PROFESI-UNM.COM – Pada era modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan perubahan sosial yang sangat cepat, sistem pendidikan seharusnya mampu beradaptasi dengan realita kehidupan masyarakat. Namun, pada kenyataannya, sistem pendidikan saat ini masih menunjukkan banyak ketidaksesuaian dengan kondisi nyata yang dihadapi peserta didik. Pendidikan sering kali berjalan secara ideal di atas kertas, tetapi belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan riil di lapangan.
Salah satu masalah utama adalah kurikulum yang terlalu padat dan berorientasi pada capaian akademik semata. Peserta didik dituntut untuk menguasai banyak materi dalam waktu yang terbatas, tanpa diimbangi dengan pemahaman yang mendalam dan keterampilan hidup yang relevan. Akibatnya, proses belajar menjadi beban, bukan sarana pengembangan potensi. Banyak siswa yang mampu menghafal, tetapi kesulitan menerapkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, sistem evaluasi pendidikan yang masih menitikberatkan pada nilai dan ujian juga menjadi persoalan serius. Keberhasilan belajar sering diukur dari angka-angka di rapor, bukan dari perkembangan karakter, kreativitas, maupun kemampuan berpikir kritis. Hal ini membuat siswa lebih fokus pada hasil akhir daripada proses belajar itu sendiri. Bahkan, tidak jarang muncul praktik belajar yang hanya berorientasi pada “lulus ujian”, bukan pada pemahaman yang sesungguhnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sistem Pendidikan di Era Sekarang yang Tidak Sesuai dengan Realita
Ketidaksesuaian lainnya terlihat pada pemanfaatan teknologi dalam pendidikan. Meskipun pembelajaran digital semakin berkembang, realitanya tidak semua daerah memiliki akses internet yang memadai dan perangkat yang mendukung. Kesenjangan digital ini menyebabkan terjadinya ketimpangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Akibatnya, kesempatan belajar yang seharusnya merata justru menjadi tidak adil.
Di sisi lain, peran guru dalam sistem pendidikan modern juga menghadapi tantangan besar. Guru sering dibebani oleh administrasi yang kompleks, sehingga waktu dan energi untuk membimbing siswa secara optimal menjadi terbatas. Padahal, dalam realita pendidikan, kehadiran guru sebagai pendidik, motivator, dan teladan sangatlah penting. Jika guru lebih sibuk dengan laporan daripada mendampingi peserta didik, maka esensi pendidikan akan semakin berkurang.
Selain aspek akademik, sistem pendidikan saat ini juga belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan dunia kerja dan kehidupan sosial. Banyak lulusan yang memiliki ijazah, tetapi belum siap menghadapi tantangan nyata, seperti kemampuan komunikasi, kerja sama, dan pemecahan masalah. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia nyata.
Menurut saya, sistem pendidikan seharusnya lebih bersifat kontekstual dan humanis, yaitu menyesuaikan dengan kondisi sosial, budaya, dan kebutuhan peserta didik. Kurikulum perlu disederhanakan dan difokuskan pada pengembangan kompetensi, karakter, serta keterampilan hidup. Evaluasi belajar pun perlu diarahkan pada penilaian yang menyeluruh, bukan hanya berbasis angka.
Selain itu, pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat perlu bekerja sama dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang relevan dan adil. Pemerataan fasilitas, peningkatan kualitas guru, serta penguatan pendidikan karakter harus menjadi prioritas utama. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menjadi sarana transfer ilmu, tetapi juga wahana pembentukan manusia yang siap menghadapi realita kehidupan.
Ketidaksesuaian antara sistem pendidikan dan realita yang ada merupakan tantangan besar yang harus segera kita atasi. Pendidikan tidak boleh berjalan jauh dari kehidupan nyata peserta didik. Jika sistem pendidikan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat, maka pendidikan akan benar-benar menjadi fondasi utama bagi kemajuan bangsa. (*)
*Penulis: Iis Gunarsi







