[OPINI] Menelanjangi Egoisentrisme Negara dalam Labirin Pendidikan Nasional

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 10 Februari 2026 - 22:48 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Andi Adil, (Foto: Ist.)

Potret Andi Adil, (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Pendidikan secara secara hakiki adalah instrumen pembebasan dan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat pembukaan UUD 1945. Ia seharusnya menjadi fase bagi setiap anak bangsa untuk menemukan jati diri dan kapasitasnya. Namun, realitas yang tersaji pada hari ini justru menunjukkan wajah pendidikan yang kian asing dari rakyatnya sendiri. Pendidikan kita sedang disandera oleh ‘’keegoisentrisan’’ pemerintah yang lebih mementingkan eksperimen kebijakan dan citra politik ketimbang substansi kemanusiaan. Egoisentrime ini bermula dari paradigma penguasa yang memandang pendidikan sebagai proyek administraf, bukan investasi peradaban. Kita bisa melihat beberapa noktah berikut antara warisan dan kelinci percobaan.

Fenomena ‘’ganti menteri, ganti kebijakan’’ adalah bentuk ego paling purba dalam birokrasi kita. Setiap rezim baru seolah merasa wajib melahirkan kurikulum anyar demi memahat ‘’legacy’’ atau warisan nama di buku sejarah. Akibatnya, guru dipaksa menjadi mesin administrasi yang harus terus-menerus beradabtasi dengan aplikasi dan platform baru, sementara siswa menjadi kelinci percobaan dari sistem penilaian yang belum matang. Pemerintah sering kali lupa bahwa pendidikan membutuhkan stabilitas, bukan sekedar inovasi yang dipaksakan untuk terlihat bekerja.

Baca Juga Berita :  [Opini] Nalar Memberontak

Egoisentrisme Negara dalam Labirin Pendidikan Nasional

Ketulian sosiologis dan standar elitis pemerintah yang tampak begitu egois dengan standar-standar digitalisasi yang mereka canangkan dari balik meja kantor di ibu kota. Memaksakan digitalisasi pendidikan secara menyeluruh tanpa memperbaiki infrastruktur dasar di daerah pelosok adalah bentuk ketulian sosiologis. Negara seolah hanya peduli pada statistik kemajuan di atas kertas untuk dipamerkan di panggung internasioal, sembari menutup mata terhadap jeritan siswa di pelosok yang bahkan untuk melihat menggunakan lampu pijar pun masih sebuah kemewahan. Hal ini bukan pendidikan yang inklusif, melainkan pendidikan meminggirkan mereka yang rentan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pendidikan sebagai komoditas dan beban rakyat. Egoisentrisme pemerintah juga terlihat dari cara mereka yang lepas tangan terhadap akses pendidikan tinggi. Naiknya biaya pendidikan dan komersialisasi kampus melalui status badan hukum menunjukkan bahwa negara mulai memandang pendidikan sebagai barang dagangan, bukan hak dasar. Ketika negara lebih mementingkan efisiensi anggaran daripada pemenuhan hak belajar rakyatnya, disitulah ego kekuasaan sedang menindas nalar keadilan.

Baca Juga Berita :  Ketua LDF SC Al-Furqon Akan Garap Kelompok Kajian Islami

Mandat konstitusi yang terabaikan. Secara konstitusional, Pasal 31 ayat [1] UUD 1945 menegaskan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Namun, ketika kebijakan lahir justru memperlebar jurang antara yang kaya dan yang miskin, maka pemerintah secara sadar telah menghianati mandat tersebut.Egoisentrisme birokrasi yang memuja angka-angka formalitas telah membunuh efisiensi pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia.

Dunia pendidikan kita tidak butuh pahlawan kesiangan yang hobi mengganti nama kebijakan. Yang kita butuhkan adalah pemerintah yang mampu menekan egonya, berhenti memosisikan diri sebagai ‘’pemilik kebenaran tunggal’’ atas kurikulum, dan mulai mendengar realitas di ruang-ruang kelas yang retak. Selama pendidikan masih di kelola dengan ego kekuasaan, maka cahaya ilmu pengetahuan hanya akan menjadi milik segelintir elit, sementara rakyat jelata tetap terjebak dalam kegelapan ketidaktahuan. Sudah saatnya negara berhenti bereksperimen dengan masa depan bangsa dan mulai bertindak secara adil, konsisten dan membumi. (*)

*Penulis Andi Adil

Berita Terkait

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 
[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi
[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis
[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.
[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan
[OPINI] Saat Pendidikan Kehilangan Mata Air Kemanusiaan: Sekolah yang Sibuk Mengukur, Tapi Lupa untuk Memeluk.
[ OPINI ] Ketika Pengabdian Guru Dijadikan Alasan untuk Membiarkan Ketidakadilan
[OPINI] Metafora Analitis Hukum Newton III dan Psikologi Kebijakan: Setiap Aksi Negara Melahirkan Reaksi Manusia
Berita ini 142 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:05 WITA

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:25 WITA

[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi

Senin, 8 Juni 2026 - 20:27 WITA

[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis

Jumat, 5 Juni 2026 - 00:32 WITA

[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.

Kamis, 4 Juni 2026 - 09:12 WITA

[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan

Berita Terbaru

Pamflet Pendaftaran Duta Kampus FBS UNM (Foto: Int.)

Duta Fakultas

Mahasiswa FBS Bersiaplah! Pemilihan Duta Kampus 2026 Resmi Dibuka

Sabtu, 27 Jun 2026 - 00:04 WITA

Potret Eks Rektor UNM, Karta Jayadi, (Foto: Dok. Profesi)

Berita Utama

Polda Sulsel Terbitkan SP3 Kasus Laporan Dosen Q ke Eks Rektor UNM

Jumat, 26 Jun 2026 - 23:07 WITA

Potret Ketua Panitia Dies Natalis ke-65, Abdul Saman dalam Pelaporannya, (Foto: Nurkhaerunnisa Aszahra Saleh)

Dies Natalies

UNM Siapkan Beragam Kompetisi dan Agenda untuk Dies Natalis ke-65

Jumat, 26 Jun 2026 - 23:02 WITA