[Opini] Dimensi Lain Gerakan Mahasiswa

Avatar photo

- Redaksi

Minggu, 17 Maret 2019 - 14:19 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROFESI-UNM.COM – Sepak terjangan gerakan mahasiswa menjadi kisah klasik yang terukir dalam lembar sejarah  kemahasiswaan, kiranya wajib hukumnya untuk para mahasiswa baik yang baru maupun yang basi mengetahui sejarah gerakan mahasiswa sebagai pecut untuk membangunkan semangat perjuangan dalam dirinya.

Kisah heroik mahasiswa dan golongan muda  bahkan mewarnai moment penting dinegeri ini, sebut saja peristiwa Rengasdengklok yang didengungkan sebagai peristiwa penentu dalam mencapai kemerdekaan Indonesia dan  Kisah pelengseran Soekarno dan Soeharto sebagai aktor pemimpin negeri  otoriter yang dipelopori oleh Mahasiswa, serta kisah kisah heroik lainnya yang dituang dalam sejarah gerakan mahasiswa .

Catatan catatan indah kebanggaan mahasiswa menjadi hal yang selalu dilangitkan dan menjadi kisah kisah yang tinggal kisah. Gerakan mahasiswa hari ini tak lagi mampu mempertahankan roh dari peran dan tanggung jawab mahasiswa sebagai agent of change, social control, moral of force, dan iron stock, coba saja amati bagaimana aksi tidak pernah tepat waktu, mahasiswa yang tidak mampu memfilter kata yang hendak dikeluarkan hingga kata kebun binatang menjadi hal yang tidak terhindarkan, ditambah lagi kedekatan emosional mahasiswa dengan masyarakat yang belakang sedang tidak baik baik saja

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Terjadi perubahan signifikan dalam tubuh gerakan mahasiswa, jika dulu masyarakat mendukung gerakan mahasiswa  dengan menyediakan makanan dan minuman saat demonstrasi, maka kini tak lagi seperti itu, bahkan setiap demonstrasi yang dilakukan mahasiswa disuguhkan dengan sumpah serapah dari masyarakat khususnya pengendara jalan.

Tak cukup sampai disitu, secara epistimologi mahasiswa mengalami penurunan kualItas pengetahuan, tak banyak dari mahasiswa yang terlibat dalam gerakan yang rajin membaca buku, padahal idealnya salah satu ciri khas yang dapat dilihat secara fisik dari mahasiswa adalah membawa dan membaca buku, bukan  alat make up dan justru sibuk memotret sampul buku, menjadikan status lalu meletakkannya tanpa dibaca, padahal seyogianya teman terbaik bagi mahasiswa adalah buku, bukan alat make yang menopang kontruksi cantik dimasyarakat. Namun saya tidak mengutuk para perempuan yang memakai make up sebab itu masalah selera, dengan catatan percantik pula isi kepala agar perempuan tidak hanya indah namun juga bermakna.

Baca Juga Berita :  [Opini] Balada Kampus Komersial

Gerakan intelektual seyogianya adalah gerakan dengan basis epistimologi dan massa, tak ada yang boleh dikesampingkan sebab untuk sebuah gerakan kedua hal tersebut seharusnya menjadi HARGA MATI bukan  MATI HARGA, seperti yang dijelaskan diatas bahwa mahasiswa tak lagi menjadikan buku sebagai makanan sehari hari, bahkan sebagian besar massa aksi tak pernah benar benar mengkaji apa yang menjadi tuntutan hingga menciptakan massa massa yang reaksionis. Belum lagi massa yang semakin hari semakin sedikit, selain karena tendensi juga karena gerakan dianggap monoton dan cenderung tanpa hasil yang memuaskan, padahal meski begitu perjuangan harusnya tetap didendangkan demi lagu kemenangan yang membahagiakan.

Problem yang dialami mahasiswa diatas belum kelar masih ada  problem problem yang lainnya yang perlu dibenahi seperti perjuangan periodesasi, yakni perjuangan yang dilakukan hanya saat menjadi fungsionaris lembaga, setelah menjadi demisioner entah lari kemana saat demonstrasi, kata kata bantet yang paling sering didengarkan “Waktumumi tuama saya, diamati mamiko kau”, bagi saya perjuangan tak mengenal umur kemahasiswaan, sebab masalah yang ada bukanlah masalah satu periode maka perlu dilakukan pengawalan secara continue tanpa mengenal status struktural.

