[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.

Avatar photo

- Redaksi

Jumat, 5 Juni 2026 - 00:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Muh. Alif Nur Fauzan, (Foto: Ist.)

Potret Muh. Alif Nur Fauzan, (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Belakangan ini, perhatian sivitas akademika Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Makassar tertuju pada kegiatan penebangan sejumlah pohon di area taman fakultas dalam rangka pembangunan taman baru. Sebagai mahasiswa yang setiap hari beraktivitas di lingkungan kampus, saya memandang bahwa hal ini bukan sekadar persoalan pembangunan fisik, melainkan persoalan yang menyangkut hubungan antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan hidup.

Pada dasarnya, pembangunan merupakan sesuatu yang penting dan perlu terlaksana. Kampus perlu terus berkembang, memperbaiki fasilitas, dan menyediakan ruang yang nyaman bagi seluruh sivitas akademika. Namun, pembangunan yang baik tidak hanya berbicara tentang apa yang dibangun, melainkan juga tentang apa yang dipertahankan. Di sinilah muncul pertanyaan yang menurut saya penting untuk direnungkan bersama: apakah pembangunan taman harus dilakukan dengan mengorbankan pohon-pohon yang selama ini menjadi bagian dari ruang hijau kampus?

Pertanyaan tersebut bukanlah bentuk penolakan terhadap pembangunan, melainkan upaya untuk melihat pembangunan secara lebih utuh. Sebab, pembangunan yang berkelanjutan seharusnya mampu menghadirkan kemajuan tanpa menghilangkan fungsi-fungsi ekologis yang telah ada sebelumnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bagi sebagian orang, pohon mungkin hanya dipandang sebagai bagian dari lanskap kampus. Namun bagi mahasiswa yang setiap hari berada di lingkungan tersebut, pohon memiliki makna yang jauh lebih besar. Pohon-pohon yang tumbuh di sekitar area taman bukanlah vegetasi yang baru tumbuh beberapa tahun terakhir. Mereka telah menjadi bagian dari wajah kampus dan menyaksikan berbagai aktivitas akademik yang berlangsung dari waktu ke waktu.

Baca Juga Berita :  [OPINI] Krisis Iklim dan Dampaknya Terhadap Pendidikan

Tidak sedikit mahasiswa yang memanfaatkan area di bawah rindangnya pohon sebagai tempat berdiskusi, membaca, mengerjakan tugas, ataupun sekadar beristirahat setelah mengikuti perkuliahan. Dalam banyak kesempatan, ruang-ruang teduh tersebut menjadi tempat bertemunya ide, gagasan, dan berbagai bentuk interaksi sosial yang memperkaya kehidupan kampus.

Selain memiliki nilai sosial, pohon juga memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Pohon berperan sebagai penyerap karbon dioksida, penghasil oksigen, penyaring polusi udara, pengatur suhu lingkungan, serta membantu meningkatkan daya serap air ke dalam tanah. Fungsi-fungsi tersebut sering kali tidak terlihat secara langsung karena telah menjadi bagian dari keseharian kita. Namun ketika pohon mulai hilang, dampaknya perlahan akan mulai terasa.

Menebang yang Hijau

Secara umum, pembangunan taman merupakan langkah yang positif karena bertujuan memperindah lingkungan dan meningkatkan kualitas ruang publik. Akan tetapi, pembangunan taman yang mengharuskan penebangan pohon menimbulkan sebuah paradoks yang patut dipertanyakan.

Taman pada hakikatnya merupakan bagian dari ruang hijau. Oleh karena itu, konsep pembangunan taman seharusnya memperkuat fungsi ekologis yang telah ada, bukan justru menghilangkannya. Ketika pohon-pohon dewasa yang telah tumbuh selama bertahun-tahun ditebang demi menghadirkan taman baru, muncul kesan bahwa aspek estetika lebih diutamakan dibandingkan fungsi lingkungan yang telah lama bekerja secara alami.

Hal yang juga perlu dipahami adalah bahwa pohon besar tidak dapat digantikan secara instan. Menanam pohon baru memang merupakan langkah yang baik, tetapi diperlukan waktu bertahun-tahun bahkan puluhan tahun hingga pohon tersebut mampu memberikan manfaat ekologis yang setara dengan pohon yang telah ditebang. Dengan kata lain, hilangnya satu pohon dewasa bukanlah kehilangan yang sederhana.

