PROFESI-UNM.COM – Fenomena krisis kesehatan mental di kalangan remaja saat ini merupakan masalah yang semakin mendesak untuk dikaji, terlebih dalam perspektif sosiologi kesehatan. Dalam konteks global maupun Indonesia, prevalensi gangguan mental seperti depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku pada remaja menunjukkan peningkatan signifikan. Di Indonesia sendiri, survei I-NAMHS tahun 2022 mencatat bahwa sekitar 34,8% remaja mengalami masalah kesehatan mental, sementara data WHO juga menunjukkan bahwa 1 dari 7 anak berusia 10-19 tahun menghadapi gangguan mental serius.
Masalah ini tidak dapat dipisahkan dari berbagai tekanan sosial yang dialami remaja, termasuk tekanan dari keluarga, sekolah, dan media sosial, yang berkontribusi terhadap kondisi psikologis mereka yang rentan. Dari sudut pandang sosiologi kesehatan, fenomena ini menggambarkan bagaimana faktor sosial, ekonomi, dan budaya secara mendalam memengaruhi kesehatan mental individu, sehingga masalah ini sesungguhnya adalah masalah sosial yang luas dan kompleks.
Sosiologi kesehatan memandang kesehatan mental bukan hanya sebagai kondisi medis individual, tetapi sebagai hasil interaksi antara individu dengan lingkungan sosialnya. Teori sosiologi kesehatan menekankan pentingnya integrasi sosial, kondisi sosial-ekonomi, dan jaringan sosial dalam menentukan kesejahteraan mental seseorang. Ketimpangan sosial dan tekanan dari lingkungan dapat menjadi faktor pencetus utama gangguan mental.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kasus remaja, tekanan dari ekspektasi akademis yang tinggi, persaingan sosial, tekanan penampilan dan kesuksesan yang diproyeksikan media sosial, serta konflik dalam keluarga menjadi faktor utama yang diperparah oleh lemahnya dukungan sosial dan stigma terhadap gangguan mental. Pendekatan ini sejalan dengan teori sosiologi kesehatan dari Talcott Parsons yang menempatkan kesehatan sebagai bagian dari fungsi sosial yang penting, sehingga gangguan kesehatan mental menandakan disfungsi dalam sistem sosial yang mendukung individu.
Selanjutnya, teori Pierre Bourdieu tentang habitus dan modal sosial juga relevan untuk memahami bagaimana kondisi sosial dan budaya membentuk sikap dan kemampuan remaja dalam menghadapi tekanan yang berdampak pada kesehatan mental.
Selain itu, sosiologi kesehatan menyoroti peran stigma sosial terhadap penyakit mental yang menghambat remaja untuk mencari bantuan profesional. Dalam masyarakat Indonesia, stigma terhadap gangguan mental sudah menjadi penghalang besar sehingga banyak remaja memilih menutup masalahnya dan menderita secara diam-diam.
Hal ini menambah kompleksitas persoalan kesehatan mental yang tidak hanya menyangkut aspek individu tetapi juga struktur sosial yang mendukung atau menghambat pemulihan. Konflik keluarga, pola asuh yang terlalu protektif maupun kurang perhatian, serta kurangnya komunikasi emosional antara generasi merupakan dinamika sosial yang kerap menimbulkan stres dan kecemasan yang berkepanjangan bagi remaja.
Jika ditelaah lagi, akar krisis kesehatan mental di kalangan remaja jauh melampaui masalah pribadi. Ia bertaut rapat dengan struktur sosial yang membentuk keseharian mereka. Di era kompetisi yang tak berujung, banyak remaja menilai harga diri lewat capaian serta nilai, penghargaan, atau sekadar jumlah “like” di media sosial. Ruang untuk gagal jadi semakin sempit. Satu kekeliruan sering terasa seperti aib yang harus ditutup-tutupi. Dari pengalaman sehari-hari di kampus dan lingkungan pertemanan, saya melihat bagaimana tuntutan kesempurnaan ini membuat remaja cepat merasa lelah dan mudah frustrasi bukan karena mereka lemah, melainkan karena standar yang ditetapkan memang tak manusiawi.
Peran media sosial juga tak bisa dipisahkan. Platform digital memberi akses untuk berhubungan, tetapi juga memupuk kebiasaan membanding-bandingkan hidup. Algoritma yang menampilkan momen-momen “paling menarik” membuat pandangan kita tentang keseharian orang lain jadi mirip etalase yang seringkali tanpa konteks. Banyak teman sebaya yang saya kenal merasa tidak cukup baik karena selalu membandingkan dirinya dengan versi terbaik dari orang lain. Secara sosial, hal ini mirip mekanisme “looking-glass self” kita membentuk citra diri berdasarkan bayangan apa yang kita kira orang lain lihat namun efeknya terasa sangat nyata seperti rendah diri, cemas, dan terseret pada pola pikir negatif.
