[OPINI] Organisasi Kemahasiswaan Bukan Boneka

Avatar photo

- Redaksi

Kamis, 5 Januari 2023 - 20:06 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswa sebagai pelaku utama dan sebagai pemegang hak social of control, moral force, agent of change, penjaga nilai dan penerus bangsa dalam berkecimpung di lingkungan sosial. Yang lebih utama perlu kita ketahui bersama ialah mahasiswa adalah patron gerakan sebuah organisasi kemahasiswaan yang melaksanakan tanggung jawabnya dalam memegang hak dan amanah. Tak lupa juga mahasiswa adalah sekumpulan manusia intelektual yang memandang segala hal dengan pikiran jernih, positif, kritis serta dewasa dalam menyikapi hal. Tentu saja dengan pernyataan ini, mahasiswa dianggap spesial dan punya hak veto.

Berbicara tentang organisasi kemahasiswaan pastinya memiliki dinamika tersendirinya. Organisasi kemahasiswaan dapat dijadikan sebagai tempat atau wadah untuk meningkatkan soft skill yang tidak akan di dapatkan di ruang-ruang kelas yang biasanya. Pemanfaatan ruang perlu dipergunakan oleh mahasiswa, salah satunya adalah organisasi kemahasiswaan. Tapi perlu kita ingat bahwa organisasi kemahasiswaan bukan tempat pelarian maupun persinggahan hanya untuk menyampaikan hasrat.

Organisasi kemahasiswaan Universitas Negeri Makassar (UNM) ialah organisasi yang menjadi patron motoric teman-teman mahasiswa UNM. Penulis menyebutkan bahwa organisasi kemahasiswaan UNM adalah lumbung gerakan yang ada di kota Makassar. Massa yang bayak, pola gerakan yang Panjang dahulu kalanya. Namun sekarang yang terpantau adalah organisasi yang hanya berstucknan pada pola gerakan biasa dan dibarengi dengan stigma yang jelek dan dianggap sebagai kacung. Peperangan antar organisasi kemahasiswaan UNM tak bisa di jauhkan. Mementingkan ego dari pada tujun bersama.

Beralih ke beberapa pandangan kawan-kawan mahasiswa UNM hari ini terhadap organisasi kemahasiswaan lingkup UNM. Ada banyak beranggapan bahwa organisasi kemahasiswaan adalah boneka para pemangku kepentingan. Saya menyempatkan bertanya kepada kawan saya yang berinisial TA “kak bagaimana tanggapanta tentang kalimat Organisasi kemahasiswaan itu adalah boneka?” lalu menjawabnya “ memang banyak mahasiswa yang anggap organisasi itu gerbongnya orang yang punya kepentingan tapi tidak semua organisasi begitu tergantung bagaimana caranya menjalankan”.

Dari jawaban yang saya dapatkan saya juga bisa berasumsi bahwa tidak bisa kita benarkan dan tidak bisa kita salahkan asumsi-asumsi yang beredar karena semua orang memiliki hak untuk mengkritik sesuatu hal. apalagi ini adalah makanan sehari-hari para aktivis organisasi kemahasiswan. Namun disini tak ada yang perlu kita salahkan . berdiri di kaki sendiri adalah jalan yang terbaik sampai sekarang .

Baca Juga Berita :  (OPINI) Potensi Intelektual dan MBKM, Merdeka atau Terbajak?

Berangkat pada asumsi yang saya dapatkan , saya menganggap organisasi bukanlah sebagai boneka para pemangku kepentingan. Pemilik kepentingan dalam hal ini, birokrasi serta senior. Mengapa saya menentang organisasi kemahasiswaan adalah boneka, karena sebagai mahasiswa kan pastinya kita sudah tahu tujuan awal kita berorganisasi . bolehlah kita dianggap sebagai boneka namun yang kita implementasikan adalah suatu gerak yang berdasarkan kepentingan organisasi maupun yang dinaunginya. Karena semuanya dikembalikan pada diri sendiri. Perubahan diciptakan berawal dari diri sendiri bukan orang lain. Boleh memberi saran namun perlu kita filterisasi.

*Penulis adalah Agung Surya Salam yang merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar

Berita Terkait

[OPINI] Di Persimpangan Pilrek UNM: Catatan Kami Dari LK FIS-H
[OPINI] Ketika Penjaga Konstitusi Dipertanyakan: Mufak LK FIP di Ambang Kehilangan Legitimasi
[OPINI] Kampus Adalah Arena, Masa Depan Sedang Dipertaruhkan
[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 
[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi
[OPINI] Menjelang 30: Gen Z 1997 di Persimpangan Nikah, Situationship, dan Beban Berlapis
[OPINI] MENEBANG YANG HIJAU UNTUK MEMBANGUN YANG “KATANYA” HIJAU : SEBUAH KONTRADIKSI EKOLOGIS.
[OPINI] Nurani Indonesia: Sedalam Gus Dur, Seluas Habibie – Sosok Pemimpin yang Dirindukan
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 23:46 WITA

[OPINI] Di Persimpangan Pilrek UNM: Catatan Kami Dari LK FIS-H

Jumat, 31 Juli 2026 - 17:36 WITA

[OPINI] Ketika Penjaga Konstitusi Dipertanyakan: Mufak LK FIP di Ambang Kehilangan Legitimasi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:35 WITA

[OPINI] Kampus Adalah Arena, Masa Depan Sedang Dipertaruhkan

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:05 WITA

[Opini]Potret Perguruan Tinggi Saat Ini: Ketika Mahasiswa Tidak Berani Bertanya dan Tidak Sanggup Ketika Ditanya 

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:25 WITA

[OPINI] Invasi AI Influencer di Ranah Pemasaran: Efisiensi Tanpa Batas Korporasi atau Kematian Hubungan Manusiawi

Berita Terbaru

Grafis Pembagian Sesi PKKMB UNM 2026, (Foto: Dok. Profesi)

Informatif

Tips Maba Hadapi PKKMB, Cek Jadwal dan Siapkan Diri

Sabtu, 8 Agu 2026 - 00:01 WITA

Potret St. Aisyah Nur Fadillah Peraih 1st Runner Up Putri Kabupaten Pangkep, (Foto: Ist.)

Prestasi

Mahasiswi FBS Raih 1st Runner Up Putri Pangkep 2026

Jumat, 7 Agu 2026 - 23:28 WITA

Potret Maman Suryaman Dosen PBSI UNY saat Sampaikan Sambutan pada Pekan Pujangga, (Foto : Nur Hafizhah)

Agendasiana

Dosen PBSI UNY Soroti Peran Sastra dalam Menjaga Bahasa Ibu

Jumat, 7 Agu 2026 - 23:07 WITA

Potret Kerusakan Fasilitas di FMIPA UNM, Foto: (Dok. Profesi)

Profesiana

Dua Nama Utama Diduga Dalangi Kerusuhan FMIPA

Jumat, 7 Agu 2026 - 23:00 WITA