[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:05 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Agustiawan, (Foto: Ist.)

Potret Agustiawan, (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Perguruan tinggi selama ini dipandang sebagai ruang intelektual yang memungkinkan mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berdiskusi, mengemukakan pendapat, dan mempertanyakan berbagai fenomena sosial maupun ilmiah. Dalam idealismenya, kampus bukan sekadar tempat memperoleh gelar akademik melainkan arena pembentukan karakter intelektual yang berani berpikir, berargumentasi, dan mempertanggungjawabkan pandangannya secara rasional. Namun, realitas yang muncul di banyak ruang kuliah saat ini menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Tidak sedikit mahasiswa yang cenderung diam ketika diberikan kesempatan bertanya, tetapi pada saat yang sama juga tidak mampu memberikan jawaban ketika dosen mengajukan pertanyaan kepada mereka. Fenomena ini menjadi paradoks dalam dunia pendidikan tinggi yang semestinya menjadikan mahasiswa sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran.

Fenomena mahasiswa yang tidak berani bertanya sebenarnya bukan persoalan sederhana yang hanya berkaitan dengan keberanian individu. Data dari berbagai penelitian pendidikan tinggi menunjukkan bahwa partisipasi mahasiswa dalam diskusi kelas masih tergolong rendah. Banyak mahasiswa memilih menjadi pendengar pasif dibandingkan terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Sebuah studi yang dilakukan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) melalui Programme for International Student Assessment (PISA) juga menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis, argumentasi, dan pemecahan masalah peserta didik Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara anggota OECD. Meskipun PISA berfokus pada pendidikan dasar dan menengah, hasil tersebut memberikan gambaran bahwa sebagian besar mahasiswa memasuki perguruan tinggi dengan bekal kemampuan berpikir kritis yang belum optimal. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan ketika harus mengajukan pertanyaan yang bermakna ataupun memberikan jawaban yang argumentatif.

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital turut memengaruhi pola belajar mahasiswa. Kemudahan akses informasi melalui internet menciptakan budaya instan dalam memperoleh pengetahuan. Banyak mahasiswa terbiasa menerima informasi secara cepat tanpa melalui proses analisis yang mendalam. Mereka lebih sering mencari jawaban singkat dibandingkan memahami logika yang melatarbelakangi suatu konsep. Akibatnya, ketika dosen mengajukan pertanyaan yang menuntut penalaran, sintesis gagasan, atau analisis kritis, mahasiswa sering kali mengalami kebingungan. Mereka mungkin mengetahui informasi tertentu, tetapi tidak mampu menjelaskan, mempertahankan, atau mengembangkan informasi tersebut menjadi sebuah argumentasi ilmiah.

Fenomena ini dapat dianalisis menggunakan teori reproduksi sosial dari sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu, sistem pendidikan tidak hanya berfungsi mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga mereproduksi kebiasaan, nilai, dan pola pikir yang telah terbentuk sebelumnya melalui apa yang disebut sebagai habitus. Habitus adalah seperangkat disposisi yang terbentuk dari pengalaman sosial seseorang sejak kecil dan memengaruhi cara berpikir, bertindak, serta merespons situasi tertentu.

Dalam konteks mahasiswa Indonesia, banyak peserta didik tumbuh dalam sistem pendidikan yang masih didominasi oleh pembelajaran satu arah. Sejak sekolah dasar hingga menengah, sebagian besar siswa terbiasa menerima informasi dari guru tanpa banyak kesempatan untuk mengkritisi, mempertanyakan, atau mendebat materi yang disampaikan. Guru diposisikan sebagai sumber kebenaran utama, sementara siswa berperan sebagai penerima informasi. Pola ini kemudian membentuk habitus kepatuhan dan pasivitas yang terbawa hingga ke perguruan tinggi. Ketika memasuki lingkungan kampus yang menuntut kemandirian berpikir, banyak mahasiswa mengalami kesulitan beradaptasi karena kebiasaan intelektual mereka sebelumnya tidak dibangun untuk aktif berdialog.

Teori Bourdieu juga menjelaskan bahwa individu yang memiliki modal budaya (cultural capital) lebih tinggi cenderung lebih percaya diri dalam ruang akademik. Modal budaya mencakup kemampuan berbahasa, keterampilan berargumentasi, kebiasaan membaca, dan pengetahuan yang diperoleh melalui lingkungan keluarga maupun pendidikan sebelumnya. Mahasiswa yang sejak kecil terbiasa berdiskusi, membaca buku, atau terlibat dalam aktivitas intelektual biasanya lebih berani mengemukakan pendapat. Sebaliknya, mahasiswa yang memiliki modal budaya terbatas sering kali merasa takut salah, khawatir dipermalukan, atau merasa tidak cukup kompeten untuk berbicara di depan kelas. Akibatnya, mereka memilih diam meskipun sebenarnya memiliki pertanyaan atau gagasan yang perlu disampaikan.

