PROFESI-UNM.COM – Alarm yang berbunyi dini hari tidak selalu berhasil membangunkan mahasiswa untuk sahur. Di sisi lain, jadwal kuliah tetap dimulai sejak pagi tanpa perubahan selama Ramadan. Kondisi ini mendorong mahasiswa mencari cara agar tetap dapat mengikuti perkuliahan secara optimal meski sahur terlewat.
Perubahan ritme aktivitas pada malam hari menjadi salah satu penyebab utama. Ibadah, penyelesaian tugas, hingga diskusi daring membuat waktu tidur sebagian mahasiswa bergeser. Untuk mengurangi risiko kesiangan sahur, pengaturan ulang jam istirahat mulai diterapkan dengan membatasi aktivitas malam yang tidak mendesak.
Sebagian mahasiswa memilih menyelesaikan tugas lebih awal agar tidak perlu begadang. Pola belajar juga diatur ulang dengan memanfaatkan waktu setelah berbuka untuk pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Dengan cara tersebut, waktu malam tidak sepenuhnya tersita hingga dini hari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain pengaturan waktu tidur, penggunaan alarm berlapis menjadi solusi yang banyak dilakukan. Tidak sedikit mahasiswa memasang lebih dari satu pengingat atau meletakkan ponsel jauh dari tempat tidur agar terpaksa bangun saat alarm berbunyi. Bagi yang tinggal bersama teman, saling membangunkan menjadi langkah antisipasi agar sahur tidak terlewat.
Apabila sahur tetap tidak sempat dilakukan, mahasiswa menyesuaikan ritme aktivitas harian. Tugas berat dihindari pada siang hari dan dialihkan ke waktu setelah berbuka ketika kondisi tubuh lebih stabil. Sementara selama perkuliahan pagi, fokus diarahkan pada pencatatan materi dan partisipasi secukupnya agar tetap mengikuti alur pembelajaran.
Perencanaan mingguan juga diterapkan untuk mencegah penumpukan tugas yang dapat memicu begadang berulang. Dengan jadwal yang lebih terstruktur, risiko kesiangan sahur dapat ditekan dan aktivitas akademik tetap berjalan sesuai rencana.
Ramadan membawa perubahan pola aktivitas, namun perkuliahan tetap berlangsung sesuai jadwal. Melalui penyesuaian waktu tidur, pengaturan tugas, serta pengelolaan energi yang lebih terencana, mahasiswa berupaya menjaga keseimbangan antara kewajiban akademik dan ibadah puasa. (*)
*Reporter: Husnul Khatimah Hidir