Faktor ekonomi turut memperuncing masalah. Remaja dari keluarga yang tengah berjuang secara finansial kadang harus menghadapi ketegangan rumah tangga yang tak terlihat di sekolah. Mereka membawa beban itu ke dalam ruang belajar yang membuat konsentrasi terpecah, motivasi turun, dan kecemasan tumbuh. Di sisi lain, remaja dari keluarga berkecukupan juga bisa mengalami tekanan seperti ekspektasi untuk “tetap” pada jalur prestasi kadang membatasi ruang untuk bereksplorasi. Dua kondisi berbeda ini menunjukkan bahwa ketimpangan sosial bukan hanya soal akses material, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental dengan cara yang halus tetapi persisten.
Pendidikan punya peran ganda, ia bisa memperburuk atau justru menjadi solusi. Selama sistem belajar menilai keberhasilan semata dari angka, siswa yang kesulitan belajar akan terus dikucilkan oleh mekanisme penilaian tersebut. Sekolah idealnya bukan sekadar tempat mengukur kecerdasan akademik, tetapi juga ruang belajar cara mengelola emosi, membangun empati, dan bekerjasama. Di beberapa sekolah yang pernah saya kunjungi, program konseling masih dipandang sebagai ‘tambahan’ dan bukan kebutuhan dasar. Padahal bagi remaja yang sedang berjuang, kehadiran guru yang mau mendengarkan bisa menjadi penopang besar.
Meskipun begitu, kesadaran tentang kesehatan mental mulai meluas. Percakapan tentang “self-care”, berbagi pengalaman, dan kampanye anti-stigma membuka celah agar remaja merasa lebih aman bercerita. Namun kesadaran ini belum berbanding lurus dengan ketersediaan layanan seperti biaya konseling, keterbatasan tenaga profesional, dan akses di daerah terpencil masih jadi kendala nyata. Ketimpangan ini membuat remaja di kota besar punya peluang mendapat bantuan yang jauh lebih besar dibanding mereka di desa padahal tekanan psikologis tidak mengenal batas wilayah.
Solusi terhadap krisis kesehatan mental ini harus ditempuh melalui pendekatan multifaset yang tidak hanya fokus pada individu tetapi juga lingkungan sosialnya. Perspektif sosiologi kesehatan menekankan pentingnya penciptaan lingkungan sosial yang suportif baik di keluarga, sekolah, maupun masyarakat luas. Edukasi dan kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan agar stigma terhadap gangguan mental dapat diminimalkan, sehingga remaja merasa aman dan didukung untuk mencari bantuan. Pemerintah dan institusi pendidikan harus menyediakan layanan konseling yang mudah diakses dan ramah remaja. Selain itu, pendekatan preventif melalui pembelajaran tentang kesehatan mental sejak dini di sekolah dapat membantu remaja mengelola stres dan tekanan yang mereka hadapi.
Lebih jauh, intervensi sosial yang mempertimbangkan faktor-faktor struktur sosial seperti ketimpangan ekonomi dan tekanan dari media sosial harus menjadi bagian dari kebijakan kesehatan mental remaja. Pemberdayaan keluarga dan komunitas untuk memberikan dukungan emosional dan sosial juga kunci untuk memperbaiki kesehatan mental remaja. Dalam praktek sosiologi kesehatan, pendekatan interdisipliner yang melibatkan psikolog, pekerja sosial, dan tokoh masyarakat akan lebih efektif dalam menangani masalah yang bersifat kompleks ini.
Dari sisi kebijakan, pendekatan preventif perlu diperkuat. Alih-alih menunggu masalah membesar lalu ditangani, lebih bijak jika intervensi dilakukan lebih awal misalnya melatih guru untuk mengenali tanda-tanda stres, atau memasukkan pendidikan emosi ke dalam kurikulum. Juga penting membangun jejaring komunitas seperti pos remaja, kelompok peer support, dan kegiatan lokal yang menguatkan rasa kebersamaan bisa menurunkan rasa isolasi yang kerap dirasakan banyak anak muda.
Perubahan juga harus dimulai di rumah. Pola asuh yang terbuka di mana kegagalan dibicarakan, bukan dihukum guna menciptakan ruang aman bagi remaja untuk berbagi. Orang tua yang bersedia duduk dan mendengarkan, tanpa buru-buru memberi solusi, seringkali membantu anak menemukan kekuatan diri sendiri. Ini bukan soal teori besar, melainkan praktik sehari-hari. Tidur cukup, makan bersama, ngobrol ringan tentang hari mereka merupakan hal sederhana yang menumbuhkan rasa aman.
Masalah kesehatan mental remaja tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Ia menuntut kolaborasi keluarga yang peduli, sekolah yang manusiawi, kebijakan publik yang berpihak, dan komunitas yang menyediakan ruang aman. Bila semuanya bergerak sedikit demi sedikit, barulah kita bisa berharap generasi muda tumbuh bukan hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga tahan secara emosional dan siap menjalani hidup dengan lebih seimbang.
*Penulis: Nabila Naswa







