[OPINI] Pendidikan di Catatan Kaki, Kekuasaan di Halaman Utama, Akan Dibawa Kemana Arah Masa Depan Bangsa?

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 10 Februari 2026 - 22:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Andi Puja Dwi Khaerunnisaa, (Foto: Ist.)

Potret Andi Puja Dwi Khaerunnisaa, (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Dalam setiap pidato kenegaraan, pendidikan hampir selalu disebut. Ia diagung-agungkan sebagai kunci kemajuan, fondasi peradaban, dan jalan menuju Indonesia emas. Namun, ironisnya, dalam praktik kebijakan, pendidikan kerap hadir hanya menjadi catatan kaki, tidak sungguh-sungguh diperhatikan. Disebut penting, tetapi tidak diprioritaskan, sebatas label peran utama dibalik layar kuasa.

Saat menaruh pendidikan di halaman pertama berarti menjadikannya pusat orientasi pembangunan, bukan sekadar pelengkap narasi politik. Pendidikan tidak boleh dinormalisasi hanya ramai saat kampanye, lalu sunyi ketika anggaran dibagi. Sebab dari ruang kelas pendidikan yang sederhana itulah masa depan bangsa sesungguhnya ditentukan. Di sanalah karakter dibentuk, nalar diasah, dan harapan ditanamkan.

Realitas di lapangan masih menunjukkan jurang lebar antara wacana dan kenyataan. Ketimpangan akses pendidikan, kesejahteraan guru yang belum merata, hingga beban administratif yang menggerus esensi mengajar adalah potret sehari-hari yang diperhadapkan. Sekolah sering dipaksa mengejar angka dan peringkat, sementara makna belajar justru tertinggal.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pendidikan Kerap Hanya Menjadi Catatan Kaki

Pendidikan akhirnya sibuk memenuhi target, bukan memanusiakan manusia. Apakah sumber manusia kita yang kurang kompeten atau sistem yang membungkamnya? Hal ini perlu kita renungkan kembali, kita harus beri kepekaan lebih terhadap kondisi realitas yang kemudian hadir ditengah masyarakat saat ini. Hal ini juga menyinggung pendekatan Top-Down yang masih diterapkan saat ini, dimana menekankan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pimpinan tingkat atas, saat keputusan strategis mengalir dari atas ke bawah layaknya penerapan kurikulum yang hingga saat ini masih menjadi keluh kesah tenaga pendidik dengan permasalahan penyesuaian kurikulum.

Baca Juga Berita :  Tingkatkan Kreativitas Numerasi Literasi Sebagai Bentuk Pengembangan Kecakapan Pemecahan Masalah Bagi Anak SD

Sebaliknya, sangat diharapkan jika pendekatan Bottom-Up yang digunakan, saat melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat akar rumput, mereka dapat diberi kesempatan untuk berkontribusi dalam proses pengambilan keputusan dan sesuai dengan kebutuhannya.

Ketika pendidikan diposisikan sebagai catatan kaki, dampaknya tidak langsung terasa hari ini, namun menghantui esok hari. Generasi tumbuh tanpa ruang berpikir kritis, tanpa keberanian bertanya, dan tanpa kepekaan sosial. Bangsa yang demikian mudah terjebak dalam siklus pragmatisme lalu cepat puas, mudah diarahkan, dan sulit berdiri mandiri. Hal-hal yang kemudian menjadi nilai-nilai penting yang dijadikan harapan seketika hilang dihembus angin politik kekuasaan.

Baca Juga Berita :  [OPINI]Harmoni Multikultural: Pengalaman Belajar Mahasiswa Pertukaran di Lingkungan UNAIR

Sebaliknya, menaruh pendidikan di halaman pertama adalah keberanian politik sekaligus kebijaksanaan moral. Ia menuntut kebijakan yang konsisten, investasi jangka panjang, serta keberpihakan nyata pada guru dan peserta didik. Saat pendidikan di halaman pertama masa depan bangsa akan terselamatkan dari catatan kaki, dari kekhawatiran akan generasi masa depan yang hilang arah, kualitas tenaga pendidik akan lebih kuat karena suatu prioritas. Pendidikan yang diprioritaskan bukan sekadar membangun gedung megah, tetapi membangun ekosistem belajar yang adil, manusiawi, dan relevan dengan zaman.

Pada akhirnya, pilihan bangsa yang sederhana ada ditangan kita dalam menentukan arah masa depan, dimulai dari memilih menjadikan pendidikan sebagai catatan kaki, atau berani menaruhnya di halaman pertama. Sebab masa depan tidak lahir dari slogan, melainkan dari kesungguhan. Dan pendidikan, ketika sungguh-sungguh diprioritaskan, adalah cara paling sunyi namun paling pasti untuk menyelamatkan masa depan. Maka mari berjuang untuk berdampak, reformasi mulai dari kita untuk kita. (*)

*Penulis Andi Puja Dwi Khaerunnisaa

Berita Terkait

Quo Vadis Lembaga Kemahasiswaan : Masih Relevankah?
[OPINI] Ekoteologi Berkemajuan: Membumikan Ajaran Islam dan Kearifan Lokal Makassar untuk Kelestarian Alam
[OPINI] Menelanjangi Egoisentrisme Negara dalam Labirin Pendidikan Nasional
[OPINI] Pendidikan yang Kehilangan Makna di Balik Selembar Ijazah
[OPINI] Darurat Kemanusiaan di Ruang Guru: Menggugat Eksploitasi Guru Honorer
[OPINI] Budaya Menjadi Pendidikan Pertama: Manifestasi Adab dalam Akar Tradisi Nusantara
[OPINI] Eskalator yang Macet: Menggugat Komersialisasi Pendidikan
[OPINI] Politik sebagai Benang Merah dalam Dunia Pendidikan Antara Kepentingan dan Masa Depan Bangsa
Berita ini 50 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 14 Februari 2026 - 21:38 WITA

Quo Vadis Lembaga Kemahasiswaan : Masih Relevankah?

Jumat, 13 Februari 2026 - 23:15 WITA

[OPINI] Ekoteologi Berkemajuan: Membumikan Ajaran Islam dan Kearifan Lokal Makassar untuk Kelestarian Alam

Selasa, 10 Februari 2026 - 22:48 WITA

[OPINI] Menelanjangi Egoisentrisme Negara dalam Labirin Pendidikan Nasional

Selasa, 10 Februari 2026 - 22:40 WITA

[OPINI] Pendidikan yang Kehilangan Makna di Balik Selembar Ijazah

Selasa, 10 Februari 2026 - 22:32 WITA

[OPINI] Pendidikan di Catatan Kaki, Kekuasaan di Halaman Utama, Akan Dibawa Kemana Arah Masa Depan Bangsa?

Berita Terbaru

Potret Muhammad Amar Amri Asnur dalam sambutannya, (Foto: Ist.)

KILAS LK

Resmi Dilantik, HPMT Kom. UNM Masuki Babak Kepemimpinan Baru

Selasa, 17 Feb 2026 - 10:30 WITA

Potret Muh. Alif Nur Fauzan Formatur Ketua Umum MPA Trisula FIS-H UNM, (Foto: Ist.)

Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum

Ketua MPA Trisula FIS-H Usung Gerakan Berbasis Integritas dan Dampak Nyata

Senin, 16 Feb 2026 - 23:03 WITA

Potret mahasiswa yang mengikuti kegiatan sitasi 2026, (Foto: Ist.)

Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum

Sekolah Riset dan Advokasi 2026 Jadi Ruang Tumbuh Nalar Kritis Mahasiswa

Senin, 16 Feb 2026 - 21:47 WITA