Baca Juga Berita :  Refleksi Setengah Periode, UKM Maphan Perkuat Sinergi Kepengurusan

Dari sudut pandang lingkungan, penebangan pohon berpotensi menimbulkan berbagai konsekuensi. Berkurangnya jumlah pohon dapat menyebabkan peningkatan suhu mikro lingkungan karena berkurangnya area peneduh alami. Selain itu, kemampuan tanah dalam menyerap air hujan juga dapat menurun sehingga meningkatkan potensi genangan pada musim penghujan.

Kontradiksi Ekologis

Penebangan pohon juga berarti berkurangnya kemampuan lingkungan kampus dalam menyerap karbon dan menghasilkan oksigen. Dalam situasi perubahan iklim yang semakin nyata, keberadaan pohon justru menjadi aset yang semakin berharga untuk dipertahankan.

Sebagai mahasiswa, Saya memahami bahwa kampus perlu terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Namun saya juga percaya bahwa kemajuan tidak selalu harus terbayar dengan hilangnya ruang hijau yang telah memberikan manfaat bagi banyak orang.

Bagi saya, persoalan ini bukan semata-mata tentang beberapa pohon yang tertebang. Persoalan ini adalah tentang bagaimana kita memandang lingkungan dalam proses pembangunan. Apakah alam hanya menjadi objek yang dapat tersingkirkan ketika menghambat pembangunan, atau justru menjadi bagian penting yang harus terjagadan terintegrasikan dalam setiap rencana pembangunan?

Pada akhirnya, menebang satu pohon mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Namun mengembalikan fungsi ekologis yang hilang dapat memerlukan waktu puluhan tahun. Karena itu, menjaga pohon bukan sekadar menjaga lingkungan hari ini, melainkan menjaga kualitas kehidupan kampus untuk masa depan.

Penulis: Muh. Alif Nur Fauzan

Berita Terkait

[OPINI] Di Persimpangan Pilrek UNM: Catatan Kami Dari LK FIS-H
[OPINI] Ketika Penjaga Konstitusi Dipertanyakan: Mufak LK FIP di Ambang Kehilangan Legitimasi
[OPINI] Kampus Adalah Arena, Masa Depan Sedang Dipertaruhkan
[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 
[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi
[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis
[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan
[OPINI] Saat Pendidikan Kehilangan Mata Air Kemanusiaan: Sekolah yang Sibuk Mengukur, Tapi Lupa untuk Memeluk.
Berita ini 55 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 23:46 WITA

[OPINI] Di Persimpangan Pilrek UNM: Catatan Kami Dari LK FIS-H

Jumat, 31 Juli 2026 - 17:36 WITA

[OPINI] Ketika Penjaga Konstitusi Dipertanyakan: Mufak LK FIP di Ambang Kehilangan Legitimasi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:35 WITA

[OPINI] Kampus Adalah Arena, Masa Depan Sedang Dipertaruhkan

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:05 WITA

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:25 WITA

[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi

Berita Terbaru

Foto bersama setelah praktik gosok gigi, (Foto: Ist.)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

P2M MP Ekolibrium FEB Gelar Edukasi PHBS dan Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Selasa, 4 Agu 2026 - 23:38 WITA

Nurul Izza korban selamat KMP Mutiara Sentosa 02 saat Video Call dengan Keluarganya, (Foto: Int)

Korban Kebakaran KMP

Selamat dari Kebakaran Kapal, Mahasiswa UNM Tiga Jam Terombang-ambing

Selasa, 4 Agu 2026 - 23:32 WITA

Potret Foto bersama MP Ekolibrium FEB dan pelaku UMKM dalam kegiatan Pelatihan Legalitas Usaha dan Sertifikasi Produk, (Foto: Ist.)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

P2M MP Ekolibrium FEB Latih Legalitas Usaha UMKM Bulutana

Selasa, 4 Agu 2026 - 23:27 WITA

Suasana Pembukaan ANALISIS IX HMJ Statistika FMIPA di Ruang Rapat Lt.3 Gedung Menara FMIPA UNM, (Foto: Ist.)

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Alihkan Liburan untuk Pengabdian,  HMJ Statistika Raih Apresiasi

Selasa, 4 Agu 2026 - 23:11 WITA