Lebih jauh lagi, budaya akademik di beberapa perguruan tinggi terkadang secara tidak sadar memperkuat fenomena tersebut. Tidak sedikit mahasiswa yang pernah mengalami pengalaman negatif ketika mencoba bertanya, seperti mendapat respons yang kurang menghargai, dianggap tidak memahami materi, atau menjadi bahan candaan teman sekelas. Pengalaman-pengalaman semacam ini membentuk rasa takut untuk berpartisipasi pada kesempatan berikutnya. Dalam perspektif sosiologi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa interaksi sosial di ruang kelas memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan perilaku akademik mahasiswa.

Fenomena tidak sanggup menjawab ketika ditanya juga berkaitan erat dengan budaya belajar yang berorientasi pada nilai dibandingkan pemahaman. Sebagian mahasiswa belajar untuk menghadapi ujian, bukan untuk memahami ilmu pengetahuan secara mendalam. Mereka menghafal konsep, definisi, atau teori tanpa benar-benar memahami hubungan antar konsep tersebut. Ketika pertanyaan yang diajukan dosen sedikit berbeda dari materi yang dihafalkan, mahasiswa mengalami kesulitan untuk memberikan jawaban. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara penguasaan informasi dan kemampuan berpikir kritis.

Baca Juga Berita :  Tanamkan Jiwa Wirausaha, Mahasiswa PKK Gelar Intrepreneur In Digital Marketing

Apabila kondisi ini terus dibiarkan, perguruan tinggi berisiko menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah tetapi tidak memiliki kapasitas intelektual yang memadai untuk menghadapi tantangan dunia kerja maupun kehidupan sosial. Dunia kerja saat ini tidak hanya membutuhkan individu yang mampu mengingat informasi, tetapi juga individu yang mampu berpikir kritis, berkomunikasi secara efektif, memecahkan masalah, dan beradaptasi dengan perubahan yang cepat. Ketidakmampuan bertanya maupun menjawab pertanyaan mencerminkan lemahnya kemampuan-kemampuan tersebut.

Karena itu, diperlukan transformasi budaya akademik yang lebih partisipatif. Dosen perlu menciptakan ruang kelas yang aman secara psikologis sehingga mahasiswa tidak takut melakukan kesalahan. Pertanyaan mahasiswa harus dipandang sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai indikator ketidaktahuan. Selain itu, metode pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa perlu diperkuat melalui diskusi, studi kasus, presentasi, dan proyek kolaboratif yang mendorong keterlibatan aktif. Pada saat yang sama, mahasiswa juga harus membangun kebiasaan membaca, berpikir reflektif, dan berlatih mengemukakan pendapat secara teratur.

Pada akhirnya, fenomena mahasiswa yang tidak berani bertanya dan tidak sanggup ketika ditanya bukanlah semata-mata persoalan individu, melainkan hasil dari proses sosial yang panjang. Melalui perspektif Pierre Bourdieu, dapat dipahami bahwa kondisi tersebut merupakan produk dari habitus pendidikan yang cenderung pasif, distribusi modal budaya yang tidak merata, serta budaya akademik yang belum sepenuhnya mendorong partisipasi kritis. Oleh karena itu, solusi yang diperlukan tidak cukup hanya dengan menyalahkan mahasiswa, melainkan harus melibatkan perubahan sistem pembelajaran, budaya kampus, dan orientasi pendidikan secara keseluruhan. Perguruan tinggi harus kembali menjalankan fungsi utamanya sebagai ruang yang melahirkan insan akademik yang berani berpikir, berani bertanya, dan mampu mempertanggungjawabkan gagasannya secara ilmiah. (*)

*Penulis: Agustiawan

Berita Terkait

[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi
[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis
[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.
[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan
[OPINI] Saat Pendidikan Kehilangan Mata Air Kemanusiaan: Sekolah yang Sibuk Mengukur, Tapi Lupa untuk Memeluk.
[ OPINI ] Ketika Pengabdian Guru Dijadikan Alasan untuk Membiarkan Ketidakadilan
[OPINI] Metafora Analitis Hukum Newton III dan Psikologi Kebijakan: Setiap Aksi Negara Melahirkan Reaksi Manusia
[OPINI] Mengeja Kerapuhan Gerakan Mahasiswa: Antara Progresifitas dan Politik Arah Baru
Berita ini 30 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:05 WITA

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:25 WITA

[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi

Senin, 8 Juni 2026 - 20:27 WITA

[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis

Jumat, 5 Juni 2026 - 00:32 WITA

[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.

Kamis, 4 Juni 2026 - 09:12 WITA

[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan

Berita Terbaru

Sesi Pemberian Cendramata dalam Kuliah Tamu FT UNM, (Foto: St. Masyita Rahmi)

Fakultas Teknik

Dekan FT UNM Tekankan Pentingnya Kolaborasi Internasional bagi Mahasiswa

Kamis, 18 Jun 2026 - 15:15 WITA

Potret Plt Presiden BEM UNM saat Aksi Berlangsung, (Foto: Dok. Profesi)

BEM U

Program MBG Jadi Sorotan Aksi Republik Indonesia Sekarat

Rabu, 17 Jun 2026 - 23:22 WITA

Sampul E-TABLOID 296

Tabloid

E-TABLOID 296

Rabu, 17 Jun 2026 - 23:03 WITA