PROFESI-UNM.COM – Himpunan Mahasiswa Administrasi Pendidikan (Hima AP) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Makassar (UNM) sukses menggelar Seminar Nasional bertajuk “Kesehatan Mental Perempuan di Tengah Tekanan Sosial dan Peran Ganda”. Kegiatan ini menghadirkan psikolog Irma Gustiana Andriani sebagai narasumber di Ruang Pola Sipakatau, Makassar, Sabtu (28/2).
Dalam pemaparannya, Irma menjelaskan bahwa masalah kesehatan mental pada perempuan sering kali oleh ketidakmampuan mengelola amygdala bagian otak yang bekerja saat manusia merasa terancam atau stres. Kondisi ini membuat seseorang masuk ke dalam mode bertahan (fight or flight) yang menghambat logika otak depan untuk berpikir jernih.
“Kalau kita emosi, otak bagian depan tidak bisa fokus. Banyak mahasiswa merasa sulit mengerjakan tugas bukan karena malas, tapi karena otaknya sedang emosi dan merasa terancam,” jelas Irma.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Narasumber Sorot Fenomena Self Silencing
Irma juga menyoroti fenomena self silencing atau kecenderungan perempuan untuk memendam perasaan demi menjaga keharmonisan lingkungan. Menurutnya, hal ini sangat berbahaya karena beban emosi yang menumpuk dapat bermanifestasi menjadi gangguan fisik (psikosomatik) seperti sakit kepala kronis, gangguan lambung, hingga insomnia.
“Tubuh kita menyimpan memori emosi. Sering sakit kepala atau maag bisa jadi tanda kita sedang memendam stres. Jangan diabaikan, ini adalah sinyal dari tubuh bahwa kita sedang tidak baik-baik saja,” tambahnya.
Dalam sesi tanya jawab, Dian Sakitri, mahasiswa PGPAUD, melontarkan kegelisahannya mengenai cibiran masyarakat terhadap perempuan yang menempuh pendidikan tinggi namun dianggap “ujung-ujungnya ke dapur”.
Menanggapi hal tersebut, Irma menekankan bahwa pendidikan bagi perempuan adalah investasi jangka panjang dan bentuk perlindungan diri agar lebih mandiri dan berdaya.
“Cibiran orang lain adalah refleksi ketidakamanan mereka, bukan tentang kita. Pendidikan tinggi bagi perempuan bukan sekadar gelar, tapi modal untuk membangun motivasi belajar anak. Ingat ibu yang berpendidikan sangat memengaruhi IQ anak,” tegasnya.
Pada akhir materi, Irma memberikan solusi praktis berupa teknik relaksasi breathing (pernapasan) dan pentingnya self-compassion atau menyayangi diri sendiri. Ia mengajak para perempuan untuk berani menetapkan batasan (boundaries) dan tidak memaksakan diri menjadi sempurna dalam segala peran.
“Menetapkan batasan adalah bentuk penghormatan kepada diri sendiri. Tidak perlu merasa fomo atau harus sempurna. Yang penting kita bahagia dan mental kita sehat,” tutupnya.(*)
*Reporter: Muh Apdal Adriansyah






