[Opini] Sekolah Rakyat

Avatar photo

- Redaksi

Minggu, 6 Juli 2025 - 23:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Faisal Akbar, Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah FIP UNM, (Foto: Ist.)

Faisal Akbar, Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah FIP UNM, (Foto: Ist.)

PROFESI-UNM.COM – Program Sekolah Rakyat besutan Kementerian Sosial adalah langkah besar dan penting. Dirancang sebagai sekolah berasrama dan gratis untuk anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, program ini menjanjikan kurikulum adaptif, fasilitas layak, dan pembebasan biaya total. Di tengah krisis ketimpangan pendidikan, ide ini layak dipuji.

Namun, setelah mencermati implementasinya, muncul tanda tanya besar: apakah Sekolah Rakyat benar-benar menjangkau mereka yang paling membutuhkan? Atau justru hanya mengulangi kesalahan lama dengan wajah yang lebih rapi?

Pemerintah menyebut telah melakukan berbagai metode sosialisasi, mulai dari door-to-door oleh pendamping PKH, pertemuan P2K2, hingga koordinasi daring ke pemerintah daerah. Tapi jika kita periksa lebih dekat, metode-metode ini jauh dari cukup.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pendamping PKH memiliki beban kerja yang berat: validasi data, pelaporan bansos, hingga edukasi keluarga. Menambah sosialisasi Sekolah Rakyat ke daftar tugas mereka tanpa dukungan khusus hanya membuat jangkauan mereka terbatas dan tidak merata. Apalagi, banyak daerah 3T yang bahkan tidak memiliki pendamping aktif.

P2K2 hanya menyentuh keluarga penerima PKH aktif, padahal banyak keluarga miskin ekstrem berada di luar skema bantuan sosial karena tidak terdata atau tertinggal proses pembaruan. Di sisi lain, sosialisasi melalui pemerintah daerah sering kali tidak turun hingga ke akar rumput — informasi berhenti di kantor dinas, tidak sampai ke RT/RW, PKBM, atau tokoh masyarakat desa.

Lebih parah lagi, sistem pendaftaran hanya berbasis daring: mengisi Google Form, mengunggah surat pernyataan, dan menyetujui komitmen. Bagaimana keluarga yang tidak punya ponsel pintar, tidak bisa baca-tulis digital, atau tinggal di daerah tanpa sinyal bisa mendaftar? Realitanya, program ini ramah birokrasi, tapi tidak ramah rakyat.

Baca Juga Berita :  [OPINI] Chat GPT: Mempermudah Sekaligus Melumpuhkan

Lebih ironis, banyak lokasi Sekolah Rakyat justru  dekat sekolah negeri dan PKBM yang telah beroperasi lama. Ini menimbulkan tumpang tindih dan kesan bahwa program ini justru membangun baru di tempat yang sudah tersedia layanan pendidikan, alih-alih membuka akses di daerah yang benar-benar tertutup. Jika beralasan bahwa program ini masih baru dan perlu uji coba pada pinggiran kota artian pemerintah kurang matang pada tahap persiapan

Pemerintah juga menerapkan sistem asrama penuh di Sekolah Rakyat, dengan harapan dapat mendukung anak-anak dari latar belakang ekonomi sulit untuk belajar secara intensif. Namun pendekatan ini tidak selalu tepat. Bagi banyak keluarga miskin, melepas anak untuk tinggal jauh dari rumah bukanlah pilihan yang mudah

Selain itu, pembangunan asrama di kota justru menyulitkan anak-anak dari pelosok karena mereka tetap harus berpindah jauh untuk mengakses sekolah. Jika tujuan program adalah mendekatkan pendidikan kepada yang tak terjangkau, maka membangun sekolah berasrama di kota hanya menciptakan jarak baru.

Lebih jauh lagi, argumen bahwa sistem asrama dibutuhkan untuk membentuk karakter juga patut dikritisi. Pembentukan karakter tidak hanya ditentukan oleh pola asrama, tetapi oleh lingkungan belajar yang inklusif, relasi sosial yang sehat, dan partisipasi aktif dalam komunitas. Karakter tidak lahir dari sekat tembok asrama, tetapi dari keterlibatan sosial yang otentik.

