Generasi Muda.”
Beliau menjelaskan bahwa gizi tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan aspek politik, ekonomi, dan kebijakan publik. Menurutnya, akses terhadap pangan bergizi sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau orang bicara gizi, jangan hanya pikir makanan. Gizi juga berhubungan dengan politik dan ekonomi, karena untuk makan pun kita perlu kemampuan finansial dan kebijakan yang mendukung,” jelasnya.
Dalam seminar tersebut Veni hadju memaparkan data bahwa negara-negara seperti Belanda, Jepang, dan Korea Selatan berhasil meningkatkan rata-rata tinggi badan penduduknya melalui pola makan, pendidikan, dan kemajuan teknologi. Ia mencontohkan Belanda yang kini menjadi negara dengan tinggi badan rata-rata tertinggi di dunia, yaitu 186 sentimeter.
“Perbaikan gizi terbukti berpengaruh terhadap kualitas manusia. Korea Selatan bahkan berhasil melampaui Jepang dalam potensi tinggi badan karena fokus pada pendidikan dan gizi masyarakatnya,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia jugamenekankan bahwa peningkatan gizi berkaitan langsung dengan daya saing ekonomi negara. Negara dengan gizi masyarakat yang baik cenderung memiliki tingkat kecerdasan dan produktivitas tinggi, yang mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ia menunjukkan bahwa Indeks Kompleksitas Ekonomi (Economic Complexity Index) Korea Selatan meningkat pesat dari peringkat 21 pada tahun 1995 menjadi peringkat keempat dunia, sedangkan Indonesia masih berada di urutan 51, bahkan kini tertinggal dari Vietnam.
Dalam paparannya,Veni hadju juga menyoroti tiga masalah gizi utama di Indonesia, yaitu, Kekurangan gizi makro, Stunting (tinggi badan tidak sesuai usia), dan Wasting (berat badan tidak proporsional terhadap tinggi badan).
Berdasarkan Survei SKI 2023, prevalensi anak kurus di Indonesia masih tinggi. Untuk tingkat SMA, angka wasting mencapai 27 persen pada laki-laki dan 78,6 persen pada perempuan. Kondisi ini, katanya, dapat berdampak pada kualitas generasi penerus bangsa.
“Banyak anak sekolah di daerah datang tanpa sarapan dan harus berjalan kaki hingga 10 kilometer. Bagaimana mereka bisa belajar dengan baik kalau energi tidak cukup” tuturnya.
Sebagai solusi, Veni hadju mendorong penguatan program Makan Bergizi (MBG) di sekolah dan peningkatan edukasi gizi bagi masyarakat. Ia juga menegaskan pentingnya kerja sama antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam menekan angka stunting dan wasting.
“Gizi adalah pondasi utama bagi generasi muda yang sehat, cerdas, dan produktif. Kalau kita ingin Indonesia maju, perhatian terhadap gizi harus dimulai sejak dalam kandungan,” pungkasnya.(*)
*Reporter: Muh Apdal Adriansyah







