PROFESI-UNM.COM – Badan Kegiatan Mahasiswa Fakultas (BKMF) Teater Kampus (Terkam) Fakultas Seni dan Desain (FSD) Universitas Negeri Makassar (UNM) mencatatkan prestasi gemilang. Prestasi tersebut berupa 11 penghargaan ajang Festival Teater Mahasiswa Indonesia (FTMI) XIX yang bertempat di Kabupaten Soppeng, tanggal 19 hingga 21 Januari 2026
Ketua Umum BKMF Terkam FSD UNM, Indra Kirana, menegaskan capaian tersebut merupakan hasil dari kerja kolektif.
“11 penghargaan ini bukan sekadar kemenangan. Akan tetapi, pengakuan atas proses panjang, pengorbanan, dan kepercayaan satu sama lain dalam tim,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Indra menjelaskan, Terkam memulai proses kreatif karya dari riset tema dan perumusan gagasan. Setelah melakukan hal tersebut, langkah selanjutnya memasukkan kreatif karya ke dalam naskah.
“Kami membangun tubuh aktor, ritme, artistik, dan musikalitas secara paralel. Prosesnya terbuka, penuh diskusi, bongkar-pasang adegan, hingga menemukan bentuk yang paling jujur dan relevan,” jelasnya.
Menurut Indra, kekuatan utama karya Terkam terletak pada kesatuan visi antarelemen pertunjukan. Mulai dari akting, penyutradaraan, artistik, dan musikalitas yang berjalan dalam satu napas.
“Keberanian membaca realitas sosial dan mengolahnya menjadi bahasa panggung yang simbolik serta kontemporer menjadi ciri khas karya kami,” ungkapnya.
Dalam meraih pencapaian tersebut, Indra mengakui ada tantangan terbesar selama proses persiapan. Tantangan tersebut adalah menjaga konsistensi energi tim, karena hal itu mengorbankan waktu, fisik, dan mental.
“Menyatukan banyak kepala dengan ego artistik yang berbeda adalah ujian tersendiri. Akan tetapi, justru hal tersebut yang membuat tim ini menjadi matang,” ujarnya
Indra menilai FTMI XIX memberikan pelajaran penting bahwa kualitas karya lahir dari kesetiaan pada proses, bukan semata bakat.
“Kami belajar untuk lebih disiplin, terbuka terhadap kritik, dan berani mempertanggungjawabkan gagasan kepada publik,” ujarnya.
Indra berharap BKMF Terkam FSD terus berkembang sebagai ruang penciptaan dan pembelajaran, tanpa berhenti pada prestasi semata.
“Kami ingin terus memperluas eksplorasi artistik, memperkuat identitas estetik, dan menghadirkan karya yang kritis serta relevan dengan realitas,” tutup Indra. (*)
*Reporter: Nathaya Haura Maulidya Rini