Baca Juga Berita :  [OPINI] Diam Bukan Lagi Pilihan Saat Jalanan Menjadi Suara Rakyat

Di saat yang sama, rekrutmen guru pun tidak membumi. Pemerintah mempriorotaskan guru ASN atau PPPK dan mewajibkan lulusan PPG, menutup ruang bagi tutor lokal, relawan komunitas, atau guru nonformal yang telah bekerja di akar rumput bertahun-tahun. Padahal mereka punya kedekatan budaya, pengalaman lokal, dan komitmen sosial yang lebih kuat daripada tenaga yang dikirim dari pusat tanpa ikatan dengan komunitas setempat.

Program ini tetap penting. Tapi pemerintah harus terbuka terhadap evaluasi. Beberapa hal mendesak yang perlu dilakukan antara lain:

  1. Sistem pendaftaran ganda: daring + berbasis komunitas (RT, kepala dusun, PKBM).
  2. Verifikasi sosial lapangan: bukan sekadar by-name-by-address statistik.
  3. Keterlibatan PKBM dan lembaga nonformal lain sebagai mitra seleksi dan penyuluh.
  4. Jalur afirmasi bagi guru lokal atau relawan komunitas untuk terlibat dalam pengajaran.
  5. Prioritaskan lokasi di wilayah 3T, bukan pusat kota.

Sekolah Rakyat adalah gagasan emas. Tapi jika pelaksanaannya tak menyentuh rakyat, maka ia akan menjadi sekolah tanpa rakyat. Gedung bisa dibangun, seragam bisa dibagi, tapi akses dan keberdayaan tidak bisa diimpor dari kota ke desa.

Tulisan ini dibuat bukan untuk menentang program sekolah rakyat, tetapi sebagai intrupsi kepada birokrasi agar idealitas program berjalan sebagaimana mestinya. Karna, yang paling miskin di negeri ini tak butuh belas kasihan mereka butuh sistem yang memahami cara mereka hidup dan berjuang. (*)

*Penulis: Faisal Akbar

Berita Terkait

Patriarki dalam Lembaga Kemahasiswaan UNM: Menggugat Ilusi Kesetaraan
[OPINI] Menara Pinisi di Bawah Bayang-Bayang Sepatu Laras
[OPINI] Perempuan dalam Cengkeraman Patriarki: Telaah Teologis Kritis atas Teks Alkitab
[OPINI] Pendidikan Layak: Hak Dasar yang Berubah Menjadi Barang yang Mewah
Quo Vadis Lembaga Kemahasiswaan : Masih Relevankah?
[OPINI] Ekoteologi Berkemajuan: Membumikan Ajaran Islam dan Kearifan Lokal Makassar untuk Kelestarian Alam
[OPINI] Menelanjangi Egoisentrisme Negara dalam Labirin Pendidikan Nasional
[OPINI] Pendidikan yang Kehilangan Makna di Balik Selembar Ijazah

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 16:08 WITA

Patriarki dalam Lembaga Kemahasiswaan UNM: Menggugat Ilusi Kesetaraan

Rabu, 1 April 2026 - 20:04 WITA

[OPINI] Menara Pinisi di Bawah Bayang-Bayang Sepatu Laras

Kamis, 26 Februari 2026 - 05:59 WITA

[OPINI] Perempuan dalam Cengkeraman Patriarki: Telaah Teologis Kritis atas Teks Alkitab

Senin, 23 Februari 2026 - 01:07 WITA

[OPINI] Pendidikan Layak: Hak Dasar yang Berubah Menjadi Barang yang Mewah

Sabtu, 14 Februari 2026 - 21:38 WITA

Quo Vadis Lembaga Kemahasiswaan : Masih Relevankah?

Berita Terbaru

Potret Ketua Program Studi Teknologi Pendidikan Saat Mengukuhkan Angkatan 2024, (Foto: Muh Apdal Adriansyah)

Fakultas Ilmu Pendidikan

Justicia Warnai Inaugurasi Mahasiswa Teknologi Pendidikan 2024

Senin, 20 Apr 2026 - 20:51 WITA

Surat Edaran tentang Pelaksanaan UTBK-SNBT UNM 2026, (Foto: Int)

Tak Berkategori

Aktivitas Kampus Sementara Dihentikan Selama UTBK-SNBT 

Senin, 20 Apr 2026 - 19:34 WITA

Potret Andi Nabila Aini A. Wisudawan terbaik FSD periode April 2026, (Foto: Ist).

Fakultas Seni dan Desain

Wisudawan Terbaik FSD Tekankan Pentingnya Manajemen Waktu dalam Berkarya

Senin, 20 Apr 2026 - 19:20 WITA