Baca Juga Berita :  Perspektif Psikologis dalam Stigma Wajib Pajak

Polemik yang dipaparkan diatas masih belum cukup untuk menjelaskan masalah yang teramat  kompleks, yang paling menganggu bagi saya adalah gerakan yang cenderung melakukan kekerasan, pengrusakan dan hal hal negatif lainnya seolah  olah memancing keributan degan aparat, lalu merekam jika terjadi tindakan yang dilakukan aparat kepolisian, ditambah  lagi gerakan yang ditunggangi oleh elit tertentu, ini benar benar  menciderai  esensi dari gerakan mahasiswa, gerakan seperti ini yang mencoreng nama baik gerakan mahasiswa yang citranya  coba dibangun.

Seyogianya gerakan mahasiswa adalah gerakan kemanusiaan yang berpihak pada rakyat, disetiap gerakan mahasiswa selayaknya terpatri kasih bagi negeri bukan sebagai ajang aji mumpung untuk menggalang rupiah,  sebab rakyat sudah cukup menderita oleh perbuatan oknum pemerintah yang korupsi, jual beli pasal,dan anti demokrasi. Suatu kejatahan jika menambahnya dengan penghiantan dengan label perjuangan untuk rakyat padahal nomena yang terjadi adalah gerakan oportunis yang dibalut gerakan rakyat.

Mari jadi kritis untuk menjadi cerdas,

Mari cerdas untuk menjadi manusia,

Mari jadi manusia untuk memanusiakan manusia.

Jangan sampai kita hanya menjadi budak yang disekolahkan tanpa pernah dimerdekakan.


*Penulis adalah Besse Mapparimeng A.Lauce, Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Fakultas Ilmu Sosial (FIS), angkatan 2016

Berita Terkait

[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru
[OPINI] DAS Saddang kabupaten Enrekang: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Objek Investasi
[OPINI] Enrekang berada di persimpangan: Antara Kemajuan atau Kehilangan
[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM
[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa
[OPINI] Ancaman Tambang terhadap Ruang Hidup dan Kedaulatan Lahan Masyarakat Enrekang
Patriarki dalam Lembaga Kemahasiswaan UNM: Menggugat Ilusi Kesetaraan
[OPINI] Menara Pinisi di Bawah Bayang-Bayang Sepatu Laras
Berita ini 41 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 22:25 WITA

[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru

Selasa, 28 April 2026 - 21:00 WITA

[OPINI] DAS Saddang kabupaten Enrekang: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Objek Investasi

Selasa, 28 April 2026 - 20:08 WITA

[OPINI] Enrekang berada di persimpangan: Antara Kemajuan atau Kehilangan

Sabtu, 25 April 2026 - 11:39 WITA

[OPINI] Kemegahan Yang Menipu: Realitas di Balik Gedung Pinisi UNM

Jumat, 24 April 2026 - 01:30 WITA

[OPINI] Paradoks LK UNM: Kubangan Kotor Menuju Krisis Legitimasi Mahasiswa

Berita Terbaru

Potret Tim MP Ekolibrium Feb UNM setelah Meraih Prestasi Pada Ajang LEC 2026,(Foto:Ist.)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

MP Ekolibrium FEB Raih Prestasi di Lombok Essay Competition 2026

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:02 WITA

Foto Bersama Mahasiswa dan Dosen Program Studi D4 Tata Boga FT UNM, (Foto: Ratna Wulandari)

Fakultas Teknik

Cipta Karya Boga Hadirkan Kolaborasi Mahasiswa, Industri, dan Sekolah

Selasa, 12 Mei 2026 - 18:40 WITA

Sesi foto bersama dalam agenda pelatihan penulisan berita dan persuratan, (Foto: St. Masyita Rahmi)

Fakultas Teknik

FT Gelar Pelatihan Persuratan, Dekan Singgung Target PPK Ormawa Nasional

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:50 WITA